<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769</id><updated>2012-02-16T11:54:35.399-08:00</updated><category term='Jihad - Jihad adalah Sarana Tegaknya Agama Allah'/><category term='Kristologi - Radikalisme Injil'/><category term='Jihad - Kebahagiaan Berjihad'/><category term='Jihad - Larangan Melarikan Diri dari Barisan Pertahanan'/><category term='Ekonomi Syariah - BMT Yasin Al Barraq'/><category term='Hukum Islam - Tahukah Anda Apa itu Hudud?'/><category term='Ekonomi Syariah - Berakhirnya Usaha Mudharabah'/><category term='Ekonomi Syariah - Rukun Al Mudharabah Rukun Kedua'/><category term='Artikel Islam - Tentang rezeki'/><category term='Mujahidah'/><category term='Hukum Islam - Kekeliruan yang Muncul Dalam Fatwa Kontemporer 1'/><category term='Ekonomi Syariah - Artikel - Awas Korupsi Mengintai'/><category term='Pahlawan Islam'/><category term='Ekonomi Syariah - Denda dalam Kacamata Syariah'/><category term='Artikel Islam - Tentang Sabar'/><category term='Ekonomi Syariah - Rukun Al Mudharabah  Rukun Ketiga'/><category term='Ekonomi Syariah - Jenis Al Mudhorabah'/><category term='Jihad - Dakwah dan Jihad Jalan Perjuangan Thaifah Manshurah'/><category term='Ekonomi Syariah - Hukum Al Mudharabah Dalam Islam'/><category term='Ekonomi Syariah - Mengenal Konsep Mudharabah'/><category term='Nikah'/><category term='Artikel Islam - Ulasan Lengkap Seputar Bangkai'/><category term='Ekonomi Syariah - Disyariatkannya Al Mudharabah'/><category term='Jihad - 39 Cara Membantu Mujahidin'/><category term='Tarbiyah - Syahadatain 3 - Ma&apos;na Ilah'/><category term='Jihad - Berdo Pada Allah Agar Memberikan Mati Syahid'/><category term='Hukum Islam - Fikih Jinayat (Tindak Pidana)'/><category term='Kristologi - Wawancara Hj.Irene Handono'/><category term='Jihad - 20 Muwashofat Sang Pejuang'/><category term='Tarbiyah - Pentingnya Tarbiyah Islamiyah'/><category term='Unduh-Software Islamic'/><category term='Nikah - Bolehkah Menikah dengan Orang Kafir?'/><category term='Nasional - Papua - Kristen'/><category term='Unduh-Ebook Jihad'/><category term='Unduh-Audio Kajian Islam'/><category term='Ekonomi Syariah - Jual Beli Sistem Panjar'/><category term='Jihad - Jangan Nodai Keagungan Jihad'/><category term='Seri Tauhid - Tinjauan Kekafiran Demokrasi'/><category term='Fiqih - Seri Kaidah Fikih (Kaidah Pertama)'/><category term='Ekonomi Syariah - Rukun Al Mudharabah Rukun Pertama'/><category term='Unduh-Audio Kajian Muslimah'/><category term='Unduh-Ebook Tarbiyah'/><category term='Jihad - Berjihadlah dengan Hartamu'/><category term='Unduh-Audio Pintu-Pintu Rejeki'/><category term='Tarbiyah - Syahadatain - Madludlu Syahadatain'/><category term='Ekonomi Syariah - Artikel - Benarkah Harta Itu Fitnah'/><category term='Kisah Muallaf'/><title type='text'>YASIN AL BARRAQ</title><subtitle type='html'>Menuju Mardhatillah.  Kembali dalam keadaan Ridha dan di Ridhai</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>63</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-7977883937800581746</id><published>2010-06-22T18:08:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T18:09:20.966-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Syariah - Jual Beli Sistem Panjar'/><title type='text'>Jual Beli Sistem Panjar</title><content type='html'>Setiap orang tidak dapat lepas dari orang lain  yang menutupi kebutuhannya. Interaksi antar-individu manusia adalah  perkara yang penting yang mendapatkan perhatian besar dalam Islam.  Khususnya, yang berhubungan dengan pertukaran harta. Oleh karena itu,  Allah berfirman, &lt;p class="arab" style="text-align: right;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ  أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ  إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan  harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan  yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu  membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”&lt;/em&gt; (Qs.  An-Nisa’: 29)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjelaskan pertukaran harta bahwa  dapat dilakukan dengan perniagaan yang berasaskan saling suka di antara  para transaktornya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dewasa ini, banyak sekali berkembang sistem perniagaan yang perlu  dijelaskan hukum syariatnya. Apalagi, di masa ini kaum muslimin sudah  menjauh dari agamanya, dan ditambah lagi dengan ketidakmengertian mereka  terhadap syariat Islam.  Salah satu sistem perniagaan tersebut adalah  jual-beli dengan panjar atau DP.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengertiannya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Panjar (DP), dalam bahasa Arab, adalah “’urbun” (العربون). Kata ini  memiliki padanan kata (sinonim) dalam bahasa Arab, yaitu “urban”  (الأربان), “’urban” (العربان), dan “urbun” (الأربون).[1] Secara bahasa  artinya yang kata jadi transaksi dalam jual-beli.[2]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bentuk jual-beli ini dapat diberi gambaran sebagai berikut: Sejumlah  uang yang dibayarkan dimuka oleh seseorang pembeli barang kepada si  penjual. Bila transaksi itu mereka lanjutkan, maka uang muka itu  dimasukkan ke dalam harga pembayaran. Kalau tidak jadi, maka menjadi  milik si penjual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Atau seorang pembeli menyerahkan sejumlah uang dan menyatakan,  “Apabila saya ambil barang tersebut maka ini adalah bagian dari nilai  harga, dan bila tidak jadi saya ambil maka uang (DP) tersebut  untukmu.[3] Atau seorang membeli barang dan menyerahkan satu dirham atau  lebih kepada penjualnya, dengan ketentuan apabila si pembeli mengambil  barang tersebut maka uang panjar tersebut dihitung pembayaran, dan bila  gagal maka itu milik penjual. [4]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sistem jual-beli ini dikenal dalam masyarakat kita dengan “pembayaran  DP” atau “uang jadi”.  Wallahu a’lam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hukum Jual-Beli Dengan DP&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam permasalahan ini, para ulama berbeda menjadi dua pendapat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendapat pertama: &lt;/strong&gt;Jual-beli dengan uang muka  (panjar) ini tidak sah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah,  dan Syafi’iyyah. Al-Khathabi menyatakan, “Para ulama berselisih  pendapat tentang kebolehan jual-beli ini. Malik dan Syafi’i menyatakan  ketidaksahannya, karena adanya hadits [5] dan karena terdapat syarat  fasad dan al-gharar.[6] Hal ini juga termasuk dalam kategori memakan  harta orang lain dengan batil. Demikian juga ashhabul ra’yi (mazhab Abu  Hanifah, pen) menilainya tidak sah. [7]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Qudamah menyatakan, “Ini pendapat imam Malik, asy-Syafi’I, dan  ashhabul ra’yi, serta diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas dan al-Hasan  al-Bashri. [8]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dasar argumentasi mereka di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; hadits Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya,  bahwa ia berkata,&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" style="text-align: right;"&gt;نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ&lt;br /&gt;قَالَ مَالِكٌ وَذَلِكَ فِيمَا نَرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنْ يَشْتَرِيَ  الرَّجُلُ الْعَبْدَ أَوْ يَتَكَارَى الدَّابَّةَ ثُمَّ يَقُولُ أُعْطِيكَ  دِينَارًا عَلَى أَنِّي إِنْ تَرَكْتُ السِّلْعَةَ أَوْ الْكِرَاءَ فَمَا  أَعْطَيْتُكَ لَكَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli  dengan sistem uang muka. Imam Malik menyatakan, “Dan ini adalah yang  kita lihat, wallahu a’lam, seseorang membeli budak atau menyewa hewan  kendaraan kemudian menyatakan, ‘Saya berikan kepadamu satu dinar, dengan  ketentuan apabila saya gagal membeli atau gagal menyewanya maka uang  yang telah saya berikan itu menjadi milikmu.’”&lt;/em&gt; [9]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua, &lt;/strong&gt;jenis jual-beli semacam itu termasuk memakan  harta orang lain dengan cara batil, karena disyaratkan bagi si penjual  tanpa ada kompensasinya.[10] Memakan harta orang lain adalah haram,  sebagaimana firman Allah,&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" style="text-align: right;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ  أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ  إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan  harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan  yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Janganlah pula kamu  membunuh dirim. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” &lt;/em&gt;(Qs.  An-Nisa`: 29)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; karena dalam jual-beli itu ada dua syarat  batil: syarat memberikan uang panjar dan syarat mengembalikan barang  transaksi dengan perkiraan salah satu pihak tidak ridha. [11]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hukumnya sama dengan hak pilih terhadap hal yang tidak diketahui  (khiyar al-majhul). Kalau disyaratkan harus ada pengembalian barang  tanpa disebutkan waktunya, jelas tidak sah. Demikian juga apabila  dikatakan: Saya punya hak pilih. Kapan mau akan saya kembalikan dengan  tanpa dikembalikan uang bayarannya.[12] Ibnu Qudamah menyatakan: Inilah  Qiyas (analogi). [13]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat ini dirajihkan oleh asy-Syaukani dalam pernyataan beliau,  “Yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama, karena hadits ‘Amru bin  Syu’aib telah ada dari beberapa jalan periwayatan yang saling  menguatkan. Juga karena hal ini mengandung larangan dan hadits yang  mengandung larangan lebih rajih daripada hadits yang membolehkannya,  sebagaimana telah jelas dalam ushul fikih…. ‘Ilat (sebab hukum) larangan  ini adalah bahwa jual-beli ini mengandung dua syarat yang fasid, salah  satunya adalah syarat menyerahkan (uang muka) secara gratis kepada  penjual harta apabila pembeli gagal membelinya. Yang kedua adalah syarat  mengembalikan barang kepada penjual, yaitu apabila tidak terjadi  keridhaan untuk membelinya. [14]&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua: Jual-beli ini diperbolehkan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah pendapat Mazhab Hambaliyyah, dan dalil tentang kebolehan  jual-beli ini diriwayatkan dari Umar, Ibnu Umar, Sa’id bin al-Musayyib,  dan Muhammad bin Sirin. [15]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Khathabi menyatakan, “Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa  beliau memperbolehkan jual-beli ini, dan juga diriwayatkan dari Umar.  Ahmad cenderung mengambil pendapat yang membolehkannya dan menyatakan,  ‘Aku tidak akan mampu menyatakan sesuatu sedangkan ini adalah pendapat  Umar &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;, yaitu tentang kebolehannya.’ Ahmad pun  melemahkan (mendhaifkan) hadits larangan jual-beli ini, karena (riwayat  haditsnya) terputus.  [16]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dasar argumentasi mereka adalah:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; atsar yang berbunyi,&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" style="text-align: right;"&gt;عَنْ نَفِعِ بْنِ الحارث,  أَنَّهُ اشْتَرَى لِعُمَرَ دَارَ  السِّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ  أُمَيَّةَ, فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ , وَ إِلاَّ فَلَهُ كَذَا وَ كَذَا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Diriwayatkan bahwa Nafi bin al-Harits pernah membelikan sebuah  bangunan penjara untuk Umar dari Shafwan bin Umayyah, (dengan ketentuan)  apabila Umar suka. Bila tidak, maka Shafwan berhak mendapatkan uang  sekian dan sekian.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Atsram berkata, “Saya bertanya kepada Ahmad, ‘Apakah Anda  berpendapat demikian?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang harus kukatakan? Umar &lt;em&gt;radhiyallahu  ‘anhu&lt;/em&gt; telah berpendapat demikian.’” [17]&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; hadits Amru bin Syuaib adalah hadits yang lemah,  sehingga tidak dapat dijadikan sandaran dalam melarang jual-beli ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; panjar ini adalah kompensasi dari penjual  yang menunggu dan menyimpan barang transaksi selama beberapa waktu.  Tentu saja ia akan kehilangan sebagian kesempatan berjualan. Ucapan  orang yang mengatakan bahwa panjar itu telah dijadikan syarat bagi  penjual tanpa ada imbalannya adalah ucapan yang tidak sah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keempat, tidak sahnya qiyas atau analogi jual-beli ini dengan  al-khiyar al-majhul (hak pilih terhadap hal yang tidak diketahui),  karena syarat dibolehkannya panjar ini adalah dibatasinya waktu  menunggu. Dengan dibatasinya waktu pembayaran, maka batallah analogi  tersebut, dan hilangnya sisi yang dilarang dari jual-beli tersebut.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Para Ulama Zaman Ini&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syekh Abdul Aziz bin Baz, mantan Mufti Agung Saudi Arabia, pernah  ditanya, “Apa hukum melaksanakan jual-beli sistem panjar (al-‘urbun)  apabila jual-belinya belum sempurna. Bentuknya adalah dua orang  melakukan transaksi jual-beli. Apabila jual-beli sempurna maka pembeli  menyempurnakan nilai pembayarannya, dan bila tidak jadi maka penjual  mengambil DP (panjar) tersebut dan tidak mengembalikannya kepada  pembeli?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau menjawab, “Tidak mengapa mengambil DP (uang panjar) tersebut  dalam pendapat yang rajih dari dua pendapat ulama, apabila penjual dan  pembeli telah sepakat untuk itu dan jual-belinya tidak dilanjutkan  (tidak disempurnakan).” [18]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fatwa Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta (Komite  Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)  mengeluarkan beberapa fatwa.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;1. Fatwa no. 9388, yang berbunyi:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt; Bolehkah seorang penjual mengambil uang  muka (‘urbun) dari pembeli? Dalam keadaan pembeli gagal membeli atau  mengembalikannya, apakah penjual berhak secara hukum syariat mengambil  uang muka tersebut untuk dirinya tanpa mengembalikannya kepada pembeli?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Jawaban: &lt;/strong&gt;Apabila realitanya demikian maka dibolehkan baginya  (penjual) untuk memiliki uang muka tersebut untuk dirinya dan tidak  mengembalikannya kepada pembeli, menurut pendapat yang rajah, apabila  keduanya telah sepakat untuk itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fatwa ditandatangani oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz, Abdurrazaq  ‘Afifi, dan Abdullah bin Ghadayan.  [19]&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;2. Fatwa no. 19637 menjawab pertanyaan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-’urbun sudah dikenal sebagai uang muka sedikit yang diserahkan  pada waktu membeli untuk tanda jadi, hingga menjadikan status barang  dagangan tersebut menggantung. Apa hukum jual-beli tersebut? Banyak dari  para penjual yang mengambil harta ‘urbun (panjar) ketika pelunasan  pembayaran gagal. Bagaimana hukumnya?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;/strong&gt; Jual-beli dengan DP (’urbun) diperbolehkan. Jual-beli  ini, yaitu seorang pembeli membawa sejumlah uang yang lebih sedikit dari  nilai harga barang tersebut kepada penjual atau agennya (wakilnya)  setelah selesai transaksi, dan uang tersebut untuk jaminan barang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini dilakukan agar pembeli tersebut tidak mengambilnya, dengan  ketentuan: apabila pembeli tersebut mengambilnya maka uang muka tersebut  terhitung dalam bagian pembayaran, dan bila tidak mengambilnya maka  penjual berhak mengambil uang muka tersebut dan memilikinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jual-beli sistem panjar (’urbun) ini sah, baik batas waktu pembayaran  sisanya telah ditentukan atau belum ditentukan, dan penjual memiliki  hak secara syar’i untuk menagih pembeli agar melunasi pembayaran setelah  jual-beli telah sempurna dan serah terima barang telah terjadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebolehan jual-beli ‘urbun ini ditunjukkan oleh perbuatan Umar bin  al-Khaththab. Imam Ahmad menyatakan tentang jual-beli panjar ini,  “Boleh.” Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pun membolehkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sa’id bin al-Musayyib dan Muhammad bin Sirin menyatakan,  “Diperbolehkan bila ia tidak ingin untuk mengembalikan barangnya dan  mengembalikan bersamanya sejumlah harta.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi  wa sallam&lt;/em&gt; yang berbunyi,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ  الْعُرْبَانِ&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli dengan  sistem uang muka.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;adalah hadits yang lemah (dhaif). Imam Ahmad dan selainnya telah  mendhaifkannya, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ditandatangani oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz, Abdurrazaq ‘Afifi, dan  Abdullah bin Ghadayan.  [20]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Majelis Fikih Islam, pada seminar kedelapan, telah selesai  berkesimpulan tentang dibolehkannya jual-beli panjar, dan berikut ini  ketetapan-ketetapan yang mereka buat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama.&lt;/strong&gt; Yang dimaksud dengan jual-beli sistem  panjar adalah menjual barang, lalu si pembeli memberi sejumlah uang  kepada si penjual, dengan syarat bila ia jadi mengambil barang itu maka  uang muka tersebut termasuk dalam harga yang harus dibayar. Namun kalau  ia tidak jadi membelinya, maka sejumlah uang itu menjadi milik penjual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Transaksi ini, selain berlaku untuk jual-beli juga berlaku untuk  sewa-menyewa, karena menyewa berarti membeli fasilitas. Di antara  jual-beli, kecuali jual-beli yang memiliki syarat, harus ada serah  terima pembayaran atau barang transaksi di lokasi akad (jual-beli  as-salam) atau serah terima keduanya (barter komoditi riba fadhal dan  money changer).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam transaksi jual-beli murabahah tidak berlaku bagi orang yang  mengharuskan pembayaran pada waktu yang dijanjikan, namun hanya pada  fase penjualan kedua yang dijanjikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua.&lt;/strong&gt; Jual-beli sistem panjar dibolehkan bila  dibatasi waktu menunggunya secara pasti, dan panjar itu dimasukkan  sebagai bagian pembayaran, bila sudah dibayar lunas. Juga menjadi milik  penjual bila si pembeli tidak jadi melakukan transaksi pembelian. [21]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, perlu diingat bahwa bila penjual mengembalikan uang muka  (panjar) tersebut kepada pembeli ketika gagal menyempurnakan  jual-belinya, itu lebih baik dan lebih besar pahalanya disisi Allah,  sebagaimana disabdakan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Barangsiapa yang berbuat iqalah dalam jual-belinya kepada seorang  muslim, maka Allah akan bebaskan ia dari kesalahan dan dosanya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Iqalah dalam jual-beli dapat digambarkan dengan seorang membeli  sesuatu dari seorang penjual, kemudian pembeli ini menyesal membelinya,  ada kala karena dia mengetahui bahwa akan sangat rugi bila dia  membelinya, dia sudah tidak butuh lagi, atau dia tidak mampu  melunasinya, lalu pembeli itu mengembalikan barangnya kepada penjual dan  penjualnya menerimanya kembali (tanpa mengambil sesuatu dari pembeli).  [22]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian seputar permasalahan jual-beli dengan pemberian uang muka.  Mudah-mudahan bermanfaat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;=========&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[1] Diambil dari catatan penulis dari keterangan Syekh Dr. Abdulqayum  ash-Sahibani, dalam &lt;em&gt;pelajaran kitab Nailul Authar,&lt;/em&gt; di  Universitas Islam Madinah, pada tanggal 11-6- 1418 H, dan ada juga dalam  &lt;em&gt;al-Mughni&lt;/em&gt; karya Ibnu Qudamah: 6/331.&lt;br /&gt;[2] Lihat &lt;em&gt;al-Qamus al-Muhith&lt;/em&gt; karya al-Fairuzabadi, cetakan  kelima, tahun 1416 H, Muassasah ar-Risalah, hlm. 1568.&lt;br /&gt;[3] Catatan penulis dari keterangan Syekh Abdulqayyum.&lt;br /&gt;[4]&lt;em&gt; Al-Mughni&lt;/em&gt;: 6/331.&lt;br /&gt;[5] Yaitu hadits Amru bin Syu’aib mendatang (penulis).&lt;br /&gt;[6] Tentang al-gharar telah penulis menjelaskan pada rubrik Fiqih dalam &lt;em&gt;majalah  as-Sunnah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;[7] &lt;em&gt;Ma’alim Sunan Syarah Sunan Abu Daud&lt;/em&gt;, yang dicetak pada  footnote Sunan Abu Daud: 3/768.&lt;br /&gt;[8] &lt;em&gt;Al-Mughni&lt;/em&gt;: 6/331.&lt;br /&gt;[9] Diriwayatkan oleh Imam Maalik dalam &lt;em&gt;al-Muwaththa&lt;/em&gt;: 2/609,  Ahmad dalam &lt;em&gt;Musnadnya&lt;/em&gt; no. 6436 (2/183), Abu Daud no. 3502  (3/768), dan Ibnu Majah no. 3192. Lafalnya adalah lafal Abu Daud, namun  sanadnya lemah. Hadits ini dinilai dhaif (lemah) oleh Syekh al-Albani  dalam &lt;em&gt;kitab Dhaif Sunan&lt;/em&gt; Abu Daud no. 3502 dan Dhaif Sunan Ibnu  Majah: 487/3192, &lt;em&gt;al-Misykah&lt;/em&gt; 2864, dan&lt;em&gt; Dhaif al-Jami’  ash-Shaghir &lt;/em&gt;6060.&lt;br /&gt;[10] Lihat: &lt;em&gt;Al-Mughni&lt;/em&gt;: 6/331.&lt;br /&gt;[11] Lihat: &lt;em&gt;Shahih Fiqhus Sunnah&lt;/em&gt;: 4/411.&lt;br /&gt;[12] Lihat:&lt;em&gt; ibid.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;[13] &lt;em&gt;Ibid.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;[14] &lt;em&gt;Nailul Authar&lt;/em&gt;: 6/289.&lt;br /&gt;[15] Lihat &lt;em&gt;Al-Mughni&lt;/em&gt;: 6/331.&lt;br /&gt;[16]&lt;em&gt; Ma’alim Sunan Syarah Sunan Abu Daud&lt;/em&gt; yang dicetak pada  footnote sunan Abu Daud: 3/768.&lt;br /&gt;[17] Kisah ini diriwayatkan oleh al-Atsram dengan sanadnya, lihat:&lt;em&gt;  al-Mughni&lt;/em&gt;: 6/331.&lt;br /&gt;[18] &lt;em&gt;Fiqh wa Fatawa al-Buyu’&lt;/em&gt;, disusun oleh Asyraf Abdul  Maqshud, hlm. 291, dinukil dari &lt;em&gt;Shahih Fiqhus Sunnah&lt;/em&gt;: 4/412.&lt;br /&gt;[19] &lt;em&gt;Fatawa Lajnah Daimah&lt;/em&gt;: 13/132.&lt;br /&gt;[20] &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;: 13/133–134.&lt;br /&gt;[21] Dinukil dari kitab &lt;em&gt;Ma La Yasa’u at-Tajira Jahluhu,&lt;/em&gt; karya  Prof. Dr. Abdullah al-Mushlih dan Prof. Dr. Shalah ash-Shawi, yang  diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul &lt;em&gt;Fiqih Ekonomi  Keuangan Islam&lt;/em&gt;, terbitan Darul Haq, hlm. 134 (edisi terjemah).&lt;br /&gt;[22] Lihat:&lt;em&gt; ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud&lt;/em&gt;: 9/237.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel: &lt;a rel="nofollow" title="KonsultasiSyariat.Com" target="_blank" href="http://konsultasisyariat.com/"&gt;KonsultasiSyariat.Com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-7977883937800581746?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7977883937800581746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7977883937800581746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/jual-beli-sistem-panjar.html' title='Jual Beli Sistem Panjar'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-2119682183827650642</id><published>2010-06-13T19:38:00.002-07:00</published><updated>2010-06-13T19:39:29.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih - Seri Kaidah Fikih (Kaidah Pertama)'/><title type='text'>Seri Kaidah Fikih (Kaidah Pertama)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kaidah Pertama: Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tidaklah memerintahkan suatu perkara, kecuali perkara yang murni atau rajih maslahatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya pun tidaklah melarang suatu perkara, kecuali perkara yang murni atau rajih mafsadatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah ini mencakup seluruh syariat agama ini. Tidaklah ada sedikit pun dari hukum syariat  yang keluar dari kaidah ini. Tidak ada perbedaan antara yang berkaitan dengan pokok atau pun cabang dari agama ini. Sama saja, baik berhubungan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala atau pun yang berhubungan dengan hak para hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, serta Allah melarangmu melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An-nahl: 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidaklah tersisa satu keadilan pun dan tidak pula ihsan dan menjalin silaturahim, kecuali telah Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan dalam ayat yang mulia ini. Tidak pula ada sedikit pun kekejian dan kemungkaran yang berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak pula kezaliman kepada makhluk dalam darah, harta, dan kehormatan mereka kecuali telah Allah Subhanahu wa Ta’ala larang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah memperingatkan para hamba-Nya untuk memperhatikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut beserta dengan kebaikan dan manfaat yang ada di dalamnya, sehingga mereka melaksanakan perintah tersebut. Serta, supaya memperhatikan keburukan dan madharat yang ada dalam larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut, sehingga mereka menjauhi larangan-larangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.’ Dan (katakanlah), ‘Luruskanlah muka (diri)-mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.’” (Qs. Al-A’raf: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini telah mengumpulkan pokok-pokok perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala,, dan menjelaskan tentang kebaikan perintah-perintah tersebut. Sebagaimana ayat setelahnya menjelaskan tentang pokok-pokok perkara yang haram, dan memperingatkan tentang kejelekan perkara-perkara haram tersebut. Yaitu, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَالاَتَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (Qs. Al-A’raf: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang lain, tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk bersuci sebelum melaksanakan shalat, yaitu dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدُُ مِّنكُم مِّنَ الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, serta jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (Qs. Al-Maidah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dua macam thaharah, yaitu thaharah dari hadats kecil dan hadats besar dengan menggunakan air, dan jika tidak ada air atau karena sakit maka bersuci dengan menggunakan debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al-Maidah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa perintah-perintah-Nya yang agung termasuk sebesar-besar nikmat-Nya di dunia ini, dan nikmat tersebut berkaitan erat dengan nikmat-Nya nanti di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, serta hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al-Isra’: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ مِمَّآ أَوْحَى إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu.” (Qs. Al-Isra’: 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَاحَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَتَقْتُلُوا أُوْلاَدَكُم مِّنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَتَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ )151( وَلاَتَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَنُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْكَانَ ذَاقُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )152( وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan hal-hal yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapakmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Serta, janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Serta, janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia dewasa. Serta, sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Serta, apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Serta, janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.’” (Qs. Al-An’am: 151–153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا (36) الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَآءَاتَاهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا (37) وَالَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَآءَ النَّاسِ وَلاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَبِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَآءَ قَرِينًا (38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Serta, berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (yaitu) orang-orang yang kikir, serta menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami pun telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. Juga orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (Qs. An-Nisa’: 36–38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah kandungan ayat di atas, berupa perintah-perintah yang kebaikan serta maslahatnya, yang lahir maupun yang batin, sampai pada puncak kebaikan, sampai pada puncak keadilan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah juga larangan-larangan tersebut, yang sangat besar bahayanya, sangat besar kejahatannya, serta tidak terhitung mafsadat yang ditimbulkannya. Ini semua termasuk sebesar-besar mukjizat yang ada dalam al-Quran, dan juga mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semisal dengan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman ketika menyifati hamba-hamba-Nya yang utama dan terpilih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعِبَادُ الرَّحْمَانِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.” (Qs. Al-Furqan: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُوْلَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَاصَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلاَمًا )75( خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا .76&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (Qs. Al-Furqan: 75–76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Mukminun: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelanjutan ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa sifat hamba-Nya yang beriman, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُوْلاَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ.10( الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ )11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-Mukminun: 10–11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّآئِمِينَ وَالصَّآئِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أّعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al-Ahzab: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sifat-sifat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan tentang hamba-hamba-Nya yang terpilih tersebut telah dimaklumi kebaikannya, dan telah dipahami kesempurnaan serta manfaatnya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Qs. Al-Maidah: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh bagian yang ada dalam syariat ini, baik berupa ibadah, muamalah, perintah untuk menunaikan hak yang bermacam-macam, semuanya merupakan cabang dan perincian dari penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat tersebut. Demikian pula, seluruh perincian yang disebutkan oleh para ulama, berupa  kebaikan dan manfaat yang ada dalam perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kejelekan dan mafsadat yang ditimbulkan dari perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, semuanya masuk dalam kaidah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh kerana itulah, para ahli fikih menjelaskan illat (sebab) terhadap hukum-hukum yang diperintahkan dengan kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya. Serta, sebab perkara-perkara yang dilarang dengan kejelekan-kejelakan yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, salah satu di antara empat dasar hukum Islam adalah qiyas. Qiyas merupakan manifestasi dari keadilan, dan metode untuk mengetahui keadilan. Qiyas pun merupakan mizan (timbangan) sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهُ الَّذِي أَنزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan).” (Qs. Asy-Syura: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qiyas merupakan upaya mengumpulkan hal-hal yang serupa dalam kebaikannya, atau hal-hal yang serupa dalam kejelekannya, kemudian diberikan satu hukum. Qiyas juga membedakan hal-hal yang saling berseberangan dan saling berbeda dengan hukum yang berbeda pula, sesuai dengan karakteristik masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maslahatnya murni dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mafsadatnya murni dapat diketahui dari beberapa contoh berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar hukum-hukum dalam syariat ini mempunyai kemaslahatan yang murni. Keimanan dan tauhid merupakan kemaslahatan yang murni, kemaslahatan untuk hati, ruh, badan, kehidupan dunia dan akhirat. Adapun kesyirikan dan kekufuran bahaya dan mafsadatnya murni, yang menyebabkan keburukan bagi hati, badan, dunia, dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran itu maslahatnya murni, sedangkan kedustaan adalah sebaliknya. Oleh karena itu, jika muncul maslahat yang lebih besar dari mafsadat yang ditimbulkan dari beberapa macam dusta, seperti dusta dalam peperangan dan dusta dalam rangka mendamaikan manusia, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan rukhshah (keringanan) dalam hal ini dikarenakan lebih dominannya kebaikan yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, keadilan mempunyai maslahat yang murni, sedangkam kezaliman -–seluruhnya– adalah mafsadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun perjudian dan minum khamr, mafsadat dan bahayanya lebih banyak daripada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَآإِثْمُُ كَبِيرُُ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’” (Qs. Al-Baqarah: 219)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, jika muncul maslahat-maslahat yang besar dari melaksanakan sebagaian perkara perjudian, seperti mengambil hadiah dari perlombaan pacuan kuda, unta, atau lomba memanah, maka hal-hal seperti ini diperbolehkan dikarenakan di dalamnya terdapat upaya untuk persiapan jihad, yang dengannya agama menjadi tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mempelajari sihir, maka sihir hanyalah mafsadat semata-mata. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.” (Qs. Al-Baqarah: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, diharamkannya bangkai, darah, daging babi, dan semisalnya yang mengandung mafsadat dan bahaya. Jika maslahat yang besar mengalahkan mafsadat yang ditimbulkan dari memakan makanan yang diharamkan tersebut, yaitu disebabkan keadaan darurat untuk bisa bertahan hidup, maka diperbolehkan memakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ ِّلإِثْمٍ فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمُُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Maidah: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok dan kaidah syariat yang agung ini dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa ilmu-ilmu modern, dan pekerjaan-pekerjaan di masa sekarang ini, serta bermacam-macam penemuan baru yang bermanfaat bagi manusia dalam urusan agama dan dunia meraka, adalah termasuk perkara yang diperintahkan dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sekaligus merupakan kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para hamba-Nya. Hal ini dikarenakan, di dalamnya terdapat manfaat yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan realisasi kesempurnaan nikmat dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, adanya telegram beserta jenis-jenisnya, industri-industri, macam-macam penemuan baru, merupakan hal-hal yang sangat sesuai dengan implementasi kaidah ini. Perkara-perkara tersebut, sebagiannya masuk dalam kewajiban, sebagiannya lagi masuk dalam perkara-perkara yang sunnah, dan sebagiannya lagi masuk dalam perkara yang mubah, sesuai dengan buah yang dihasilkannya dan amalan-amalan yang muncul darinya. Sebagaimana perkara-perkara tersebut juga bisa masuk dalam kaidah syar’iyyah yang tercabang dari kaidah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: EkonomiSyariat.Com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-2119682183827650642?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2119682183827650642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2119682183827650642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/seri-kaidah-fikih-kaidah-pertama.html' title='Seri Kaidah Fikih (Kaidah Pertama)'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-7516666003673963503</id><published>2010-06-13T19:38:00.001-07:00</published><updated>2010-06-13T19:38:27.753-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah - Bolehkah Menikah dengan Orang Kafir?'/><title type='text'></title><content type='html'>Pernikahan dalam Islam bertujuan untuk membangun keluarga yang berada dalam naungan cinta. Keluarga adalah bagian kecil dari masyarakat yang harus dipersiapkan untuk membentuk masyarakat yang baik. Karena itulah, kita lihat Islam memberikan perhatian dalam mewujudkan faktor penyebab yang membantu terciptanya hal ini. Bentuk perhatian ini dapat terlihat dari hukum syariat yang ditetapkan dalam pembangunan keluarga, nasihat, anjuran, serta bimbingan dalam merealisasikan kehidupan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika percampuran kaum muslimin dengan kafir di masa kiwari ini menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan, kepentingan di antara mereka sangat erat berkaitan dengan sebab pergaulan bebas tersebut. Tentunya, hal ini dapat mengakibatkan munculnya hubungan yang terus-menerus dan saling mempengaruhi di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat islam memiliki konsep yang paripurna dalam hubungan antar umat beragama yang dapat menjaga keselamatan akidah dan kepribadian umatnya, baik bagi masyarakat maupun individu. Konsep ini harus diterapkan kaum muslimin yang ingin selamat dan menyelamatkan lingkungannya dari kerusakan dan kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini semakin penting dengan sedikitnya jumlah kaum muslimin yang mengerti syariat, serta adanya propaganda pluralisme yang mengusung pemikiran kesamaan agama. Akibatnya, lambat laun hilanglah akidah al-wala` wal bara` yang merupakan satu pokok akidah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara  fenomena yang muncul akibat hal ini adalah pernikahan dengan orang non-muslim (kafir) yang sudah merebak di masyarakat kita. Ada yang disebabkan ketidaktahuan akan syariat Islam berkaitan dengan pernikahan beda agama, serta ada pula yang sengaja untuk mengaburkan ajaran islam dan memuluskan tersebarnya pemikiran “pluralisme” di tengah masyarakat. Karenanya, konsep Islam dalam hal ini sangat perlu untuk dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Orang Kafir Itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kafir, dalam syariat Islam, adalah gelar untuk umat non-muslim, yang terdiri dari kaum musyrikin dan ahli kitab, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang bukti yang nyata kepada mereka.” (Qs. al-Bayyinah: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pernikahan dengan orang kafir mencakup pernikahan dengan kaum musyrikin dan pernikahan dengan ahli kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikahi Wanita Musyrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim dilarang menikahi wanita musyrik, baik merdeka maupun budak, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (Qs. al-Baqarah: 221) [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga ditegaskan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” (Qs. al-Mumtahanah: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setelah turun ayat ini, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceraikan dua istrinya yang ia nikahi ketika masih musyrik.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah menyatakan, “Seluruh orang kafir, selain ahli kitab, seperti orang yang menyembah patung, batu, pohon, dan hewan yang mereka anggap baik, maka tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang pengharaman wanita dan sembelihan mereka.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikahkan Wanita Muslimah dengan Orang Kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilarang menikahkan muslimah dengan orang kafir dalam semua bentuk kekufurannya, baik orang Yahudi, Nasrani, penyembah berhala (paganis), atau orang komunis. Hal tersebut disebabkan, mereka tidak diperbolehkan menikahi wanita muslimah, walaupun muslimah tersebut seorang fasik. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, budak yang mukmin lebih baik dari orang-orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran.” (Qs. al-Baqarah: 221)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa pengertiannya adalah “janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik hingga mereka beriman”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga dipertegas dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perempuan yang beriman datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Lalu, jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidaklah halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidaklah halal bagi mereka.” (Qs. al-Mumtahanah: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah menyatakan, “Ayat ini berisi pengharaman kaum mukminat atas orang-orang kafir.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk mempertahankan status pernikahan mereka dengan orang kafir. Tentunya, lebih tidak boleh lagi bila memulainya dengan pernikahan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun secara logika, tentang pelarangan ini, disampaikan oleh Syekh Ibnu Utsaimin dalam pernyataan beliau, “Adapun dalil nazhari (dalil akal), karena tidak mungkin (baik) seorang muslimah berada di bawah kekuasaan suami kafir, dan suami adalah sayyid (pemimpin), sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاسُتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِن دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak, dan keduanya mendapati suami wanita itu di muka pintu.” (Qs. Yusuf: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عَلَيْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertakwalah kepada Allah berkaitan dengan wanita, karena mereka adalah tawanan kalian.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikahi Wanita Ahli Kitab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, dalam surat al-Baqarah di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang seorang muslim menikahi wanita musyrik, namun mengecualikannya dengan wanita ahli kitab dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini, dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari kalangan kaum mukminat dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik.” (Qs. al-Maidah: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Ja’far ath-Thabari menyatakan, “Pendapat yang paling rajih tentang tafsir ayat (221 dari al-Baqarah –pen) adalah pendapat Qatadah, yang menyatakan bahwa yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya “وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ” adalah wanita musyrik selain ahli kitab. Ayat ini adalah umum secara zahirnya, namun khusus, tidak ada yang di-“mansukh” darinya sedikit pun, dan wanita ahli kitab tidak termasuk di dalamnya. Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalalkan dengan firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk kaum muslimin menikahi wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari ahli kitab seperti menghalalkan wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari kaum mukminat.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dasar ayat ini, para ulama membolehkan seorang muslim menikahi wanita ahli kitab yang merdeka. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qudamah menyatakan, “Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang kehalalan wanita merdeka ahli kitab. Di antara yang diriwayatkan (menikahi mereka) adalah Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, Utsman radhiyallahu ‘anhu [8], Thalhah radhiyallahu ‘anhu, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu [9], Salman radhiyallahu ‘anhu, Jabir radhiyallahu ‘anhu [10], dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu al-Mundzir menyatakan, “Tidak shahih tentang adanya pengharaman tersebut dari seorang pun dari generasi pertama.” [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Wanita Muslimah Dilarang Menikah dengan Orang Kafir, Sedangkan Lelaki Muslim Diperbolehkan Menikahi Wanita Kafir Ahli Kitab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dijawab dari dua sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Islam itu tinggi dan tidak boleh direndahkan. Kepemimpinan dalam rumah tangga berada pada suami karena kelelakiannya walaupun setara dalam akad, karena kesetaraan tidak dapat menghilangkan perbedaan yang ada, sebagaimana dalam perbudakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang lelaki memiliki budak wanita, maka ia boleh menggaulinya dengan sebab perbudakan tersebut, sedangkan apabila wanita memiliki budak lelaki maka dia tidak boleh berhubungan intim dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah juga, kepemimpinan lelaki atas wanita dan anak-anaknya padahal ia kafir tentunya bisa menyebabkan agama sang wanita dan anak-anaknya tidak selamat dari pengaruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kesempurnaan Islam dan tidak sempurnanya selain Islam. Perkara sosial yang memiliki hubungan erat dalam tatanan rumah tangga dibangun di atas hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang muslim menikahi wanita ahli kitab maka ia beriman kepada kitab suci dan rasul wanita tersebut, sehingga ia akan tinggal bersamanya di atas dasar penghormatan kepada agamanya secara global. Lalu, muncul kesempatan untuk saling memahami, dan boleh jadi mengantar wanita tersebut masuk Islam dengan konsekuensi kandungan kitab sucinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bila seorang kafir ahli kitab menikahi wanita muslimah maka ia tidak beriman kepada agama wanita tersebut, sehingga penghormatan kepada prinsip dan agamanya tidak diperoleh darinya, serta tidak ada kesempatan untuk saling memahami pada perkara yang ia sendiri tidak mengimaninya sama sekali. Karena itulah, pernikahan ini dilarang. [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Wanita Ahli Kitab yang Dimaksud?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas ulama menafsirkan kata “al-muhshanat” dalam ayat ini dengan wanita yang menjaga kehormatannya. Dengan dasar inilah, maka sebagian ulama membolehkan pernikahan wanita ahli kitab yang menjaga kehormatannya, baik merdeka ataupun budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud dengan ahli kitab disini adalah orang Yahudi dan Nasrani (Kristen), sebagaimana dinyatakan Ibnu Qudamah, “Ahli kitab adalah orang Yahudi dan Nasrani, serta yang beragama dengan agama mereka.” [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang perlu diingat disini, seorang muslim yang ingin menikahi wanita ahli kitab karena keadaan tertentu haruslah memiliki akidah yang kokoh, mengerti hukum-hukum syariat, dan komitmen mengamalkan dan mematuhi hukum dan syiar islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa menikahi wanita ahli kitab mengandung banyak risiko terhadap akidah sang lelaki, ataupun nantinya berpengaruh pada agama anak keturunannya. Realitanya sudah jelas dan banyak terjadi. Betapa banyak keluarga yang hancur agamanya karena ibunya seorang ahli kitab. Oleh karena itu, sebaiknya ingatlah kembali kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka, ambillah yang memiliki agama (baik), kamu akan beruntung.” (Hr. al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikahilah wanita muslimah yang taat beragama! Itu lebih baik bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabilahit taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;1. Syarhu al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’, karya Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.&lt;br /&gt;2. Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah.&lt;br /&gt;3. Jami’ Ahkam an-Nisa`, karya Syekh Musthafa al-’Adawi.&lt;br /&gt;4. Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;[1] Lihat: Syarhu al-Mumti’: 12/146.&lt;br /&gt;[2] Lihat kisahnya, diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari; lihat: Fath al-Bari: 5/322.&lt;br /&gt;[3]  Al-Mughni: 9/548.&lt;br /&gt;[4] Syarhu al-Mumti’: 12/145.&lt;br /&gt;[5] Adhwa’ al-Bayaan: 8/163.&lt;br /&gt;[6] Syarhu al-Mumti’: 12/145. Hadits yang beliau sampaikan ini ada dalam Sunan at-Tirmidzi dengan lafal, أَلَا وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ&lt;br /&gt;“Ketahuilah, berbuat baiklah pada wanita, karena mereka adalah tawanan di sisi kalian.” (Hr. at-Tirmidzi, no. 1163, dan beliau berkata, “Hadits hasan shahih.” Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 1851)&lt;br /&gt;[7]  Lihat: Jami’ Ahkam an-Nisa`: 3/118.&lt;br /&gt;[8]  Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad dhaif, sebagaimana disampaikan Syekh Musthafa al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam an-Nisa`: 3/123.&lt;br /&gt;[9] Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, dan dinilai shahih oleh Syekh Musthafa al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam an-Nisa`: 3/122.&lt;br /&gt;[10] Diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i dalam al-Umm, dan Syekh Musthafa al-‘Adawi menyatakan, “Para perawinya tsiqah.” (Lihat: Jami’ Ahkam an-Nisa`: 3/122)&lt;br /&gt;[11] Al-Mughni: 9/545.&lt;br /&gt;[12] Diambil dari Jami’ Ahkam an-Nisa`: 3/120, dengan sedikit perubahan.&lt;br /&gt;[13] Al-Mughni: 10/568.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: ekonomisyariat.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-7516666003673963503?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7516666003673963503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7516666003673963503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/pernikahan-dalam-islam-bertujuan-untuk.html' title=''/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-4369154161655522323</id><published>2010-06-13T19:36:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:37:33.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam - Kekeliruan yang Muncul Dalam Fatwa Kontemporer 1'/><title type='text'>Kekeliruan yang Muncul Dalam Fatwa Kontemporer (1)</title><content type='html'>Allah Ta’ala menutup dakwah para Rasul dengan dakwah Rasulullâh Shalallahu ‘Alaihi wa sallam dan Allah Ta’ala memenangkan risalah beliau hingga hari kiamat nanti. Allah Ta’ala ciptakan generasi Sahabat dan Tabi’in yang bertugas menegakkan hujjah kepada manusia. Juga memerintahkan mereka untuk menjaga syariat Islam dan bertafaqquh fiddîn (belajar ilmu agama). Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitâb dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Qs Ali Imrân/3:79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepatutnya bagi Mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Qs at-Taubah/9:122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala membagi mereka menjadi dua kelompok. Salah satunya diperintahkan untuk berjihad di jalan-Nya dan yang lainnya diperintahkan menuntut ilmu agama, agar kaum Muslimin dapat merujuk dan bertanya kepada mereka tentang berbagai permasalahan dien ; Termasuk dalam permasalahan kontemporer (nawâzil) yang terjadi di kalangan kaum Muslimin. Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui     (Qs an-Nahl/16:43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Berfatwa Dalam Nawâzil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri lagi ijtihâd para Ulama dalam memberikan fatwa pada masalah kontemporer (Nawâzil) sangat dibutuhkan umat ini. Apalagi permasalahan kontemporer (Nawâzil) sangat banyak dan terus bermunculan. Namun tentunya, yang bisa berbicara untuk memutuskan permasalahan ini hanyalah para ulama yang memenuhi syarat, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Seorang mujtahid (ahli ijtihad/memiliki kemampuan untuk berijtihad-red), walaupun bukan mujtahid mutlak dan hanya bisa berijtihad dalam sebagian bidang ilmu.&lt;br /&gt;2. Harus memiliki gambaran jelas dan pemahaman yang benar terhadap permasalahan yang akan dijadikan sebagai obyek ijtihadnya.&lt;br /&gt;3. Dalam menetapkan hukum, dia bersandar pada dalil syar’i yang mu’tabar (yang dibenarkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Kekeliruan Yang Sering Ditemui Dalam Fatwa Kontemporer.&lt;br /&gt;Para Ulama yang berfatwa dalam masalah Nawâzil terkadang keliru walaupun secara kuantitas tiga syarat di atas sudah terpenuhi. Kekeliruan tersebut bertingkat-tingkat, tidak sama, ada yang jelas dan ada yang samar. Berikut ini beberapa kekeliruan yang samar dalam fatwa nawazil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penguraian permasalahan ke dalam elemen-elemen pembentuknya dengan memberikan hukum khusus satu persatu tanpa melihat hasil yang ada apabila digabung dan disusun.&lt;br /&gt;Sebagai contoh: Jual beli murâbahah. (Apa itu murabahah – nusadi ?) (jual beli) yang tersusun dari tiga akad yaitu akad wakâlah (perwakilan), akad Muwâ’adah bisy-Syirâ’ (janji membeli) dan akad jual beli kredit. Ketiga akad ini sah dan dibenarkan. Berdasarkan hal ini maka jual beli murâbahah adalah akad yang shahîh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang disampaikan orang yang mensahkan jual beli ini, tanpa menengok kepada pengertian baru yang muncul ketika ketiga akad itu disatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ulama yang melarangnya, berpendapat bahwa walaupun jual beli murâbahah ini terbentuk dari tiga akad tersebut, namun keadaan dan faktor pendorong pengadaan dan penyebarannya menunjukkan akad ini salah satu diantara upaya merekayasa riba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penjual -yaitu bank pembiaya- ingin meminjamkan uang kepada pembeli dengan mendapatkan profit (bunga), demikian juga pembeli, dia ingin meminjam uang dari bank dengan memberi bunga. Barang yang ada hanya dijadikan rekayasa hingga berubah bentuk menjadi pinjaman dengan bunga yang kemudian dinamakan jual beli murâbahah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya: Fatwa sebagian Ulama tentang al-Ijârah al-Muntahiyah bit-tamlîk (finance leasing). Ada yang menyatakannya sebagai adalah akad yang sah, karena tersusun dari ijârah (sewa menyewa), jual beli (Bai’) atau pemberian (Hibah). Ijârah jelas disepakati kebolehannya. Kemudian apabila masa ijârah (sewa menyewa) telah selesai, maka pemilik barang memiliki kebebasan penuh untuk menjual barangnya atau menghibahkannya kepada siapa yang ia sukai atau tetap menahan barang itu sebagai miliknya. Tidak ada yang mampu mencegah pemilik barang dari kebebasannya mengelola barang miliknya, mau dijual atau dihibahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan maksud di sini memaparkan pendapat yang membolehkan atau yang melarang dalam masalah ini atau lainnya. Tetapi hanya mengingatkan tentang pentingnya mengkompromikan antara tinjauan secara menyeluruh (an-Nazhar al-Kulli al-Ijmâli) dengan tinjauan secara rinci (an-nazhar al-Juz’i at-tafshîli) ketika hendak menetapkan satu hukum pada sebuah nawazil. Juga hendak menjelaskan bahwa membatasi hanya dengan salah satu sisi tinjauan saja dapat menjerumuskan pada kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kewajiban seorang ulama ahli fikih untuk melihat dengan teliti permasalahan dan akad transaksi kontemporer dan memahami hakekatnya serta meninjau akibat yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berkelit dari realita.&lt;br /&gt;Banyak mufti yang apabila ditanya tentang masalah kontemporer, dia menjawab dengan menerangkan hukum masalah tersebut dari sisi hukum asal, kemudian menyampaikan syarat-syarat hukumnya. Padahal pada kenyataannya syarat tersebut sangat sulit dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: Sebagian mufti (ahli fatwa) ketika ditanya tentang hukum finance leasing (al-Ijâr al-Muntahiyah bit-Tamlîk) menjawab bahwa itu boleh. Tetapi penanya melanjutkan lagi bahwa mereka mengharuskan asuransi. Maka sang mufti menjawab : jangan kamu setuju dengan asuransinya; ambil saja mobilnya tanpa asuransi dan asuransinya tidak mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mufti ini seharusnya memperjelas gambaran yang ada dalam praktek. Semua finance leasing (ijârah al-muntahiyah bit-Tamlîk) dalam praktek ternyata berisi asuransi.&lt;br /&gt;Semestinya ia menjelaskan, finance leasing dengan syarat mengikuti asuransi itu boleh atau tidak ? kemudian setelah itu dia bisa memberikan penjelasan tambahan bahwa finance leasing itu boleh dilakukan bila sudah memenuhi beberapa syarat. Dilanjutkan dengan penjabaran syarat-syarat tersebut. Bila syarat-syarat tersebut dilanggar, maka hukumnya begini dan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain: Seorang ditanya tentang hukum berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola, lalu dia menjawab bahwa pada asalnya hal itu diperbolehkan, kecuali bila terdapat hal-hal yang larangan syari’at.&lt;br /&gt;Perhatikanlah jawaban ini, tidak sesuai dengan pertanyaannya. Pertanyaan penanya tersebut tidak lepas dari realita yang terlihat di lapangan. Kompetisi ini tidak lepas dari berbagai pelanggaran syari’at seperti membuang-buang waktu, membuka aurat, kerusakan akhlak, menghabiskan umur dan membuang-buang harta. Hal-hal ini jelas bertentangan dengan maqâshid syari’at (tujuan syariat) dari banyak sisi.&lt;br /&gt;Kemudian juga, si penanya tidak menanyakan hukum asal. Seandainya si penanya menanyakan hukum asal, maka si mufti seharusnya mengingatkan si penanya tentang realita yang terjadi di lapangan setelah menjelaskan hukum asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya seorang mufti sebaiknya tidak menjawab dengan cara di atas dan berusaha untuk memperhatikan dua perkara:&lt;br /&gt;a.Menjelaskan bentuk realitanya dan tidak lupa menjelaskan hukumnya; karena tidak menjelaskan kenyataan atau berkelit darinya adalah kekeliruan yang berbahaya.&lt;br /&gt;b.Menyampaikan hukum asal dengan penjelasan ketentuan dan syarat-syarat yang mencakup kemungkinan bentuk-bentuk lain dari yang telah ada dan yang akan ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa yang memenuhi dua hal ini akan menjadi lebih jelas dan baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Permasalahan istilah dan bahasa yang umum.&lt;br /&gt;Merupakan satu keniscayaan ketika hendak menetapkan hukum terhadap satu masalah kontemporer untuk melihat hakekat permasalahannya, tidak silau dengan nama-nama atau pun istilahnya. Karena hukum syara’ hanya berhubungan dengan hakekat dan pengertian, bukan dengan lafadz dan susunan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bermain dengan istilah-istilah agama menjadi fenomena pada banyak transaksi-transaksi yang tidak benar dewasa ini. Buktinya, bila menilik seluruh transaksi yang muncul dari bank-bank syari’at atau konvensional, tidak ada pelayanan yang menggunakan nama riba secara terang-terangan. Namun, apakah ini menunjukkan bahwa seluruh transaksi tersebut bebas dari riba ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah pula pengorbanan dan keberanian yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin Palestina yang lemah saat berhadapan dengan orang-orang yahudi, musuh kaum Muslimin. Sebagian mereka menamakannya ‘amaliyah istisyhadiyyah (usaha untuk mendapatkan mati syahid-red), sementara sebagian yang menamainya dengan ‘amaliyah intihariyyah (perbuatan bunuh diri-red).&lt;br /&gt;Padahal setiap penamaan memiliki makna tersendiri. Yang menjadi problem dalam pemberian nama yaitu ketika tidak peduli dengan makna dan kandungan nama itu. Tidak logis, kalau kita menghukumi perbuatan diatas dengan hukum haram sementara pada saat yang sama kita menamainya dengan ‘amaliyah istisyhadiyyah. Sebaliknya, bagaimana bisa perbuatan itu dihukumi sesuai dengan syari’at, sementara dia digelari ‘amaliyah intihariyyah.&lt;br /&gt;kaedah baku dan standar dalam hal ini adalah sedapat mungkin menggunakan nama-nama syar’i dalam penamaan seluruh perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila ada permasalahan yang baru dan tidak ada nama yang syar’i untuknya, maka wajib menamainya dengan nama yang dikenal secara bahasa, yang pas dan yang menunjukkan hakekat permasalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Tidak cermat dalam melihat perkembangan dan perubahan nawâzil.&lt;br /&gt;Ini termasuk kesalahan karena hakekat nawâzil terkadang mengalami sedikit perubahan dan pergeseran. Perubahan ini terkadang merubah hakekat nawâzil secara keseluruhan dari hakekat sebelumnya. Meski terjadi perubahan, namun istilah nawâzil tetap melekat pada keduanya, baik seblum ataupun setelah terjadi perubahan.&lt;br /&gt;Memberikan fatwa hanya berdasarkan gambaran pertama dari suatu permasalahan pada suatu kejadian akan melahirkan tashawwur (gambaran) yang keliru dan kesalahan dalam memahaminya (miss understanding).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, orang yang ingin memahami kejadian tersebut secara sempurna, sudah seharusnya terus meng-update informasi tentangnya. Khususnya pada zaman ini, dimana perubahan itu begitu cepat terjadi.&lt;br /&gt;Sudah dimaklumi bahwa sebuah fatwa bisa berubah seiring dengan perubahan waktu, tempat dan keadaan serta adat yang berlaku. Dari sini sudah seharusnya seorang mufti memperhatikan waktu, tempat, kondisi dan keadaan yang berhubungan dengannya, serta adat yang berlaku dalam hukumnya terhadap satu permasalahan kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, kewajiban mufti dalam urusan kontemporer ini adalah menjelaskan bentuk masalahnya dan hukumnya serta memberikan batasan hukum terhadap masalahnya secara khusus, serta memperhatikan sumber hukumnya. Akan lebih baik lagi bila diberikan tanggal keluarnya fatwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh dalam hal ini adalah sikap Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah dalam salah satu fatwanya. Beliau rahimahullah menyampaikan, sebagian Ulama terdahulu telah berfatwa bahwa seorang wanita apabila meninggal dunia dalam keadaan mengandung bayi yang masih hidup, maka dilarang membedah perutnya untuk mengeluarkan bayinya. Karena ini termasuk al-mutslah (merusak jenazah/mayat). Kemudian beliau t memberikan komentar : “Namun pada masa-masa terakhir ini, ilmu bedah telah berkembang pesat dan akhirnya membedah perut atau sebagian anggota badan tidak lagi dianggap al-mutslah. Mereka bisa melakukannya terhadap orang yang masih hidup dengan keridhaan dan keinginan terhadap beraneka ragam sistem pengobatan. Sehingga saya cenderung seandainya para ahli fikih terdahulu menyaksikan keadaan ini tentu mereka akan memperbolehkan membedah perut orang hamil, dengan sebab keberadaan bayinya yang masih hidup dan demi mengeluarkannya. Khususnya bila masa hamil sudah usai dan diketahui atau besar kemungkinan bayinya akan bisa diselamatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyampaikan kecenderungan beliau , syaikh Abdurrahman Nashir as-sa’di rahimahullah mengatakan : “al-mutslah yang mereka jadikan sebagai alasan untuk melarang tindakan ini menunjukkan asumsi ini.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cenderung mempermudah dan meringankan fatwa, tanpa memperhatikan maqâshid syari’at.&lt;br /&gt;Anggapan mereka bahwa inilah yang paling sesuai dengan keadaan manusia di zaman ini. Karena (kebanyakan-red) manusia saat ini tidak lagi berpegang teguh dengan hukum-hukum agama dan sibuk dengan gemerlap kehidupan. Untuk itu, harus dilakukan upaya pendekatan agama kepada mereka yang berjiwa lemah dan yang lainnya, supaya mereka bisa menerima dan mencari hukum-hukum syara’. Ini upaya yang wajib dilakukan. namun pendapat yang memberikan kemudahan tersebut harus memiliki dasar kuat yang menopangnya berupa nash atau qiyas atau pendapat imam ahli fikih yang diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara contohnya adalah fatwa sebagian Ulama yang membolehkan seorang wanita bepergian haji dengan teman-teman yang dipercaya tanpa mahram. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kecenderungan untuk memperberat dan melarang tanpa memperhatikan maqâshid syari’at.&lt;br /&gt;Dengan asumsi ini lebih hati-hati dan cocok dengan keadaan sebagian kaum Muslimin yang sering meremehkan dan tidak mau melaksanakan tugas-tugas syari’at. Terkadang sikap meremehkan ini pada akhirnya bisa menyeret seseorang meninggalkan aturan-aturan agama sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara contohnya adalah fatwa sebagian Ulama yang menyatakan tidak boleh melempar jumrah di malam hari, juga fatwa yang menyatakan bahwa bayi tabung hukum haram secara mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berhujjah dengan fatwa sekelompok Ulama (al-Iftâ` al-Jamâ`i) dan merasa cukup denganya serta menjadikannya sebagai dalil tanpa merasa butuh dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan al-Iftâ` al-Jamâ`i adalah semua fatwa dan ketetapan ataupun penjelasan dikeluarkan oleh sebagian al-Majâmi’ (konferensi) dan lajnah ilmiyah. Terkait dengan hal ini, ada beberapa point penting yang perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tidak disangsikan lagi bahwa fatwa yang bersumber dari banyak Ulama lebih pantas untuk diterima dibandingkan fatwa perorangan.&lt;br /&gt;Perlu dibedakan antara fatwa yang dikeluarkan sebuah lajnah fatwa yang terdiri dari sejumlah mufti dengan ijma’ (kesepakatan-red) para ulama. Perlu diketahui juga bahwa ifta’ jama’i tidak bisa mencapai derajat ijma’, baik dari sisi kekuatan hujjahnya ataupun segi kesepakatannya. Sebab fatwa dari konferensi dan badan ilmiyah dunia tersebut adalah hasil pemikiran fikih yang dirangkai disusun dari berbagai penelitian, karya tulis dan sensus lapangan. Jelas ketetapan konferensi dengan tinjauan ini lebih baku dan teliti secara fikih daripada fatwa sekelompok Ulama. Fatwa sekelompok Ulama jelas – karena banyaknya mereka – memberikan perasaan lebih tenang dan tentram dibanding fatwa perorangan. Inilah tiga tingkatan fatwa kontemporer, yang tertinggi adalah ketetapan konferensi, kemudian fatwa sekelompok Ulama, kemudian fatwa perorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Harus membedakan antara fatwa yang disampaikan mayoritas Ulama dengan adanya Ulama yang menyelisihinya dengan masalah Ijmâ’. Juga mengetahui bahwa fatwa sekelompok Ulama tidak sampai pada martabat ijmâ’ dalam peran sebagai hujjah dan kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kelemahan fatwa secara berjama`ah kadang terjadi karena tekanan fihak tertentu dan biasanya tidak memiliki sarana iklan (penyampaian-red) yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Terkadang pendapat yang dikeluarkan konferensi (al-Majma’) adalah pendapat minoritas, walaupun dikeluarkan dengan kesepakatan mereka semuanya. Sebab tidak semua Ulama dunia bisa ikut serta dalam konferensi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.  Di antara ide yang sering dilontarkan yaitu membentuk perkumpulan para Ulama dunia yang independen, tidak berada di bawah satu kekuatan atau satu pemerintahan. Perkumpulan ini yang akan mempelajari dan meneliti masalah-masalah kontemporer yang terjadi di tengah umat dengan tanpa tekanan dari fihak manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berhujjah dengan fatwa perorangan dan mengamalkannya serta pasrah kepadanya. Yang dimaksud dengan fatwa perorangan (al-Iftâ` al-Fardi) adalah fatwa dan ketetapan yang keluar dari seorang Ulama.&lt;br /&gt;Dalam hal ini ada beberapa point penting:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Fatwa perorangan adalah penyempurna dan berasal dari fatwa kelompok (al-Iftâ al-Jamâ’i).&lt;br /&gt;b.   Kebenaran terkadang ada pada satu individu bukan pada mayoritas. Ini adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh syara’ dan nyata.&lt;br /&gt;c.   Sebagian fatwa mufti tidak dianggap. Karena, terkenal suka meremehkan suatu permasalahan dan mengikuti hawa nafsu.&lt;br /&gt;d. Pendapat seorang mufti atau lebih, kadang tersiarkan dan tersebar luas hingga orang menyangka ini adalah pendapat mayoritas, padahal sebenarnya tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sebagian kekeliruan yang nampak dalam banyak fatwa kontemporer, semoga menjadi pencerahan bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnotes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Diangkat dari kitab Fikih Nawâzil 1/68-77.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Fatâwa as-Sa’diyah hlm 189-190.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Fatwa ini nampaknya memberikan kemudahan pada manusia, padahal sebenarnya malah sebaliknya, jika kita melihat kepadatan jamaah haji yang sangat beresiko menimbulkan berbagai bahaya bagi sebagian jamaah haji bahkan bisa menyebabkan kematian. Khususnya bagi mereka yang lemah seperti jompo, orang sakit dan wanita.&lt;br /&gt;Dengan cara pandang ini, kalau ingin memberikan kemudahan bagi kaum wanita mestinya mereka dilarang berhaji tanpa ada mahram yang menjaga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, bukankah pelarangan wanita berhaji tanpa mahram akan mengakibatkan berkurangnya kepadatan dan memperkecil jumlah jamaah haji?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-4369154161655522323?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4369154161655522323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4369154161655522323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/kekeliruan-yang-muncul-dalam-fatwa.html' title='Kekeliruan yang Muncul Dalam Fatwa Kontemporer (1)'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-1998660737479695327</id><published>2010-06-13T19:35:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:36:12.819-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Syariah - Artikel - Benarkah Harta Itu Fitnah'/><title type='text'>Benarkah Harta Itu Fitnah?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Semua sudah mengenal apa itu harta. Tidak ada seorangpun yang belum mengerti tentang hal ini. Kemasyhurannya telah menenggelamkan seluruh penjuru dunia. Kedudukan harta sangatlah tinggi dihati manusia, menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi mereka. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya anusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (Qs. Al-Aadiyat: 6-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta adalah satu tuntutan kebutuhan pokok manusia untuk hidup di setiap tempat dan zaman, kecuali di akhir zaman, dimana harta berlimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya karena tidak dapat memanfaatkannya. Waktu itu orang sangat semangat untuk sholat dan ibadah yang tentunya lebih baik dari dunia dan seisinya, karena mereka mengetahui dekatnya hari kiamat setelah turunnya nabi Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا وَ إِمَامًا عَدْلاً فَيُكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَ يَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَ يَضَعُ الْجِزْيَةَ وَ يَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ وَ حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, telah dekan turunnya Ibnu Maryam pada kalian sebagai pemutus hukum dan imam yang adil, lalu ia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus upeti dan harta melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang menerimanya, hingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Ahmad, dan At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 7077)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan terjadi juga sebelumnya satu masa yang berlimpah rezeki hingga khalifah tidak menghitung hartanya dengan bilangan namun menyerahkannya dengan cidukan kedua telapak tangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَكُونُ فِى آخِرِ أُمَّتِى خَلِيفَةٌ يَحْثِى الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan datang diakhir umatku seorang khalifah yang menciduk harta dengan cidukan tidak menghitungnya dengan bilangan.” (HR Muslim no. 7499)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang telah mengetahui kegunaan harta di dunia, karenanya mereka berlomba-lomba mencarinya hingga melupakan mereka atau mereka lalai dari memperhatikan perkara-perkara penting yang berhubungan dengan harta. Perkara yang berhubungan dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, hingga akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini telah dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ؟!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?! (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah realita yang terjadi dimasyarakat kita.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana sikap islam terhadap harta ini? Ternyata permasalahan rezeki dan harta telah mendapatkan perhatian besar dalam al-Qur`an. Bayangkan kata rezeki dengan kata turunannya diulang sebanyak 123 kali dan kata harta (al-Maal) dengan kata turunannya diulang sebanyak 86 kali. Padahal Allah tidak mengulang-ulang satu kata kecuali demikian besar urgensinya untuk sang makhluk. Sehingga sudah selayaknya kaum muslimin mengenal dan mengerti bagaimana konsep islam terhadap harta dan sikap yang tepat menjadikan harta sebagai nikmat yang membawa kepada kebahagian dunia dan akherat. Minimal mengetahui harta adalah fitnah yang Allah ujikan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat bersyukur dan tegak pada mereka hujjah dan penjelasan yang terang. Semua itu agar orang hidup dengan harta di atas ilmu dan dapat bersabar bila tidak memiliki harta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menciptakan manusia dan memberinya kesukaan kepada syahwat harta, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imraan/3:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan besarnya kecintaan manusia kepada harta dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ ؛ لاَبْتَغَى ثَالِثاً , وَلاَ يَمَلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ , وَيَتُوْبُ الله عَلَى مَنْ تَابَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah Harta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pungkiri lagi harta adalah fitnah yang Allah berikan kepada hamba-Nya sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al-Anfaal/8: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan menjadi fitnah besar bagi umat islam yang merusak dan meluluh lantakkan semua persendian mereka, sehingga mereka terkapar seperti orang sakit dan menjadi hinaan umat lain. Akal dan hati mereka terkendalikan oleh harta sehingga lambat lain lemahlah kondisi mereka. Tentang bahaya firnah harta ini terhadap umat islam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.” (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah fitnah harta ini telah melanda umat islam diseluruh penjuru dunia dan menyeret mereka kepada bencana yang demikian hebatnya. Hal ini terjadi setelah kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan penaklukan negara-negara besar seperti Rumawi dan Parsia. Tidak mampu selamat dan menjauhkan diri dari fitnah ini kecuali yang Allah berikan kemampuan untuk memahami nash-nash al-Qur`an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memperingatkan harta dengan benar dan tepat. Hal ini membuatnya mampu melihat sebab-sebabnya dan berusaha menghindarinya. Fitnah ini telah menghancurkan kaum muslimin sebelum musuh-musuhnya mencaplok wilayah dan negara islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini telah di jelaskan dengan sangat gamblang dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:&lt;br /&gt;Memang demikianlah kemenangan dan harta benar-benar fitnah yang dapat menyeret kepada kenacuran dan kelemahan kecuali bila ditempatkan harta-harta tersebut pada tempatnya. Lihatlah bagaimana harta yang menyebabkan seorang menjadi cinta dunia dan takut mati akan melemahkan barisan kaum muslimin sehingga jumlah yang besar tidak memiliki kekuatan lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“يُوْشَكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الأمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأكَلَة إِلَى قَصْعَتِهَا” فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَمِنْ قِلّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللّه مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيُقْذِفَنَّ اللّه فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ” فَقَالَ قَائِلٌ: يَارَسُوْلَ اللّه، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: “حُبُّ الدُّنيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ”.‏&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya” lalu bertanya seseorang:’apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab: ”Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan),”, lalu bertanya lagi:’wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?”, kata beliau:”Cinta dunia dan takut mati.” (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang dikatakan Kaab bin Maalik radhiallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ: فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِسُوْقِ المْدِيْنَةِ، إِذْا نَبَطِيٌ (5) مِنْ أِنْبَاطِ أَهْلِ الشَّامِ، مِمَنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيْعَهُ بِالْمَدِيْنَةِ، يَقُوْلُ: مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيْرُوْنَ لَهُ، حَتَى إِذَا جَاءَنِي دَفَعَ إِلَيَّ كِتَابَا مِنْ مَلِكِ غَسَانَ، فَإِذَا فِيْهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنّ َصَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ، وَلَمْ يَجْعَلْكَ الله بِدَارِ هَوَانٍ وَلا مُضِيْعَةٍ، فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika aku berjalan-jalan di pasar Madinah, seketika itu ada seorang petani dari petani-petani penduduk Syam yang datang membawa makanan untuk dijual di pasar Madinah berkata:” siapa yang dapat menunjukkan Kaab bin Malik?”lalu orang-orang langsung menunjukannya sampai dia menemuiku dan menyerahkan kepadaku surat dari raja Ghossaan‏, dan aku seorang yang dapat menulis, lalu aku membacanya, dan isinya: amma ba’du, sesungguhnya telah sampai kepadaku berita bahwa pemimpinmu telah berpaling meninggalkanmu dan sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan bagimu tempat yang hina dan kesia-siaan, maka bergabunglah kepada kami, kami akan menyenangkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para musuh islam selalu mengintai kapan penyakit cinta harta menyebar dan merebak dikalangan kaum muslimin.&lt;br /&gt;Ketika fitnah harta ini menyerang kaum muslimin dan terus mendesak setelah penaklukan negeri-negeri yang merupakan kemenangan din islam. Dengannya Allah mengangkat menara syariat dan meninggikan tiang aqidahnya ditambah dengan adanya harta yang berlimpah yang pernah dimiliki negara-negara besar waktu itu. Maka tidak sedikit dari tokoh sahabat dan tabi’in serta para ulama yang shalih yang tidak berhenti mengingatkan dan memperingatkan kaum muslimin dari bahaya yang akan menimpa mereka. Mereka menjelaska jalan yang lurus yang wajib dijalani dengan kesabaran dan mengingatkan mereka dengan kehidupan Rasuullah dan orang yang beriman bersama beliau dan setelah beliau, dalam rangka mengingatkan umat ini dari harta dan fitnahnya. Orang pertama yang mengingatkan hal ini tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika telah ditaklukan untuk kalian negara parsi dan rumawi, kaum apakah kalian? Berkata Abdurrahman bin Auf:” kami melakukan apa yang Allah perintahkan (6), beliau berkata:” tidak seperti itu, kalian akan berlomba-lomba kemudian saling berhasad, kemudian saling membenci lalu saling bermusuhan, kemudian kalian berangkat ke tempat-tempat tinggal kaum muhajirin dan kalian menjadikan sebagian mereka membunuh sebagian yang lain.” (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ketika ditaklukkan gudang harta kisra (raja parsi) Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ هَذَا لَمْ يَفْتَحْ عَلَى قَوْمٍ قَطْ إِلا جَعَلَ الله ِبَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ini tidak dibukakan bagi satu kaum kecuali Allah menjadikan diantara mereka peperangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian harta menjadi salah satu syahwat terbesar yang Allah berikan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta Antara Nikmat dan Bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang harta adalah salah satu syahwat terbesar yang dimiliki manusia, namun juga menjadi salah satu sebab mendekatkan diri kepada Allah. Harta menjadi tiang kehidupan seseorang. Ketika ia berusaha mendapatkan harta yang halal untuk membeli rumah, menikah dan memiliki anak yang solih serta berbahagia dengan keluarga dan hartanya, maka hal ini adalah amalan yang disyariatkan. Mukmin yang kuat lebih baik dari yang lemah, seperti sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ ـ لكن النبي عليه الصلاة والسلام رفيق قال :  وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ  .  رواه  مسلم عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ada anjuran menjadi hartawan apabila cara mendapatkannya sesuai dengan ajaran islam, sebab harta adalah kekuatan dalam pengertian kesempatan yang diberikan kepada hartawan dalam amal shalih tidak terbatas dan terhitung. Dengan hartanya ia bisa menikahkan para pemuda, mengobati orang sakit, menyantuni para janda dan memberi makan anak yatim dan orang miskin dan lain-lainnya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan mukmin yang kaya dekat dari derajat alim yang beramal dengan ilmunya, dalam sabda beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا حَسَدَ إِلاّ في اثْنَتَيْنِ : رَجلٌ آتَاهُ الله مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُ منهُ آنَاءَ اللّيْلِ و آنَاءَ النّهَارِ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله القُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللّيْلِ وَ آنَاءَ النّهَار . متفق عليه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah harta dapat menjadi sebab seornag masuk syurga, namun juga bisa membuat seorang terbang terjerumus ke dalam neraka jahannam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata harta itu bisa menjadi nikmat bila dikeluarkan dan digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan akan menjadi bencana bila digunakan untuk keburukan. Hal ini tergantung kepada dari mana mendapatkannya dan bagaimana mengeluarkannya. Oleh karena itu, manusia akan ditanya dihari kiamat tentang hartanya dimana ia mendapatkannya dan kemana ia infakkan.&lt;br /&gt;(Bersambung, insya Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: EkonomiSyariat.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) HR. al-Bukhari 2059&lt;br /&gt;(2) HR. al-Bukhari no.6436, Muslim no.1049&lt;br /&gt;(3) HR. at-Timidzi dalam sunannya kitab Az-Zuhd.&lt;br /&gt;(4) Shahih lighairihi (shohih lantaran ada yang lain yang menguatkannya (pen)) dikeluarkan oleh Abu Daud (4297) dari jalan periwayatan ibnu Jabir, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu Abdussalam darinya (Tsauban) secara marfu’&lt;br /&gt;(5) Yaitu petani, dinamakan demikian karena dia mengambil manfaat air.&lt;br /&gt;(6) Kami memuji, mensyukuri dan memohon tamahan keutamaanNya (Annawawiy 18/96).&lt;br /&gt;(7) HR. Muslim (2962).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-1998660737479695327?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/1998660737479695327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/1998660737479695327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/benarkah-harta-itu-fitnah.html' title='Benarkah Harta Itu Fitnah?'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-7606853672360089531</id><published>2010-06-13T17:51:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:29:05.133-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam - Fikih Jinayat (Tindak Pidana)'/><title type='text'>Fikih Jinayat (Tindak Pidana)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jiwa manusia dan darahnya adalah perkara yang sangat dijaga dalam syariat Islam. Demikian juga, kegunaan dan fungsi anggota tubuh pun tak lepas dari penjagaan syariat. Semua ini untuk kemaslahatan manusia dan kelangsungan hidup mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 179)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini semakin tampak jelas sekali dalam banyak ayat dan hadits nabawi dengan adanya larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya terhadap pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. An-Nisa’: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam. Ia kekal di dalamnya. Allah pun murka kepadanya, serta mengutuknya dan menyediakan azab yang besar baginya.” (Qs. An-Nisa`: 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaklah  kalian menjauhi tujuh perkara yang membinasakan.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja itu?” Jawab beliau, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang telah Allah haramkan (membunuhnya) kecuali dengan cara yang haq, memakan harta benda anak yatim, memakan riba, berpaling pada waktu menyerang musuh (desersi), dan menuduh (berzina) perempuan-perempuan mukmin yang tidak tahu-menahu (tentang itu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dari Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi Allah, lenyapnya dunia jauh lebih ringan daripada membunuh seorang muslim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda (yang artinya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andaikata segenap penghuni langit dan penghuni bumi bersekongkol menumpahkan darah seorang mukmin, niscaya Allah akan menjebloskan mereka ke dalam api neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِيْ الدِّمَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perkara yang pertama kali diputuskan di antara manusia (oleh Allah kelak) ialah kasus pembunuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَجِيْءُ الرَّجُلُ آخِذًا بِيَدِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ يَا رَبِّ هَذَا قَتَلَنِيْ فَيَقُوْلُ اللهُ لَهُ لِمَ قَتَلْتَهُ فَيَقُوْلُ قَتَلْتُهُ لِتَكُوْنَ الْعِزَّةُ لَكَ فَيَقُوْلُ فَإِنَّهَا لِيْ وَيَجِيْءُ الرَّجُلُ آخِذًا بِيَدِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ إِنَّ هَذَا قَتَلَنِيْ فَيَقُوْلُ اللهُ لَهُ لِمَ قَتَلْتَهُ فَيَقُوْلُ لِتَكُوْنَ الْعِزَّةُ لِفُلاَنٍ فَيَقُوْلُ إِنَّهَا لَيْسَتْ لِفُلاَنٍ فَيَبُوْءُ بِإِثْمِهِ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada seorang laki-laki datang dengan memegang tangan laki-laki lain, lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, orang ini telah berusaha membunuhku.’ Kemudian Allah bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau berusaha membunuhnya?’ Maka orang yang telah berusaha membunuhnya itu menjawab, ‘Aku membunuhnya supaya kemuliaan menjadi milik-Mu semata.’ Kemudian Allah menjawab, ‘Maka (kalau begitu), itu untuk-Ku semata.’ Kemudian datang (lagi) seorang laki-laki (lain) sambil memegang tangan laki-laki juga, lalu ia berkata, ‘(Wahai Rabbku), orang ini telah membunuhku.’ Lalu tanya Allah kepadanya, ‘Mengapa engkau membunuhnya?’ Jawabnya, ‘Supaya kemuliaan ini menjadi milik si fulan.’ Maka firman Allah, ‘Sesungguhnya kemuliaan bukanlah milik si fulan.’ Maka laki-laki yang berusaha itu pulang dengan membawa dosanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, kaum muslimin berijma’ (bersepakat) atas hal ini. Oleh karena itu, syariat Islam memberikan hukuman dan balasan terhadap para pelaku pembunuhan dan penganiayaan terhadap tubuh manusia, dan hal ini dikenal dengan nama “fikih jinayat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Definisi Jinayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “jinayat”, menurut bahasa Arab, adalah bentuk jamak dari kata “jinayah”, yang berasal dari “jana dzanba, yajnihi jinayatan” (جَنَى الذَنْبَ – يَجْنِيْهِ جِنَايَةً), yang berarti melakukan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun merupakan isim mashdar (kata dasar), tetapi kata “jinayat” dipakai dalam bentuk jamak, karena ia mencakup banyak jenis perbuatan dosa, karena ia kadang mengenai jiwa dan anggota badan, secara disengaja ataupun tidak. Kata ini juga berarti menganiaya badan, harta, atau kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut istilah syariat, jinayat (tindak pidana) artinya menganiaya badan sehingga pelakunya wajib dijatuhi hukuman qisas, atau membayar diyat atau kafarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hukum Pembunuh dan Penganiaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuh dan penganiaya badan manusia dihukumi sebagai orang fasik, karena melaksanakan satu dosa besar. Hukumnya di akhirat dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak mengazabnya maka ia akan diazab, dan bila Allah mengampuninya maka ia diampuni. Hal ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. An-Nisa`: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bila ia tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Apabila ia telah bertobat, maka tobatnya diterima, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa, semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Az-Zumar: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di akhirat, hak korban yang terbunuh (al-maqtul) tidak gugur darinya dengan sekadar tobat. Akan tetapi, korban tersebut akan mengambil kebaikan dan pahala pembunuh tersebut sesuai dengan ukuran kezalimannya, atau Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya dari sisinya. Hak korban juga tidak gugur dengan qisas, karena qisas adalah hak keluarga dan kerabat korban (auliya` al-maqtul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan, “Pembunuhan dengan sengaja, berhubungan dengan tiga hak:&lt;br /&gt;Hak Allah, dan ini akan terhapus dengan tobat.&lt;br /&gt;Hak auliya` al-maqtul, dan ini gugur dengan menyerahkan diri kepada mereka.&lt;br /&gt;Hak al-maqtul (korban). Ini tidak gugur, karena korban telah mati dan hilang. Namun, apakah kebaikan pembunuh akan diambil (di akhirat) atau Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan keutamaan dan kemurahan-Nya akan menanggungnya? Yang benar adalah, Allah dengan keutamaannya akan bertanggung jawab, apabila si pembunuh tersebut jelas kebenaran dan kejujuran tobatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini pun dikuatkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam penuturan beliau, “Yang benar adalah, bahwa pembunuhan berhubungan dengan tiga hak: hal Allah, hak korban (al-maqtul), serta hak keluarga dan kerabat korban (auliya` al-maqtul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pembunuh telah menyerahkan diri dengan suka rela, dengan menyesalinya dan takut kepada Allah, serta bertobat dengan tobat nashuha, maka hak Allah Subhanahu wa Ta’ala gugur dengan tobat si pembunuh, dan hak auliya` al-maqtul gugur dengan menunaikan qisas secara sempurna, dengan jalan perdamaian, atau dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, masih tersisa hak korban. Allah yang akan menggantinya di hari kiamat dari hamba-Nya yang bertobat, dan Allah pun memperbaiki hubungan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Klasifikasi Jinayat (Tindak Pidana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jinayat (tindak pidana) terhadap badan terbagi dalam dua jenis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pertama, jinayat terhadap jiwa (jinayat an-nafsi). Yaitu, jinayat yang mengakibatkan hilangnya nyawa (pembunuhan). Pembunuhan jenis ini terbagi tiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pembunuhan dengan sengaja (al-‘amd), Yang dimaksud pembunuhan dengan sengaja ialah seorang mukalaf secara sengaja (dan terencana) membunuh orang yang terlindungi darahnya dengan cara dan alat yang biasanya dapat membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pembunuhan yang mirip dengan sengaja (syibhu al-’amdi).  Ini tidak termasuk sengaja dan tidak juga karena keliru (al-khatha’), tapi pertengahan di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita melihat kepada niat kesengajaan untuk membunuhnya, maka ia termasuk dalam pembunuhan dengan sengaja. Namun, bila kita melihat jenis perbuatannya tersebut yaitu tidak membunuh, maka kita memasukkannya ke dalam pembunuhan karena keliru (al-khatha’). Oleh karenanya, para ulama memasukkannya ke dalam satu tingkatan di antara keduanya, dan menamakannya syibhu al-‘amdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud syibhu al-’amdi (pembunuhan yang mirip dengan sengaja) ialah seorang mukalaf bermaksud membunuh orang yang terlindungi darahnya, dengan cara dan alat yang biasanya tidak membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pembunuhan karena keliru (al-khatha’), yaitu seorang mukalaf melakukan perbuatan yang mubah baginya, seperti memanah binatang buruan atau semisalnya, namun ternyata anak panahnya nyasar mengenai orang hingga meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga jenis ini didasarkan kepada penjelasan al-Quran dan as-sunnah. Dalam al-Quran dijelaskan dua jenis pembunuhan, yaitu pembunuhan sengaja dan tidak sengaja (keliru), seperti dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِناً إِلاَّ خَطَئاً وَمَن قَتَلَ مُؤْمِناً خَطَئاً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ أَن يَصَّدَّقُواْ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مْؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةً فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللّهِ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً. وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barangsiapa membunuh seorang mumin karena tersalah, (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah Jahannam. Ia kekal di dalamnya. Allah pun  murka kepadanya, mengutuknya, serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Qs. An-Nisa`: 92–93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan satunya lagi, yaitu pembunuhan yang mirip dengan sengaja (syibhu al-’amdi),  dalil tentangnya diambil dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلاَ إِنَّ دِيّةَ الْخَطَأِ شِبْهِ الْعَمْدِ مَا كَانَ بِالسَّوْطِ وَالْعَصَا مِائَةٌ مِنَ الإِبِلِ مِنْهَا أَرْبَعُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهَا أَوْلاَدُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, bahwa diyat pembunuhan yang mirip dengan sengaja yaitu yang dilakukan dengan cambuk dan tongkat adalah seratus ekor unta. Di antaranya adalah empat puluh ekor yang sedang hamil. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kedua, jinayat kepada badan selain jiwa (jinayat duna an-nafsi/al-athraf) adalah penganiayaan yang tidak sampai menghilangkan nyawa. Jinayat seperti ini terbagi juga menjadi tiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Luka-luka الشُجَاجُ وَالْجَرَاحُ&lt;br /&gt;2. Lenyapnya kegunaan anggota tubuh إِتْلاَفُ الْمَنَافِعِ&lt;br /&gt;3. Hilangnya anggota tubuh إِتْلاَفُ الأَعْضَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah fikih jinayat yang mencakup kedua jenis jinayat ini. Dari sini, tampak jelas sekali perhatian Islam terhadap keselamatan jiwa dan anggota tubuh seorang muslim. Dengan dasar ini, jelaslah kesalahan orang yang dengan mudahnya menumpahkan darah kaum muslimin.&lt;br /&gt;Wabillahit taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;Subul as-Salam al-Mushilah ila Bulugh al-Maram, 7:231, tahqiq Muhammad Shubhi Hasan Halaf, Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani, cetakan kedelapan, tahun 1428 H, Dar Ibnu al-Jauzi, KSA.&lt;br /&gt;Asy-Syarhu al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’: 14/5, Muhammad bin Shalih Ibnu Utsaimin, cetakan pertama, tahun 1428 H, Dar Ibnu al-Jauzi, KSA.&lt;br /&gt;Tashil al-Ilmam bi Fiqhi al-Ahadits min Bulugh al-Maram: 5/117, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, cetakan pertama, tahun 1427 H, tanpa penerbit.&lt;br /&gt;Al-Mulakhash al-Fiqh: 2/461, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, cetakan pertama, tahun 1423 H, Ri`asah Idarah al-Buhuts al-‘Ilmiyah wa al-Ifta`, KSA.&lt;br /&gt;Buku-buku Syekh Muhammad Nashirudin al-Albani, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: EkonomiSyariat.Com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-7606853672360089531?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7606853672360089531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7606853672360089531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/fikih-jinayat-tindak-pidana.html' title='Fikih Jinayat (Tindak Pidana)'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-347384811743432198</id><published>2010-06-13T17:50:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:29:38.856-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam - Tahukah Anda Apa itu Hudud?'/><title type='text'>Tahukah Anda Apa itu Hudud?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Allah subhanahu wa ta’ala al-Hakiem (yang maha bijaksana) senantiasa menjaga hak-hak manusia dan menjaga kehidupan mereka dari kezholiman dan kerusakan. Syariat islam pun ditetapkan untuk menjaga dan memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan adh-Dharuriyat al-Khamsu (lima perkara mendesak pada kehidupan manusia). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan hukuman yang ditetapkan Syari’at yang disesuaikan dengan pelanggaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah penegakan hudud yang menjadi satu keistimewaan ajaran islam dan merupakan bentuk kesempurnaan rahmat dan kemurahan Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluknya.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hudud berasal dari rahmat untuk makhluk dan kebaikan mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang yang menghukum manusia Karena dosa-dosa mereka bertujuan dalam melakukannya untuk kebaikan dan rahmat kepada mereka, sebagaimana tujuan orang tua membina anak-anaknya dan dokter dalam mengobati orang yang sakit.” (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN HUDUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudud adalah kosa kata dalam bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’ (plurals) dari kata had yang asal artinya pembatas antara dua benda. Sehingga dinamakan had karena mencegah bersatunya sesuatu dengan yang lainnya. (2) Ada juga yang menyatakan bahwa kata had berarti al-man’u (pencegah), sehingga dikatakan Hudud Allah adalah perkara-perkara yang Allah larang melakukan dan melanggarnya (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut syar’i, istilah hudud adalah hukuman-hukuman kejahatan yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk mencegah dari terjerumusnya seseorang kepada kejahatan yang sama dan menghapus dosa pelakunya. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DELIK HUKUMAN KEJAHATAN (Jarimah al-Hudud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya sudah menetapkan hukuman-hukuman tertentu bagi sejumlah tindak kejahatan tertentu yang disebut jaraimu al-hudud (delik hukuman kejahatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu meliputi kasus; perzinahan, tuduhan berzina tanpa bukti yang akurat, pencurian, mabuk-mabukan, muharabah&lt;br /&gt;(pemberontakan dalam negara Islam dan pengacau keamanan), murtad, dan perbuatan melampui batas lainnya. (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Hudud mencakup 7 jenis:&lt;br /&gt;Had zina (hukuman Zina) ditegakkan untuk menjaga keturunan dan nasab.&lt;br /&gt;Had al-Qadzf (hukuman orang yang menuduh berzina tanpa bukti) untuk menjaga kehormatan dan harga diri&lt;br /&gt;Had al-Khamr (Hukuman orang yang minum Kamer (minuman memabukkan) untuk menjaga akal&lt;br /&gt;Had as-Sariqah (Hukuman mencuri) untuk menjaga harta&lt;br /&gt;Had al-Hiraabah (hukuman para perampok) untuk menjaga jiwa, harta dan harga diri kehormatan.&lt;br /&gt;Had al-Baghi (Hukuman pembangkang) untuk menjaga agama dan jiwa&lt;br /&gt;Had ar-Riddah (hukuman orang murtad) untuk menjaga agama. (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIKMAH PENSYARIATAN HUDUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudud disyaria’tkan untuk kemaslahan hamba dan memiliki tujuan yang mulia. Diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Siksaan bagi orang yang berbuat kejahatan dan membuatnya jera. Apabila ia merasakan sakitnya hukuman ini dan akibat buruk yang muncul darinya maka ia akan jera untuk mengulanginya kembali dan dapat mendorongnya untuk istiqamah dan selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Maidah/5:38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Membuat jera manusia dan mencegah mereka terjerumus dalam kemaksiatan, oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mengumumkan had dan menerapkannya dihadapan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (Qs. an-Nur/24:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh ibnu Utsaimin t menyatakan bahwa diantara hikmah dari hudud adalah membuat jera pelaku untuk tidak mengulangi dan orang lain agar tidak terjerumus padanya dan pensucian dan penghapusan dosa. (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Hudud adalah penghapus dosa dan pensuci jiwa pelaku kejahatan tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, ia bertutur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan disekeliling beliau ada sekelompok sahabatnya, “Berjanji setialah kamu kepadaku, untuk tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak  akan mencuri, tidak akan berzina, tidak membunuh anak-anak kamu dan tidak berbuat dusta sama sekali serta tidak bermaksiat dalam hal yang ma’ruf. Siapa di antara kamu yang menepati janjinya, niscaya Allah akan memberikannya pahala. Tetapi siapa saja yang melanggar sesuatu darinya, lalu diberi hukuman didunia maka hukuman itu adalah sebagai kafarah (penghapus dosanya), dan barangsiapa yang melanggar sesuatu darinya lalu ditutupi olah Allah kesalahannya (tidak dihukum), maka terserah kepada Allah; Kalau Dia menghendaki diampuni-Nya kesalahan orang itu dan kalau Dia menghendaki disiksa-Nya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari I/ 64 no: 18, Muslim 3/1333 no: 1709 dan Nasa’i 7/148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menciptakan suasana aman dalam masyarakat dan menjaganya.&lt;br /&gt;e. Menolak keburukan, dosa dan penyakit dari masyarakat, karena kemaksiatan apabila telah merata dan menyebar pada masyarakat maka akan diganti Allah dengan kerusakan dan musibah serta dihapusnya kenikmatan dan ketenangan. Untuk menjaga hal ini maka solusi terbaiknya adalah menegakkan dan menerapkan hudud. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. ar-Rûm/30:41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَحَدٌّ يُقَامُ فِيْ الأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا ثَلاَثِيْنَ صَبَاحًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu hukuman kejahatan yang ditegakkan di muka bumi lebih penduduknya daripada mereka diguyurhujan selama empat puluh hari.” (Hasan ; Shahih Ibnu Majah no; 2057, Ibnu Majah 2/848 no : 2538, Nasa’I 8/76). (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT PENERAPAN AL-HUDUD (9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan al-Hudud tidak dilakukan tanpa 4 syarat:&lt;br /&gt;Pelaku kejahatan adalah seorang mukallaf yaitu baligh dan berakal.&lt;br /&gt;Pelaku kejahatan tidak terpaksa dan dipaksa.&lt;br /&gt;Pelaku kejahatan mengetahui pelarangannya.&lt;br /&gt;Kejahatannya terbukti ia yang melakukannya tanpa ada syubhat. Hal ini bisa dibuktikan dengan pengakuannya sendiri atau dengan bukti persaksian orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUM MENEGAKKAN HUKUMAN HAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diwajibkan kepada wali umur (penguasa) untuk menegakkan dan menerapkan hukuman Had kepada seluruh rakyatnya berdasarkan dalil dari al-Qur`aan, as-Sunnah dan Ijma’ serta dituntut qiyas yang shahih. (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil al-Qur`aan diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Maidah/5:38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil as-Sunnah diantaranya adalah hadits Ubadah bin Shamit yang menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَقِيمُوا حُدُودَ اللَّهِ فِي الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ وَلَا تَأْخُذْكُمْ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tegakkanlah hukuman-hukuman (dari) Allah pada kerabat dan lainnya, dan janganlah kecamanan orang yang suka mencela mempengaruhi kamu dalam (menegakkan hukum-hukum) Allah.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah No. 2058 dan Ibnu Majah No. 2540)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga ulama kaum muslimin sepakat atas hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK DIBENARKAN SYAFAAT (REKOMENDASI) PEMBEBASAN HUKUMAN, BILA SUDAH DIMEJA HIJAUKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila perkaranya telah masuk ke pemerintah atau telah dimeja hijaukan maka dilarang adanya syafaat (rekomendasi) pembebasan atau pengurangan hukuman. Juga pemerintah tidak boleh menerima syafaat dalam hal ini. Hal ini dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa kaum Quraisy sangat memusingkan mereka ihwal seorang perempuan suku Makhzum yang telah melakukan kasus pencurian. Mereka mengatakan, “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu mengemukakan permintaan supaya perempuan itu dibebaskan)?” Tidak ada yang berbicara hal itu, kecuali Usamah kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Beliau menjawab, “Adakah  engkau hendak menolong supaya orang bebas dari hukuman Allah?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu berkhutbah, “Hai sekalian manusia, orang-orang sebelum kamu menjadi sesat hanyalah disebabkan apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan (tidak melaksanakan hukuman kepadanya. Demi Allah, kalaulah seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya Muhammad memotong tangannya.” (Muttafaqun ’alaih)(11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari orang yang member syafaat dalam hukuman had setelah sampai ke pemerintah. Adapun bila belum sampai maka diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh menggagalkan (hukuman had) dengan syafaat, hadiah dan yang lainnya dan tidak boleh memberikan syafaat padanya. Siapa yang menggagalkannya karena hal ini –padahal ia mampu menerapkannya- maka semoga laknat Allah, malaikat dan semua manusia menimpanya.(12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PIHAK YANG BERWENANG MELAKSANAKAN HUDUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang berwenang  menegakkan hudud, kecuali imam, kepala negara, atau wakilnya (aparat pemerintah yang mendapat tugas darinya). Sebab, di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliaulah yang melaksanakannya, demikian pula para Khalifahnya sepeninggal Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah juga mengutus Unais radhiallahu ‘anhu untuk melaksanakan hukum rajam, sebagaimana dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Unais, berangkatlah menemui isteri orang itu, jika ia mengaku (berzina), maka rajamlah!” (HR al-Bukhaari no. 2147)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga memerintahkan para sahabat untuk merajam Maa’iz, dengan menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawalah ia dan rajamlah.” (HR al-Bukhaari no. 6815)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga karena penentuan hukuman had dibutuhkan ijtihad dan tidak aman dari kezholiman, sehingga wajib dilaksanakan oleh imam atau wakilnya. (13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SAMA DALAM HUDUD?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dalam penerapan hukuman had sama seperti lelaki, karena pada asalnya semua yang ditetapkan syari’at untuk lelaki juga berlaku pada wanita sampai ada dalil yang mengkhususkannya. Hal ini umum berlaku dalam ibadah, mu’amal ataupun dalam hukuman. Namun para ulama memberikan 3 pengecualian, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Wanita dihukum dengan duduk sedangkan lelaki dengan berdiri.&lt;br /&gt;b. Pakaian wanita diikat sedangkan lelaki tidak.&lt;br /&gt;c. Jangannya di tahan (diikat) hingga tidak terbuka auratnya, sedangkan lelaki tidak. (14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan: Inilah yang membedakan wanita dengan laki-laki dalam had karena kebutuhan menuntutnya. Kalau tidak maka pada asalnya wanita sama dengan lelaki.(15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah selintas permasalahan hudud dalam islam. Mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada kaum muslimin tentang keindahan dan kelengkapan syari’at islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillahitaufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Asy-Syarhu al-Mumti’ ‘Ala Zad al-Mustaqni’, Syeikh Muhamad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428, Dar Ibnu al-Jauzi&lt;br /&gt;2. Fat-hu Dzi al-Jalal wa al-Ikram, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428 H, al-Maktabah al-Islamiyah.&lt;br /&gt;3. Al-Mulakhash al-Fiqh, Prof.DR. Sholeh bin Abdillah alfauzaan, cetakan pertama tahun 1423 H, Idârat al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta`&lt;br /&gt;4. Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423 H, Maktabah al-Asadi.&lt;br /&gt;5. Manhaj as-Salikin Wa Taudih al-Fiqhu Fiddin, Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di, tahqiq Muhammad bin Abdulaziz al-Khudhairi, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar al-Wathan&lt;br /&gt;6. Dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: EkonomiSyariat.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Al-Mulakhosh al-Fiq-hi 2/521 menukil dari Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’ 7/300.&lt;br /&gt;(2) Lihat Al-Mulakhosh al-Fiqh 2/521 dan Syarhu al-Mumti’ 14/207&lt;br /&gt;(3) Syarhu al-Mumti’ 14/206 dan lihat juga Fat-hu al-Jalaah 5/329 dan Mulakhos al-Fiqh 2/521.&lt;br /&gt;(4) Fiq-hus Sunnah 2/302&lt;br /&gt;(5) Lihat Manhaj as-Sâlikin, Syeikh as-Sa’di hal. 239-244&lt;br /&gt;(6) Lihat Sarhu al-Mumti’ 14/206&lt;br /&gt;(7) Lihat lebih lengkap lagi hikmah pensyariatan had ini dalam al-Mulakhosh al-Fiqh 2/521 dan Taudhih al-Ahkâm 6/210-211&lt;br /&gt;(8) Lihat pembahasan ini dalam al-Mulakhosh al-Fiqh 2/522-523, dan Syarhu al-Mumti’ 14/207-213.&lt;br /&gt;(9) Lihat Taudhih al-Ahkaam, Syeikh al-Basaam 6/210 dan Fat-hu Dzil Jalaal 5/330 serta Syar-hu al-Mumti’ 14/208&lt;br /&gt;(10) Lihat Fathul Bari 12/87 No. 6788, Muslim 2/1315 no 1688, ‘Aunul Ma’bud 12/31 No: 4351, Nasa’I 7/74, Tirmidzi 2/442 no: 1455 dan Ibnu Majah 2/851 no: 2547)&lt;br /&gt;(10) Lihat Majmu’ Al-Fataawa 28/298&lt;br /&gt;(11) Lihat al-Mulakhosh al-Fiqh 2/523-524&lt;br /&gt;(14) Lihat masalah ini pada Syarhu al-Mumti’ 14/220-221&lt;br /&gt;(15) Syarhu al-Mumti’ 14/221&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-347384811743432198?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/347384811743432198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/347384811743432198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/tahukah-anda-apa-itu-hudud.html' title='Tahukah Anda Apa itu Hudud?'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-8165494298182701298</id><published>2010-06-13T17:49:00.001-07:00</published><updated>2010-06-13T18:34:51.337-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Syariah - Artikel - Awas Korupsi Mengintai'/><title type='text'>Awas Korupsi Mengintai!!!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dari Abu Humaid as-Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hadiah untuk para pegawai adalah ghulul (harta yang di dapat dari khianat terhadap amanah, korupsi).” (Hr. Ahmad, no. 23601)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَدِىِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولاً يَأْتِى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Adi bin ‘Amirah al-Kindi, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang kami beri amanah dengan suatu pekerjaan, lalu dia tidak menyerahkan sebuah jarum atau yang lebih bernilai daripada itu kepada kami, maka harta tersebut akan dia bawa pada hari kiamat sebagai harta ghulul (korupsi).” (Hr. Muslim, no. 4848)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang kami pekerjakan, lalu dia telah kami beri gaji, maka semua harta yang dia dapatkan di luar gaji (dari pekerjaan tersebut -pent) adalah harta yang berstatus ghulul (korupsi).” (Hr. Abu Daud, no. 2943; Dalam Kaifa, hlm. 11, Syekh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, “Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih dan dinilai shahih oleh al-Albani.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Musa bin ‘Uqbah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika Iyadh bin Ghanam diangkat sebagai Gubernur Himsh di masa Khalifah Umar bin Khaththab, sejumlah keluarganya datang menemuinya dengan maksud mengharap bantuan Iyadh. Iyadh menyambut mereka dengan wajah ceria, memberi tempat untuk menginap, dan memuliakan mereka. Mereka tinggal selama beberapa hari. Setelah itu, mereka berterus-terang meminta bantuan. Mereka juga bercerita bagaimana susahnya perjalanan, dengan harapan agar mendapat bantuan. Iyadh lantas memberikan uang sebanyak sepuluh dinar, kepada masing-masing mereka. Mereka semua berjumlah lima orang. Ternyata mereka kembalikan uang sepuluh dinar tersebut. Mereka merasa marah dan mencela Iyadh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iyadh lantas berkata, ‘Wahai anak-anak pamanku, demi Allah, aku tidaklah mengingkari hubungan kekerabatan yang ada di antara kita. Aku juga menyadari bahwa kalian punya hak untuk mendapat bantuanku, serta jauhnya perjalanan kalian sehingga bisa sampai sini. Namun, aku tidak punya melainkan apa yang sudah kuberikan. Untuk lebih daripada itu, aku harus menjual budakku dan barang-barang kebutuhanku, maka tolong pahamilah keadaanku.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengatakan, ‘Demi Allah, kami tidak bisa menerima alasanmu karena engkau adalah penguasa separuh Negeri Syam (sekarang meliputi Suriah, Yordania, Palestina, dan Libanon -pent). Bagaimana mungkin engkau tidak mampu memberi kami ongkos perjalanan pulang yang mencukupi?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dengan tegas mengatakan, ‘Apakah kalian menyuruhku untuk mencuri harta Allah?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فًوً اللهٍ! لَأَنْ أُشقَّ بِالْمِنْشَارِ أُحِبُّ إليَّ مِنْ أَنْ أَخُوْنَ فُلُساً أَوْ أَتَعَدَّى!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, seandainya badanku dibelah dengan gergaji, itu lebih aku sukai daripada aku berkhianat mengambil harta negara, meski hanya satu fulus (seratus rupiah) atau aku bertindak melampaui batas.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata, ‘Kami sudah bisa memahami kemampuan finansialmu. Sebagai gantinya, berilah kami jabatan yang menjadi kewenanganmu. Kami akan melaksanakan tugas sebagaimana para pegawai yang lain dan kami mendapatkan gaji sebagaimana yang juga mereka dapatkan. Engkau telah mengenal kami dengan baik. Kami tidak akan menyalahgunakan wewenang yang kau berikan kepada kami.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata, ‘Sungguh aku adalah orang yang sangat ingin berbuat baik dan memberi jasa kepada orang lain. Namun, apa jadinya jika sampai berita kepada Umar bahwa aku memberi jabatan kepada sejumlah keluargaku. Tak ayal lagi, beliau pasti akan menyalahkanku.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata, ‘Bukankah Abu Ubaidah yang mengangkatmu sedangkan engkau masih kerabat dekat Abu Ubaidah, dan nyatanya Umar menyetujui pengangkatanmu? Seandainya engkau mengangkat kami niscaya Umar pun akan setuju.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata, ‘Aku tidaklah sebagaimana Abu Ubaidah dalam pandangan Umar.’ Akhirnya mereka ngeloyor sambil mencela Iyadh.” (Shifat al-Shafwah, karya Ibnul Jauzi, 1/669–670, cet. Dar al-Ma’rifah, Beirut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliaulah Iyadh bin Ghanam bin Zuhair. Beliau masuk Islam sebelum perjanjian Hudaibiyah. Beliau pun menyaksikan Hudaibiyah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Abu Ubaidah hendak meninggal dunia, Abu Ubaidah mengangkat Iyadh untuk menggantikan jabatannya dan Khalifah Umar menyetujui keputusan beliau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang yang dermawan. Ada yang mengadukan sifat beliau ini kepada Umar dengan tuduhan beliau suka menghambur-hamburkan harta, dengan maksud agar beliau dipecat oleh khalifah. Mendengar laporan tersebut, Umar malah berkata, “Beliau hanya dermawan dengan hartanya. Akan tetapi, jika beliau memegang harta Allah (uang negara), maka tidak akan beliau berikan sedikit pun kepada siapa pun. Aku tidak akan memecat orang yang diangkat oleh Abu Ubaidah.” Kisah di atas menunjukkan benarnya perkataan Umar bin Khaththab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan harta sedikit pun. Beliau meninggal tahun 20 H, dalam usia 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kehati-hatian shahabat terhadap korupsi, suatu hal yang langka kita jumpai di zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan menjumpai suatu masa yang di masa tersebut orang tidak lagi memiliki kepedulian apakah dia mendapatkan harta dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram.” (Hr. Bukhari, no 2083)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syekh Abdul Muhsin al-Abbad, orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap halal dan haram memiliki prinsip bahwa semua harta yang bisa didapatkan itulah harta yang halal, sedangkan semua harta yang tidak bisa mereka dapatkan itulah harta yang haram. Adapun dalam ajaran Islam, sesuatu yang halal adalah semua hal yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, sesuatu yang haram adalah semua hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Kaifa Yu`addi al-Muwazhzhaf al-Amanah, hlm. 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنَ الإِنْسَانِ بَطْنُهُ ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَأْكُلَ إِلاَّ طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bagian badan manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mampu untuk memakan makanan yang halal saja, maka hendaknya dia usahakan.” (Hr. Bukhari, no. 6733, dari Jundab bin Abdillah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, S.S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: www.pengusahamuslim.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-8165494298182701298?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8165494298182701298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8165494298182701298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/awas-korupsi-mengintai.html' title='Awas Korupsi Mengintai!!!'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-8775555031796078785</id><published>2010-06-13T17:48:00.001-07:00</published><updated>2010-06-13T19:22:24.358-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Syariah - Denda dalam Kacamata Syariah'/><title type='text'>Denda dalam Kacamata Syariah</title><content type='html'>Di tengah-tengah masyarakat sering kita jumpai berbagai bentuk denda berkaitan dengan transaksi muamalah. Seorang karyawan yang tidak masuk kerja tanpa izin akan diberikan sanksi berupa pemotongan gaji. Telat membayar angsuran kredit motor juga akan mendapatkan denda setiap hari, dengan nominal rupiah tertentu. Seorang penerjemah buku juga akan didenda dengan nominal tertentu setiap harinya oleh penerbit, jika buku ternyata belum selesai diterjemahkan sampai batas waktu yang telah disepakati. Percetakan yang tidak tepat waktu juga dituntut untuk membayar denda dengan jumlah tertentu. Bayar listrik sesudah tanggal 20 juga akan dikenai denda oleh pihak PLN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah hukum dari berbagai jenis denda di atas, apakah diperbolehkan secara mutlak, ataukah terlarang secara mutlak, ataukah perlu rincian? Inilah tema bahasan kita pada edisi ini. Persyaratan denda sebagaimana di atas diistilahkan oleh para ulama dengan nama syarth jaza’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum persyaratan semisal ini berkaitan erat dengan hukum syarat dalam transaksi dalam pandangan para ulama. Ulama tidak memiliki titik pandang yang sama terkait dengan hukum asal berbagai bentuk transaksi dan persyaratan di dalamnya, ada dua pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama menyatakan bahwa hukum asalnya adalah terlarang, kecuali persyaratan-persyaratan yang dibolehkan oleh syariat. Adapun pendapat kedua menegaskan bahwa hukum asal dalam masalah ini adalah sah dan boleh, tidak haram dan tidak pula batal, kecuali terdapat dalil dari syariat yang menunjukkan haram dan batalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat yang kedua, dengan alasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dalam banyak ayat dan hadits, kita dapatkan perintah untuk memenuhi perjanjian, transaksi, dan persyaratan, serta menunaikan amanah. Jika memenuhi dan memperhatikan perjanjian secara umum adalah perkara yang diperintahkan, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa hukum asal transaksi dan persyaratan adalah sah. Makna dari sahnya transaksi adalah maksud diadakannya transaksi itu terwujud, sedangkan maksud pokok dari transaksi adalah dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaum muslimin itu berkewajiban melaksanakan persyaratan yang telah mereka sepakati.” (Hr. Abu Daud dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna kandungan hadits ini didukung oleh berbagai dalil dari al-Quran dan as-Sunnah. Maksud dari persyaratan adalah mewajibkan sesuatu yang pada asalnya tidak wajib, tidak pula haram. Segala sesuatu yang hukumnya mubah akan berubah menjadi wajib jika terdapat persyaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat inilah yang dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnul Qayyim. Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Segala syarat yang tidak menyelisihi syariat adalah sah, dalam semua bentuk transaksi. Semisal penjual yang diberi syarat agar melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu dalam transaksi jual-beli, baik maksud pokoknya adalah penjual ataupun barang yang diperdagangkan. Syarat dan transaksi jual-belinya adalah sah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Kaidah yang sesuai dengan syariat adalah segala syarat yang menyelisihi hukum Allah dan kitab-Nya adalah syarat yang dinilai tidak ada (batil). Adapun syarat yang tidak demikian adalah tergolong syarat yang harus dilaksanakan, karena kaum muslimin berkewajiban memenuhi persyaratan yang telah disepakati bersama, kecuali persyaratan yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Inilah pendapat yang dipilih oleh guru kami, Ibnu Taimiyyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar keterangan di atas, maka syarth jaza’i adalah diperbolehkan, asalkan hakikat transaksi tersebut bukanlah transaksi utang-piutang dan nominal dendanya wajar, sesuai dengan besarnya kerugian secara riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah kutipan dua fatwa para ulama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah keputusan Majma’ Fikih Islami yang bernaung di bawah Munazhamah Mu’tamar Islami, yang merupakan hasil pertemuan mereka yang ke-12 di Riyadh, Arab Saudi, yang berlangsung dari tgl 23–28 September 2000. Hasil keputusannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan pertama. Syarth jaza’i adalah kesepakatan antara dua orang yang mengadakan transaksi untuk menetapkan kompensasi materi yang berhak didapatkan oleh pihak yang membuat persyaratan, disebabkan kerugian yang diterima karena pihak kedua tidak melaksanakan kewajibannya atau terlambat dalam melaksanakan kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan kedua. Adanya syarth jaza’i (denda) yang disebabkan oleh keterlambatan penyerahan barang dalam transaksi salam tidak dibolehkan, karena hakikat transaksi salam adalah utang, sedangkan persyaratan adanya denda dalam utang-piutang dikarenakan faktor keterlambatan adalah suatu hal yang terlarang. Sebaliknya, adanya kesepakatan denda sesuai kesepakatan kedua belah pihak dalam transaksi istishna’ adalah hal yang dibolehkan, selama tidak ada kondisi tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istishna’ adalah kesepakatan bahwa salah satu pihak akan membuatkan benda tertentu untuk pihak kedua, sesuai dengan pesanan yang diminta. Namun bila pembeli dalam transaksi ba’i bit-taqshith (jual-beli kredit) terlambat menyerahkan cicilan dari waktu yang telah ditetapkan, maka dia tidak boleh dipaksa untuk membayar tambahan (denda) apa pun, baik dengan adanya perjanjian sebelumnya ataupun tanpa perjanjian, karena hal tersebut adalah riba yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan ketiga. Perjanjian denda ini boleh diadakan bersamaan dengan transaksi asli, boleh pula dibuat kesepakatan menyusul, sebelum terjadinya kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan keempat. Persyaratan denda ini dibolehkan untuk semua bentuk transaksi finansial, selain transaksi-transaksi yang hakikatnya adalah transaksi utang-piutang, karena persyaratan denda dalam transaksi utang adalah riba senyatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal ini, maka persyaratan ini dibolehkan dalam transaksi muqawalah bagi muqawil (orang yang berjanji untuk melakukan hal tertentu untuk melengkapi syarat tertentu, semisal membangun rumah atau memperbaiki jalan raya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muqawalah adalah kesepakatan antara dua belah pihak, pihak pertama berjanji melakukan hal tertentu untuk kepentingan pihak kedua dengan jumlah upah tertentu dan dalam jangka waktu yang tertentu pula. Demikian pula, persyaratan denda dalam transaksi taurid (ekspor impor) adalah syarat yang dibolehkan, asalkan syarat tersebut ditujukan untuk pihak pengekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam transaksi istishna’, asalkan syarat tersebut ditujukan untuk pihak produsen, jika pihak-pihak tersebut tidak melaksanakan kewajibannya atau terlambat dalam melaksanakan kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, tidak boleh diadakan persyaratan denda dalam jual-beli kredit sebagai akibat pembeli yang terlambat untuk melunasi sisa cicilan, baik karena faktor kesulitan ekonomi ataupun keengganan. Demikian pula dalam transaksi istishna’ untuk pihak pemesan barang, jika dia terlambat menunaikan kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan kelima. Kerugian yang boleh dikompensasikan adalah kerugian finansial yang riil atau lepasnya keuntungan yang bisa dipastikan. Jadi, tidak mencakup kerugian etika atau kerugian yang bersifat abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan keenam. Persyaratan denda ini tidak berlaku, jika terbukti bahwa inkonsistensi terhadap transaksi itu disebabkan oleh faktor yang tidak diinginkan, atau terbukti tidak ada kerugian apa pun disebabkan adanya pihak yang inkonsisten dengan transaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan ketujuh. Berdasarkan permintaan salah satu pihak pengadilan, dibolehkan untuk merevisi nominal denda jika ada alasan yang bisa dibenarkan dalam hal ini, atau disebabkan jumlah nominal tersebut sangat tidak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah fatwa Haiah Kibar Ulama Saudi. Secara ringkas, keputusan mereka adalah sebagai berikut, “Syarth Jaza’i yang terdapat dalam berbagai transaksi adalah syarat yang benar dan diakui sehingga wajib dijalankan, selama tidak ada alasan pembenar untuk inkonsistensi dengan perjanjian yang sudah disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada alasan yang diakui secara syar’i, maka alasan tersebut mengugurkan kewajiban membayar denda sampai alasan tersebut berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nominal denda terlalu berlebihan menurut konsesus masyarakat setempat, sehingga tujuan pokoknya adalah ancaman dengan denda, dan nominal tersebut jauh dari tuntutan kaidah syariat, maka denda tersebut wajib dikembalikan kepada jumlah nominal yang adil, sesuai dengan besarnya keuntungan yang hilang atau besarnya kerugian yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nilai nominal tidak kunjung disepakati, maka denda dikembalikan kepada keputusan pengadilan, setelah mendengarkan saran dari pakar dalam bidangnya, dalam rangka melaksanakan firman Allah, yaitu surat an-Nisa’: 58.” (Taudhih al-Ahkam: 4/253–255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, anggapan sebagian orang bahwa syarth jaza’i secara mutlak itu mengandung unsur riba nasi’ah adalah anggapan yang tidak benar. Anggapan ini tidaklah salah jika ditujukan untuk transaksi-transaksi yang pada asalnya adalah utang-piutang, semisal jual-beli kredit dan transaksi salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, S.S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: www.pengusahamuslim.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipublikasikan oleh: EkonomiSyariat.Com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-8775555031796078785?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8775555031796078785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8775555031796078785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/denda-dalam-kacamata-syariah.html' title='Denda dalam Kacamata Syariah'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-202822361368847750</id><published>2010-06-13T17:46:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:19:20.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam - Ulasan Lengkap Seputar Bangkai'/><title type='text'>Ulasan Lengkap Seputar Bangkai</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Islam dengan kesempurnaan syari’atnya sangat memperhatikan perkara yang langsung bersinggungan dengan kehidupan manusia apalagi bersinggungan dengan halal dan haram. Sebab makanan yang masuk pada perut seseorang mempengaruhi akhlak dan dikabulkannya do’a, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya,”Hai rasul-rasul,makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh .Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Mu’minun: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (Qs. al-Baqarah: 172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya haram,ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!” (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentunya perlu mendapatkan perhatian serius, khususnya dizaman kiwari ini, dimana kaum muslimin telah jauh dari ajaran syari’atnya dan telah menganggap ringan permasalahan ini. Sehingga ditemui banyak dijual dipasar-pasar hewan sembelihan yang tidak disembelih secara syari’at alias bangkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita terhindar darinya perlu sekali diulas permasalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkai dalam bahasa Arab disebut Al-Mayyitah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mayyitah dalam pengertian bahasa Arab adalah sesuatu yang mati tanpa disembelih.(1) Sedangkan dalam pengertian para ulama syari’at, Al-Mayyitah (bangkai) adalah hewan yang mati tanpa sembelihan syar’i, dengan cara mati sendiri tanpa sebab campur tangan manusia dan terkadang dengan sebab perbuatan manusia apabila dilakukan tidak sesuai sembelihan yang diperbolehkan. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian definisi bangkai mencakup:&lt;br /&gt;Yang mati tanpa disembelih, seperti kambing yang mati sendiri.&lt;br /&gt;Yang disembelih dengan sembelihan tidak syar’i, seperti kambing yang disembelih orang musyrik.&lt;br /&gt;Yang tidak menjadi halal dengan disembelih, seperti babi disembelih seorang muslim sesuai syarat penyembelihan syar’i. (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama memasukkan kedalam kategori bangkai semua anggota tubuh yang dipotong dari hewan yang masih hidup dengan dasar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَمَا قُطِعَ مِنْهَا فَهُوَ مَيْتَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua yang dipotong dari hewan dalam keadaan masih hidup adalah bangkai.” (HR Abu Daud no. 2858dan Ibnu Majah no. 3216 dan dishahihkan Al Albani dalam shahih sunan Abu Daud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian hukumnya sama dengan hukum-hukum bangkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenajisan Bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik kepada keadaan hewan bangkai, dapat dibagi menjadi tiga bagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Yang ada diluar kulit seperti bulu dan rambutnya serta sejenisnya. Hukumnya suci tidak najis (4), didasarkan pada firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (Qs. Al Nahl 16:80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini umum meliputi hewan yang disembelih dan tidak disembelih. Juga Allah menyampaikan ayat ini untuk menjelaskan karunia-Nya terhadap hamba-Nya yang menunjukkan kehalalannya. (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagian bawah kulitnya seperti daging dan lemak. Hukumnya najis secara ijma’ (6) dan tidak dapat disucikan dengan disamak. (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah:”Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang disembelih atas nama selain Allah.” (Qs. Al An’am 6: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikecualikan dalam hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bangkai ikan dan belalang, didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.” (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no.1118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti lalat, lebah, semut dan sejenisnya, didasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa bila seekor lalat hinggap di minuman salah seorang kalian maka hendaknya menenggelamkannya kemudian membuangnya, karena ada pada salah satu dari kedua sayapnya penyakit dan yang lainnya obatnya.” (HR Al Bukhari no. 3320).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tulang, tanduk dan kuku bangkai. Ini semuanya suci sebagaimana dijelaskan imam Al Bukhari dari Al Zuhri tentang tulang bangkai seperti gajah dan lainnya dengan sanad mu’allaq dalam shahih Al Bukhari (1/342). Imam Al Zuhri menyatakan: Aku telah menemui sejumlah orang dari ulama salaf menggunakannya sebagai sisir dan berminyak dengannya, mereka memperbolehkannya. (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Bangkai manusia dengan dasar sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya seorang muslim itu tidak najis.” (HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Majduddin Ibnu Taimiyah menyatakan: Ini umum mencakup yang hidup dan yang mati. Al-Bukhari menyatakan: Ibnu Abas menyatakan: seorang muslim itu tidak najis baik masih hidup atau setelah mati. (9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliaupun (syeikh Majduddin Ibnu Taimiyah) membuat bab dalam kitab Al Muntaqa: Bab yang menerangkan bahwa muslim itu tidak najis. (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tubuh orang kafir terjadi perselisihan tentang kesuciannya dan yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan kesuciannya, dengan dasar diperbolehkannya menikahi wanita ahlu kitab. Padahal jelas akan bersentuhan dan keringatnya akan menempel dan ini tidak dapat dielakkan khususnya ketika berhubungan intim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (Qs. 9: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka najis disini adalah karena keyakinan dan joroknya mereka. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kulitnya.&lt;br /&gt;Hukum kenajisannya mengikuti hukum bangkainya. Apabila bangkai hewan tersebut suci maka kulitnyapun suci dan bila najis maka kulitnyapun najis. Diantara contoh yang suci adalah ikan dengan dasar firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.” (Qs. 5:96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abas menyatakan: adalah yang diambil hidup-hidup dan  adalah yang diambil sudah mati.&lt;br /&gt;Sehingga kulitnyapun suci. (11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Memakan Bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat islam telah mengharamkan memakan bangkai dengan dasar pengharaman yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah. Pengharaman bangkai dalam Al Qur’an ada dalam beberapa ayat, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” (Qs. Al Baqarah 2:173)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya.” (Qs. Al Maidah 5:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah:”Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al An’am 6:145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam adalah hadits Ibnu Abas radhiallahu ‘anhu beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَيِّتَةً أُعْطِيَتْهَا مَوْلَاةٌ لِمَيْمُونَةَ مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِجِلْدِهَا قَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ قَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mendapati seekor bangkai kambing yang diberikan dari shodaqah untuk Maula (bekas budak) milik Maimunah lalu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Mengapa tidak kalian manfaatkan kulitnya. Mereka menjawab: Inikan bangkai. Beliau bersabda: Yang diharamkan hanyalah memakannya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu kaum muslimin sepakat tentang larangan memakan bangkai dalam keadaan tidak darurat. (12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Dihalalkan dari Bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hukum memakan bangkai diatas berlaku pada semua bangkai kecuali dua jenis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bangkai hewan laut. Didasarkan kepada firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.” (Qs. 5: 96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam hadits Abu Hurairoh radhialllahu ‘anhu yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang bertanya kepada Rasulullah dengan menyatakan: Wahai Rasulullah! Kami mengarungi lautan dan hanya membawa sedikit air, apabila kami berwudhu dengannya, maka kami kehausan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Rasululloh shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab: Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR Sunan Al Arba’ah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dan dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa’ no.9 dan Silsilah Al Ahadits Al Shahihah no. 480)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.” (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shahihah no.1118)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikuatkan dengan amalan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya yang memakan bangkai ikan yang ditemukan dipantai, sebagaimana dijelaskan Jabir dalam pernyataan beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غَزَوْنَا جَيْشَ الْخَبَطِ وَأُمِّرَ أَبُو عُبَيْدَةَ فَجُعْنَا جُوعًا شَدِيدًا فَأَلْقَى الْبَحْرُ حُوتًا مَيِّتًا لَمْ نَرَ مِثْلَهُ يُقَالُ لَهُ الْعَنْبَرُ فَأَكَلْنَا مِنْهُ نِصْفَ شَهْرٍ فَأَخَذَ أَبُو عُبَيْدَةَ عَظْمًا مِنْ عِظَامِهِ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحْتَهُ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُلُوا رِزْقًا أَخْرَجَهُ اللَّهُ أَطْعِمُونَا إِنْ كَانَ مَعَكُمْ فَأَتَاهُ بَعْضُهُمْ فَأَكَلَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami berperang pada pasukan Al Khobath (dinamakan demikian karena mereka memakan dedaunan yang gugur dari pohonnya) dan yang menjadi amir (panglima) adalah Abu Ubaidah, lalu kami merasa sangat lapar. Tiba-tiba lautan melempar bangkai ikan yang tidak pernah kami lihat sebesar itu, dinamakan ikan Al Anbar (paus). Lalu kami memakan ikan tersebut selama setengah bulan, lalu Abu Ubaidah memasang salah satu tulangnya lalu orang berkendaraan dapat lewat dibawahnya. Ketika kami sampai diMadinah, kami sampaikan hal tersebut kepada Nabi n lalu beliau bersabda: Makanlah! Itu rizki yang Allah karuniakan. Berilah untuk kami makan bila ada (sekarang) bersama kalian. Lalu sebagian mereka menyerahkannya dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam memakannya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Belalang. Didasarkan pada hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dihalalkan bagu kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa.” (HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishahihkan Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shahihah no.1118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inipun didukung oleh perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya yang memakan belalang seperti dikisahkan Abdullah bin Abi ‘Aufa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ أَوْ سِتًّا كُنَّا نَأْكُلُ مَعَهُ الْجَرَادَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam tujuh atau enam peperangan, kami memakan bersama beliau belalang.” (HR Al Jamaah kecuali Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga para ulama sepakat membolehkan memakan belalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Menjual Bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syari’at islam melarang menjual bangkai sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khomer (miras), bangkai, babi dan patung berhala. Lalu ada yang berkata: Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai, karena ia dapat digunakan untuk mengecat (mendempul) perahu, meminyaki kulit dan untuk bahan bakar lampu. Maka beliau menjawab: Tidak boleh! Itu haram. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ketika itu: Semoga Alah mencelakakan orang Yahudi, sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya , lalu mereka meleburnya (menjadi minyak) kemudian menjualnya dan memakan hasil jualnya.” (HR Al Jama’ah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan ini bersifat umum pada semua bangkai termasuk manusia, kecuali hewan laut dan belalang. Larangan menjual bangkai manusia mencakup muslim dan kafir. Oleh karena itu Imam Al Bukhari membuat Bab dalam kitab shahihnya dengan judul: Bab Thorhu Jaif Al musyrikin Wala Yu’khodz Lahum Tsaman (Bab yang menjelaskan membuang bangkai orang-orang musyrikin dan tidak mengambil untuknya tebusan harta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap bab ini dengan menyatakan: pernyataan imam Al Bukhari: (Tidak mengambil untuknya tebusan harta) mengisyaratkan kepada hadits Ibnu Abas yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” أَنَّ الْمُشْرِكِينَ أَرَادُوا أَنْ يَشْتَرُوا جَسَدَ رَجُلٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَبَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَهُمْ إِيَّاهُ ” أخرجه الترمذي وغيره&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kaum musyrikin ingin membayar jasab seorang musyrikin, lalu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam enggan menjualnya kepada mereka. (HR Al Tirmidzi dan selainnya) (13). Ibnu Ishaaq dalam kitab Al Maghazi menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” أَنَّ الْمُشْرِكِينَ سَأَلُوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَهُمْ جَسَدَ نَوْفَلَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُغِيْرَةِ , وَكَانَ اقْتَحَمَ الْخَنْدَقَ ; فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ حَاجَةَ لَنَا بِثَمَنِهِ وَلاَ جَسَدِهِ “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kaum musyrikin meminta Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam untuk menjual kepada mereka jasad Naufal bin Abdillah bin Al Mughiroh dan ia dulu ikut menyerang Khondak. Maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab: Tidak butuh dengan nilai harganya dan tidak juga jasadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hisyam menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah sampai kepada kami dari Al Zuhri bahwa mereka telah mengeluarkan untuk itu sepuluh ribu. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari mengambil sisi pendalilan atas hadits bab dari sisi adat menguatkan bahwa keluarga orang kafir yang terbunuh diperang badar seandainya mengetahui akan diterima uang tebusan mereka untuk mendapatkan jasad-jasad mereka (yang terbunuh) tentulah akan mengeluarkan sebanyak mungkin untuk itu. Hal ini adalah penguat atas hadits Ibnu Abas walaupun sanadnya tidak kuat. (14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Pengharaman Bangkai (15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama menyampaikan beberapa hikmah pengharaman bangkai, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bangkai pada umumnya berbahaya karena mati Karena sakit atau lemah atau karena mikroba, bakteri dan virus serta yang sejenisnya yang mengeluarkan racun. Terkadang mikroba penyakit tersebut bertahan hidup dalam bangkai tersebut cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tabiat manusia menolaknya dan menganggapnya jijik dan kotor.&lt;br /&gt;c. Adanya darah jelek yang tertahan tidak keluar yang tidak hilang kecuali dengan sembelihan syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, mudah-mudahan membuat kita semakin berhati-hati dalam memilih makanan yang dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillahi Al-Taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;Al Qamus Al Muhieth, Al Fairuzzabadi, tahqiq Muhammad Na’im Al ‘Urqususi, cetakan kelima tahun 1416H, Muassasah Al Risalah, Bairut.&lt;br /&gt;Al Ath’imah Wa Ahkaam Al Shoid Wal Dzabaa’ih, DR. Sholeh bin Abdillah Al Fauzan, cetakan kedua tahun 1419H, Maktabah Al Ma’arif, Riyadh.&lt;br /&gt;Catatan penulis dari keterangan Syaikhuna Abdulqayyum bin Muhammad Al Syahibani dalam pelajaran Hadits di Fakultas hadits, Universitas Islam Madinah.&lt;br /&gt;Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaad Al Mustaqni’, Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqiq DR. Kholid Al Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khoil, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasatu Aasaam.&lt;br /&gt;Shahih Fiqhus Sunnah, Abu Malik Kamal bin Al Sayyid Saalim, tanpa tahun, Al maktabah Al Taufiqiyah, Kairo, Mesir 1/73.&lt;br /&gt;Nailul Authar Bi Syarhi Al Muntaqa Lil Akhbaar, Muhamad bin Ali Al Syaukani, Tahqiq Muhammad saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415H, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Baerut&lt;br /&gt;Al Mughni, Ibnu Qudamah, Tahqiqi Abdullah bin Abdulmuhsin Al Turki, cetakan kedua tahun 1413H, Dar Hajar.&lt;br /&gt;Fathul Baari Syarah Shahih Al Bokhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Maktabah Al Salafiyah, tanpa cetakan dan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnotes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Lihat, Al Qamus Al Muhieth, Al Fairuzzabadi, tahqiq Muhammad Na’im AL ‘Urqususi, cetakan kelima tahun 1416H, Muassasah Al Risalah, Bairut. hal 206.&lt;br /&gt;(2) Al Ath’imah Wa Ahkaam Al Shoid Wal Dzabaa’ih, DR. Sholeh bin Abdillah Al Fauzan, cetakan kedua tahun 1419H, Maktabah Al Ma’arif, Riyadh, hal. 195&lt;br /&gt;(3) Diambil dari catatan penulis dari keterangan Syeikhuna Abdulqayyum bin Muhammad Al Syahibani dalam pelajaran Hadits di Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah tanggal 13 Jumadal Ula 1418H.&lt;br /&gt;(4) Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaad Al Mustaqni’, Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqiq DR. Kholid Al Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khoil, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasatu Aasaam, 1/78&lt;br /&gt;(5) Diambil dari catatan penulis dari keterangan Syeikh Abdul Qayyum.&lt;br /&gt;(6) Shahih Fiqhus Sunnah, Abu Malik Kamal bin Al Sayyid Saalim, tanpa tahun, Al maktabah Al Taufiqiyah, Kairo, Mesir 1/73.&lt;br /&gt;(7) Syarhul Mumti’ 1/78&lt;br /&gt;(8) Lihat Shahih fiqhus Sunnah 1/73.&lt;br /&gt;(9) Lihat Nailul Authar Bi Syarhi Al Muntaqa Lil Akhbaar, Muhamad bin Ali Al Syaukani, Tahqiq Muhammad saalim Haasyim, cetakan pertama tahun 1415H, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Baerut 1/67&lt;br /&gt;(10) Ibid&lt;br /&gt;(11) Syarhul Mumti’ 1/69&lt;br /&gt;(12) Lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah, Tahqiqi Abdullah bin Abdulmuhsin Al Turki, cetakan kedua tahun 1413H, Dar Hajar. 13/330&lt;br /&gt;(13) Didhaifkan Syeikh Al Albani dalam Dha’if sunan At Tirmidzi&lt;br /&gt;(14) Fathul Baari Syarah Shahih Al Bokhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Maktabah Al Salafiyah, tanpa cetakan dan tahun, 6/283&lt;br /&gt;(15) Diambil dari kitab Al Ath’imah karya Syeikh Sholih Al Fauzan hal. 196&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: ekonomisyariat.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-202822361368847750?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/202822361368847750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/202822361368847750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/06/ulasan-lengkap-seputar-bangkai.html' title='Ulasan Lengkap Seputar Bangkai'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-2732025453643864619</id><published>2010-04-26T00:09:00.001-07:00</published><updated>2010-06-13T18:22:54.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah - Syahadatain - Madludlu Syahadatain'/><title type='text'>Madludlu Syahadatain ( Kandungan Kalimat Syahadat )</title><content type='html'>Madludlu Syahadatain ( Kandungan Kalimat Syahadat )&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;A. Tujuan Materi&lt;br /&gt;1. Peserta tarbiyah  dapat memahami kandungan makna dari kata "Syahadah" berikut  konsekuensinya.&lt;br /&gt;2. Peserta tarbiyah dapat memahami pengertian Iman  serta hubungannya dengan syahadat.&lt;br /&gt;3. Peserta tarbiyah mampu  menyadari bahwa hanya dengan jalan istiqamah di dalam bersyahadat yang  dapat mengantarkan manusia menuju kebahagiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kisi-kisi Materi&lt;br /&gt;1.  Kandungan kata "Syahadah"&lt;br /&gt;• Iqrar (pengakuan) (QS. 3:18 , 81 )&lt;br /&gt;•  Sumpah (QS. 63:2 , 24:6 , 8 )&lt;br /&gt;• Perjanjian (QS. 3:18 , 5:7 , 2:26 -27  )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Iman (QS. 2:285 dan Hadits "al-imanu, tasdiiqun bi  qalbi...")&lt;br /&gt;• Perkataan&lt;br /&gt;• Membenarkan&lt;br /&gt;• Amal&lt;br /&gt;3.  Istiqamah  (QS. 41:30 )&lt;br /&gt;• Berani(QS. 41:30 , 5:52 )&lt;br /&gt;• Tenang (QS. 41:30 ,  13:28 )&lt;br /&gt;• Optimis (QS. 41:30 , 24:55 )&lt;br /&gt;4.  Bahagia (QS. 3:185 )&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-2732025453643864619?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2732025453643864619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2732025453643864619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/04/madludlu-syahadatain-kandungan-kalimat.html' title='Madludlu Syahadatain ( Kandungan Kalimat Syahadat )'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-4012973144951278168</id><published>2010-04-26T00:02:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T18:24:39.421-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah - Syahadatain 3 - Ma&apos;na Ilah'/><title type='text'>Materi Tarbiyah Makna Syahadatain bagian 3 : Ma'na Ilah ( Makna Kata Tuhan )</title><content type='html'>Materi kata al-ilah dalam bahasa Arab adalah alif, lam , dan ha. Dalam  kamus-kamus bahasa terdapat makna-makna berikut yang dihasilkan dari  materi kata tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Alihtu ila fulaanin, yg bermakna ‘saya  merasa tenang dengannya dan damai bersamanya’.&lt;br /&gt;2- Aliha ar-rajulu  ya’lihu yg bermakna ‘lelaki itu meminta tolong’.&lt;br /&gt;3- Aliha ar-rajulu  ila ar-rajuli yg bermakna ‘lelaki itu pergi mendatangi nya kerana dia  sangat merindukannya’.&lt;br /&gt;4- Aliha al-fashil bi-ummihi yg bermakna ‘anak  itu merasa amat cinta terhadap ibunya’.&lt;br /&gt;5- Aliha ilaahatan wa  uluuhatan yg bermakna menyembah&lt;br /&gt;6- Laaha yaliihu laihan yg bermakna  ‘dia terhijab’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikut kaedah bahasa Arab, kata-kata yg berasal  dari materi bentukan kata yg sama di antara katakata tersebut terdapat  keterkaitan. Jika kita mencermati pengertian kata-kata sebelumnya, kita  akan dapat keterkaitan yg jelas di antara kata-kata tersebut,”saya tak  akan meminta tolong kecuali kepada orang yang saya merasa yakin  terhadapnya, yang saya senangi dan saya anggap lebih kuat dari saya,  sehingga ia dapat menolong saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh kerana itu tuhan selalu  menjadi tempat tumpuan, tempat mencari ketenangan, tempat meminta  bantuan, tempat meminta perlindungan, dicintai, dirindukan, disembah,  sementara Dia terhijab dari hamba-Nya. Karena, ketika kita mengucapkan,  “Tidak ada tuhan selain Allah,” maka dalam kalimat tersebut secara  tersirat terkandung makna - makna tertentu, seakan-akan saya berkata,  tak ada tempat mencari ketenangan, tak ada tempat meminta, tak ada yg  dicintai, dan tak ada yg disembah kecuali Allah.” Dan nyatanya memang  demikian, karena Al-Quran mengajarkan kita bahawa makna-makna ini  seluruhnya merupakan sifat-sifat Zat Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- “Ingatlah, hanya  dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tenteram.”(QS Ar-Ra’d,  13:28)  “…dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu  benar2 org beriman.” (QS Al-Maidah, 5:23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “dan sesungguhnya  masjid2 itu kepunyaan Allah. (QS Al-Jin, 72:6)  Maka janganlah kamu  menyembah seorang pun didalamnya di samping menyembah Allah,” (QS  Al-Jin, 72:18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- “Adapun org2 yg beriman amat sangat cintanya  kpd Allah,” (QS Al-Baqarah, 2:165) “Allah mencintai mereka dan mereka  pun mencintai-Nya.” (QS Al-Maidah, 5:54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kecintaan kpd  Rasullullah saw datang setelah kecintaannya kepada Allah, dengan  izin-Nya,&lt;br /&gt;“Cintailah Allah kerana nikmatnikmat yg Dia anugerahkan  kepada kalian, dan cintailah akau kerana kecintaan Allah kepadaku, dan  cintailah Ahli baitku kerana kecintaan kepadaku,” (HR Tirmidzi dan ia  menilainya hadis hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- “Katakanlah, ‘maka apakah kamu  menyuruh aku menyembah selain Allah, hai org2 yg tidak berpengetahuan?’  Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi2) yg  sebelummu. ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah  amalmu dan tentulah kamu termasuk org2 yg merugi. Kerana itu, maka  hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk org2 yg  bersyukur,” (QS Az-Zumar, 39:64-66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di antara makna kata  al-ilaah adalah “yg disembah” dan merupakan makna dasarnya, maka apa  pengertian kata ini bahawa materi abada dalam bahasa Arab adalah ain,  baa dan daal, dan materi ini terbentuk menjadi kata2 berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1-  Al-‘abdu yang bermakna ‘org yg dimiliki org lain’, dan antonimnya adalah  ‘org merdeka’. Dalam Al-Quran terdapat redaksi berikut, “Budi yg kamu  limpahkan kpd ku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak bani  Israel.” (asy-Syu’araa:22) yg bermakna, engkau telah menjadikannya  sebagai hamba sahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Al-‘ibaadah yg bermakna ‘taat beserta  ketundukan’. Terdapat dalam Al-Quran redaksi berikut,&lt;br /&gt;“Bukankah Aku  telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah  setan?” (Yaasin:60) artinya jgn kalian taati dia, ”padahal kaum mereka  (Bani Israel) adalah oarng-orang yg menghambakan diri kepada kita?  (Al-Mu’minun:47) artinya mereka tunduk dan taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- Al-mu’abbad  yg bermakna yang dimuliakan dan diagungkan’. Seperti yang terdapat dalam  syair berikut ..”saya lihat harta itu baig orang-orang bakhil sebagai  sesembahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- Abada Bihi yg bermakna ‘ia terus menguntitnya  (mengekori) dan tak pernah melepaskannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5- Ma ‘abadaka ‘anni  yg bermakna ‘apa yg menghalangimu sehingga tidak mendatangiku’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  anda mencermati makna-makna yg berbeda ini terhadap materi kata  tersebut, niscaya anda akan dapati keterkaitan yg utuh diantara kata2  itu. Tidak ada yang langkahnya terhalangi kecuali org yg menyembah  sesuatu macam penyembahan. Karena jika saya menyembah sesuatu maka saya  akan terus mengekori sesuatu itu, memuliakannya, taat kapadanya dan saya  akan mengorbankan kebebasan saya. Sehingga kata al-ma’buud mengandung  pengertian pemilik yg ditaati, diagungkan, dan dijadikan pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga  ketika saya berkata, “Tak ada sesembahan selain Allah swt.,” bererti  tidak ada pemilikan bagi saya juga bagi orang lain, dan tak ada yg  ditaati, diagungkan, dan dijadikan pegangan kecuali Allah swt. Dan jika  kita cermati Al-Quran akan kita dapati diantara sifat-sifat zat ilahiah  adalah makna-makna tadi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- “Katakanlah, ”Aku berlindung kepada  Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Sembahan manusia,”  (An-Nas:1-3) dan kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi.” (Ali  Imran:189)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- “Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Ali  Imran:32) dan ketaatan kepada Rasulullah saw adalah pada hakikatnya taat  kepada Allah, “Barangsiapa yg menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah  menaati Allah,” (An-Nisa’:80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- “dan Allah Mahatinggi dan  Mahabesar.” (Al-Baqarah:255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- “bertaqwalah kepada Allah dengan  sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati  melainkan dalam beragama Islam.” (Ali-Imran:102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber  :: Al-Islam by Said Hawwa [Bab Pertama: Rukun Islam, (A. Rukun pertama:  Dua syahadat, 1. Pertama: Kajian Analisis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-4012973144951278168?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4012973144951278168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4012973144951278168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/04/materi-tarbiyah-makna-syahadatain.html' title='Materi Tarbiyah Makna Syahadatain bagian 3 : Ma&apos;na Ilah ( Makna Kata Tuhan )'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6253414801972676705</id><published>2010-04-25T23:58:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:15:57.468-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah - Pentingnya Tarbiyah Islamiyah'/><title type='text'>Pentingnya Tarbiyah Islamiyah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibroh :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaab bin Malik RA  yang lupa menyiapkan diri ikut perang Tabuk, setelah rasul pulang dia  dan dua orang sahabatnya yang lain yaitu Murarah bin Rabi’ah al-Amiri  dan Hilal bin Umayah al-Waqifi mengungkapkan kejujuran alasan kenapa dia  tidak ikut dalam jihad tersebut bersedia menerima sangsi yang diberikan  oleh nabi SAW sangsi yang diterimanya merupakan bagian dari tarbiyah  bagi dirinya. Saat terkena sangsi itu dia mendapat  tawaran suaka  politik dan jabatan penting dari raja Ghassan tapi dengan kejelasan  fikrah yang ia miliki, ia menjawab surat ajakan tersebut dengan merobek  dan berkata : “Ayyu musyibatin hadzihi ? “(musibah apa lagi ini..)  Peristiwa Kaab yang mendapat ampunan langsung dari Allah tertuang dalam  Q.S Attaubah 118&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Saad bin Abi Waqas RA merupakan salah  satu contoh jiwa tertarbiyah yang tetap istiqomah memperjuangkan Islam  walaupun beliau menduduki kursi gubernur, beliau sempat berkata : “Aku  adalah salah satu dari tujuh sahabat( dari 10 sahabat yang dijanjikan  masuk surga) dahulu kami bersama rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan,  kami tidak memiliki makanan sehingga kami makan daun-daunan sampai  perih tenggorokan kami, akan tetapi sekarang kami yang tujuh ini  seluruhnya jadi gubernur dibeberapa daerah, maka kami berlindung kepada  allah agar tidak menjadi orang yang merasa besar ditengah-tengah manusia  tetapi kecil disisi allah SWT.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGERTIAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kata dalam bahasa arab  yang searti dan senada dengan kata tarbiyah yaitu : ziyadah  (penambahan), nas’ah (pertumbuhan), taghdiyyah (pemberian gizi), ri’ayah  (pemeliharaan) dan muhafazhah (penjagaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bila dilihat  dari kaidah ilmu nahu berasal dari kata raba-yarbu (tumbuh berkembang),  rabiya-yarba (tumbuh secara alami) dan rabba-yarubbu (memperbaiki,  meningkatkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALASAN PERLU  TARBIYAH :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DARI ASPEK  INTERNAL AJARAN ISLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar-Rasul membimbing umat manusia  untuk keluar dari kebodohan.Dengan ciri-ciri : kebodohan (ajahl),  kehinaan (Dzillah), kemiskinan (faqr) dan perpecahan (tanafur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi  umat Islam sekarang tidak memahami Islam itu sendiri sehingga akhirnya  terjebak dalam kondisi kejahiliyahan modern dengan kesesatan yang lebih  dahsyat dan nyata (QS.3:164) sehingga umat Islam berada pada tahap  pengkeroposan yang diakibatkan oleh : a). kecintaan pada dunia yang  berlebihan dan takut mati. b). saling berpecah belah c).  mengkotak-kotakan ajaran Islam d). penyimpangan ajaran Islam seperti  meng-sipilis-mekan (sekularesme,pluralisme dan liberalisme) Islam e).  terbelenggu sinkritisme berbau TBC (tahayul, bid’ah &amp;amp; churofat) f).  meninggalkan jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluar dari kesesatan salah satunya  melalui pembinaan yang didalamnya diajarkan tilawah (dibaca &amp;amp;  dibacakan), tazkiyah (pembersihan diri) dan ta’limul kitab wal hikmah  (belajar Al-qur’an dan hadits) (QS. 2:151). Sehingga akan memperoleh  nikmat yang akan mengantarkan kepada khoiru ummah (QS.3:110) dengan  ciri-ciri : berpengetahuan (ilmu), terhormat (izzah), kekayaan (ghina)  dan persaudaraan (ukhuwah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DARI  ASPEK INDIVIDU.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat jiwa yang membutuhkan pembinaan  (QS.91:8-10), hakikat jiwa tersebut menghadapi persoalan :  secara  fitrah jiwa yang pada dirinya terdapat kecenderungan kepada taqwa dan  kecenderungan kepada dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya musuh bebuyutan (2:168-169)  yang tidak hanya membuat perencanaan yang matang tapi juga  merealisasikan (5:82) yang keduanya bagian dari langkah syetan (35: 6).  Untuk menangkal serangan musuh diperlukan amal jama’i dikalangan kaum  muslimin tak akan terjadi kecuali jika didahului oleh tarbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERANAN TARBIYAH DALAM KEHIDUPAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Peranannya dalam penerapan system Islam.(4:65)&lt;br /&gt;* Menjamin  konsistensi muslim terhadap jamaahnya. (18:28)&lt;br /&gt;* Membentuk  generasi Islami, keluarga Islami dan peradaban Islami. (3:110,  2:143,3:104)&lt;br /&gt;* Menumbuhkan kemakmuran yang penuh berkah (QS 7:96).&lt;br /&gt;* Mewujudkan ketentraman dan kestabilan masyarakat.(QS.106:3-4,  89:27-28)&lt;br /&gt;* Kebutuhan kemanusiaan.&lt;br /&gt;* Kewajiban  agama.(9:122,2:174, 17:36,58:11, 66:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CIRI-CIRI TARBIYAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Apa  yang dilakukan semata-mata mencari ridho Allah dan memakmurkan bumi  dengan aturan Allah (Rabbaniyah).&lt;br /&gt;* Menggunakan sarana dan akhlak  islami (Akhlaqiyyatu al-wasa’il).&lt;br /&gt;* Pembinaan secara menyeluruh  antara potensi akal, jasad dan ruh manusia (Syumuliyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TUJUAN TARBIYAH :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Memahami gambaran yang jelas mengenai Islam yang sempurna dan benar.&lt;br /&gt;* Membentuk kepribadian muslim secara utuh.&lt;br /&gt;* Menumbuhkan harga  diri dan pribadi yang tidak mudah dipecah belah&lt;br /&gt;* Keimanan  dan   ketakwaan penduduk merupakan asas terwujudnya kemakmuran yang penuh  berkah.&lt;br /&gt;* Mewujudkan ketentraman dan kestabilan masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6253414801972676705?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6253414801972676705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6253414801972676705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/04/pentingnya-tarbiyah-islamiyah.html' title='Pentingnya Tarbiyah Islamiyah'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-1625893293312953328</id><published>2010-04-25T23:50:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:16:37.082-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad - 20 Muwashofat Sang Pejuang'/><title type='text'>20 Muwashofat Sang Pejuang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benarkah engkau seorang pejuang? Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai  jundullah, sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak  mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid, namun niat ternoda  oleh selain-Nya. Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sindir di dalam  Al Qur’an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja  mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al  Ankaabut: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sang Pejuang  Sejati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri,  apakah kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di jalan-Nya atau  jangan-jangan, baru sebatas khayalan dan angan-angan kosong belaka.  Inginkan syurga, tetapi tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah  kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi  Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang  yang sabar.” (QS. 3:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita mengira akan masuk surga  dengan pegorbanan yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan  hukum ekonomi kapitalis, “Mendapatkan output yang sebesar-besarnya,  semaksimal mungkin, dengan input yang seminimal mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai.,  sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara yang besar. Dan syurga yang  luasnya seluas langit dan bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah  SAW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya  keyakinan,sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan  muluk kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan,  gemuruh di dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang. Tetapi  sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada dan semangat itu ikut  surut seiring dengan berakhirnya lantunan nasyid. Tidak keluar dalam  amaliyah yang nyata. Demi Allah., keimanan bukanlah dilihat dari yang  paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari yang paling deras air  matanya kala muhasabah, dan bukan pula dari yang paling ekspresif  menunjukkan kemarahan kala melihat Israel menyerang Palestina. Bukan  pula dari yang paling banyak simbol-simbol keagamaannya. Karena itu  semua hanya sesaat. Sesungguhnya keistiqomahan dalam berjuang, itulah  indikasi keimanan sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar  menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi Rabbi. Yang selalu  bermujahadah mengamalkan Al Qur’an. Teguh pendirian. Tak kenal henti.  Hingga terminal akhir, syurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengorbanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah  dengan memakai sedikit waktu untuk berda’wah, sudah menganggap diri  telah melakukan totalitas perjuangan? Padahal para nabi tidaklah  menjadikan da’wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana  dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“….Wahai Tuhanku,  sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dalam  surat Al mudatsir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu  berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ayat itu  turun, sang nabi akhir zaman selalu siaga dalam kehidupan. Bahkan,  hingga menjelang ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk  menegakkan Al Haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pejuang, tetapi makanannya adalah  sebaik-baik makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian. Dan  dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton sinetron-sinetron cinta dan  acara gosip, mendengar lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak  tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap mendapatkan syurga?  Sangatlah jauh. bagaikan pungguk merindukan rembulan. Alangkah  berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar,  Mush’ab bin Umair dan para sahabat yang lainnya. Yang setelah  mendapatkan hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup. Mereka  mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela menikmati dunia yang  melalaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang  akan dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah lagi  terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan yang tinggi akan adanya  hari akhir, akan adanya syurga dan neraka. Ada amanah da’wah yang besar  di pundaknya, lantas bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak  bercanda? Imam Syahid Hasan Al Banna memasukkan “keseriusan” atau tidak  banyak bergurau sebagai bahagian dari 10 wasiatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena  Palestina belum terbebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringnya suasana ruhiyah di  lingkungan kita, bisa jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah-  jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir. Bahkan sungguh aneh,  dapat tertawa dan tidak menyimak ketika Al Qur’an dibacakan di dalam  pembukaan ta’lim. Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak  mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur’an itu baru sampai di  tenggorokan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan tiba suatu masa dalam ummat ketika orang  membaca Al Qur’an, namun hanya sebatas tenggorokannya saja (tidak masuk  ke dalam hatinya).” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah air mata keimanan? Ya  Rabbi., ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kederisasi  generasi sebaiknya tidak melulu tentang pergerakan dan mengabaikan  aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa dihembuskan dimana saja karena  ia adalah motor penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;20 Muwashofat Sang Pejuang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus  dimiliki pejuang, yang disarikan dari Al Qur’an dan hadits, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.  Aqidahnya bersih (saliimul ‘aqiidah)&lt;br /&gt;2. Akhlaknya solid (Matiinul  khuluqi)&lt;br /&gt;3. Ibadahnya benar (Shohiihul I’baadah)&lt;br /&gt;4. Tubuhnya sehat  dan kuat (Qowiyyul jismi)&lt;br /&gt;5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)&lt;br /&gt;6.  Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)&lt;br /&gt;7. Mampu berusaha  mencari nafkah (Qaadiirun ‘alal kasbi)&lt;br /&gt;8. Efisien dalam memanfaatkan  waktu (Hariisun ‘alal waqti)&lt;br /&gt;9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un  lighoirihi)&lt;br /&gt;10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun  ‘anisy syubuhat)&lt;br /&gt;11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan  (Hifdzul lisaan)&lt;br /&gt;12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun  filhaqqi)&lt;br /&gt;13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara  kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)&lt;br /&gt;14. Lemah lembut dan  suka memaafkan (Latiifun wahubbul ‘afwi)&lt;br /&gt;15. Benar, jujur dan tegas  (Al Haq, Al-amanah-wasyja’ah)&lt;br /&gt;16. Selalu yakin dalam tindakan  (Mutayaqqinun fil’amal)&lt;br /&gt;17. Rendah hati (Tawadhu’)&lt;br /&gt;18. Berpikir  positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’)&lt;br /&gt;19. Senantiasa siap  menolong (Mutanaashirun lighoirihi)&lt;br /&gt;20. Bersikap keras terhadap  orang-orang kafir (Asysyidda’u ‘alal kuffar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pejuang,  hendaknya bukanlah angan-angan kita belaka. Menjadi pejuang, memiliki  kriteria (muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita terkena  hadits ini, “Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi  tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali  namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini  meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya.” (Ibnu Babuya, Tsawab  ul-A mal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata  kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah ruginya  bila kita menganggap diri sebagai pejuang, padahal dalam pandangan Allah  Subhanahu wa Ta’ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama kita  memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya bukan hanya angan semata,  agar cinta kita tak bertepuk sebelah tangan. Karena pembuktian cinta  haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut  dipertanyakan kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut  dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang  kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita mencintai-Nya dan Dia pun  mencintai kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-1625893293312953328?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/1625893293312953328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/1625893293312953328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/04/20-muwashofat-sang-pejuang.html' title='20 Muwashofat Sang Pejuang'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-8938362500821549512</id><published>2010-04-25T23:47:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:11:43.222-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad - Dakwah dan Jihad Jalan Perjuangan Thaifah Manshurah'/><title type='text'>Dakwah dan Jihad Jalan Perjuangan Thaifah Manshurah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;“Tidak   sepatutnya bagi orang-orang beriman pergi berperang  semuanya. Mengapa   tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, sekelompok orang   untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi   peringatan kepada kaumnya (berdakwah) apabila mereka kembali kepadanya,   supaya mereka berhati-hati.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;  &lt;b&gt;(At Taubah 122)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Demikianlah   bunyi firman Allah, surat At-Taubah ayat 122. Dalam ayat tersebut,   Allah menyebutkan bahwa kewajiban berjihad adalah suatu hal yang maklum   bagi umat ini. Pada saat yang sama, Ia juga memperingatkan agar umat  ini  tetap menyediakan sebagian putra-putranya untuk memperdalam ilmu  agama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;Semua  itu bertujuan demi  menjaga agar pasukan Islam tetap berada di atas  manhaj ilahiah, agar  jihad yang dilakukan tetap fi sabilillah dan  supaya buah manfaat jihad  yang dilakukan dapat dinikmati secara  sempurna oleh umat ini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Syaikh Abu Qotadah Al  Filisthini –  semoga Allah membebaskan beliau dari penjara thoghut  Inggris-  menjelaskan, &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;Dalam ayat ini, Allah Ta’ala  membagi orang-orang beriman   menjadi dua golongan : Mujahid dan Mujtahid, dan tidak ada lagi yang   lebih baik dari mereka.Karena itu, seorang Mujahid seharusnya adalah   juga Mujtahid demikian juga seorang Mujtahid mestilah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt; &lt;i&gt;Mujahid. Karena kata  “Jihad” dan  “Ijtihad” menurut pengertian bahasa, berasal dari kata &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span new="New" lang="AR-SA"&gt;الجَهد&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;yang berarti&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;( &lt;/span&gt;&lt;span new="New" lang="AR-SA"&gt;التعب و المشقّة&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;) atau kepayahan dan kesulitan atau dari   kata&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span new="New" lang="AR-SA"&gt;الجُهد&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;yang berarti&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span new="New" lang="AR-SA"&gt;الوسع و الطاقة&lt;/span&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;)&lt;i&gt; atau daya kemampuan dan kekuatan. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"  style="font-size:12pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn1" name="_ftnref1" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"  style="font-size:12pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn1" name="_ftnref1" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt;&lt;i&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn1" name="_ftnref1" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;" lang="EN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype" lang="EN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;            Lebih tegas lagi  Asy  Syahid –Insya Allah- Sayyid Quthb menjelaskan, &lt;i&gt;“Islam hanya  dapat  dipahami secara benar dalam kancah perjuangan dan jihad. Terlebih  lagi  pada saat jihad sudah menjadi fardhu ‘ain, maka Dien ini tidak  bisa  dipahami hanya berdasarkan penjelasan dari seorang ahli ilmu  syari’ah  (faqih) yang hanya duduk di belakang meja dikelilingi kitab  dan makalah  tanpa merasakan langsung kecamuk jihad fi sabilillah…. “&lt;/i&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span linotype="linotype"  style="font-size:12pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn2" name="_ftnref2" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span linotype="linotype"  style="font-size:12pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn2" name="_ftnref2" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn2" name="_ftnref2" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;            Jelaslah bagi kita  bahwa  jihad tidak bisa dipisahkan dengan ijtihad, ataupun sebaliknya.  Sedang  kita pun tahu, dakwah di era modern seperti sekarang ini  mutlak   memerlukan kemampuan seorang da’i untuk berijtihad menghadapi berbagai   fenomena perkembangan sains, teknologi, peradaban dan pemikiran  manusia  yang amat sangat pesat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lynotipe="lynotipe"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Mengharapkan  metode dakwah yang jauh dari kecamuk  pertarungan antara &lt;i&gt;al&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;haq  &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;bathil&lt;/i&gt;, adalah  sebuah kemustahilan.. Apalagi jika kita  memahami sifat perseteruan  antara &lt;i&gt;al-haq &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;al-bathil&lt;/i&gt;  sebagaimana Firman Allah, &lt;/span&gt;&lt;span lynotipe="lynotipe"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Sebenarnya  Kami melontarkan yang hak kepada yang  bathil lalu yang hak itu  menghancurkannya, maka dengan serta merta yang  bathil itu lenyap” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;(Al-Anbiya’: 18)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Syaikh Abu  Qotadah juga menuturkan  bahwa Al Haq (kebenaran) harus ditampakkan dan  dibenturkan dengan  kebatilan. Karena seperti itulah sifat aslinya, dan  ia tidak mungkin  berubah dari sifat itu karena Allah telah menciptakan  unsur kekuatan itu  dalam dirinya”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span linotype="linotype"  style="font-size:12pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn3" name="_ftnref3" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"  style="font-size:12pt;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn3" name="_ftnref3" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn3" name="_ftnref3" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Membenturkan  sesuatu jelas membutuhkan kekuatan,  apalagi membenturkan Al-Haq untuk  melenyapkan kebathilan. Tentu tidak  hanya dibutuhkan kekuatan semata.  Lebih dari itu, dibutuhkan kesabaran,  konsistensi, tsabat (keteguhan),  strategi dan pengorganisasian yang  rapi dan berbagai perangkat lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Hikmah dan Nasehat dalam dakwah&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Dalam  menafsirkan ayat 125 surah An  Nahl yang artinya,  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Serulah (manusia) kepada jalan   Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik…”, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Sayyid Quthb&lt;i&gt; &lt;/i&gt;menjelaskan  &lt;i&gt;“Inilah  manhaj dan pedoman dalam berdakwah, selama itu masih  berkisar dalam  lingkup dakwah yang bersifat lisan, maka yang digunakan  adalah hujjah  (argumen yang kuat) dan nasehat yang baik. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Akan tetapi  jika terjadi penentangan bahkan  permusuhan terhadap para da’i dan  penyeru syari’ah Allah, maka  kondisinya menjadi berubah. Penentangan dan  permusuhan adalah tindakan  fisik yang harus dihadapi dengan tindakan  yang setara sebagai bentuk  penghormatan dan pembelaan terhadap al haq  serta untuk menjaga agar  jangan sampai kebathilan mengalahkan al-haq.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Karena Islam  adalah Dien yang lurus dan menjunjung  tinggi keadilan dan Islam  mewajibkan pemeluknya untuk membelanya dari  segala bentuk tindakan yang  melampaui batas. Sebagaimana firman Allah :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn4" name="_ftnref4" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn4" name="_ftnref4" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt; “Dan jika kamu memberikan  balasan,  maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang  ditimpakan  kepadamu”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn5" name="_ftnref5" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftn5" name="_ftnref5" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Dari sini  dapat kita pahami bahwa  hikmah dan nasihat yang baik hanyalah salah  satu metode dan tahapan  dalam berdakwah. Namun pada akhirnya tetap saja  musuh-musuh Allah akan  menggunakan segala cara untuk memadamkan cahaya  Islam. Inilah salah satu  arti penting jihad yaitu sebagai penjaga  keberlangsungan dakwah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Dakwah  Thaifah Manshurah&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Imam Nasa’i meriwayatkan dari   Salamah bin Nufail Al Kindy &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu &lt;/i&gt;dengan sanad   shahih, beliau berkata: “&lt;i&gt;Saat aku duduk-duduk bersama Rasulullah   shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba seseorang berteriak “Orang-orang   telah menambatkan kuda dan peralatan perang mereka, seraya berseru   “Sekarang tidak ada lagi jihad, perang telah usai!” &lt;/i&gt;serta merta&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Rasulullah   menolehkan wajahnya dan berseru &lt;i&gt;“Mereka bohong!”. Saat ini juga   jihad dimulai, dan senantiasa akan ada sebagian dari umatku yang   berperang menegakkan al-haq, lalu Allah menjadikan hati orang-orang   bersimpati pada mereka sehingga Allah jadikan rizki mereka melalui   perantaraan orang-orang itu hingga hari kiamat tiba dan hingga janji   Allah terwujud (kemenangan Islam atas kaum kafir)”&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Ini hanyalah  salah satu dari puluhan  hadits tentang Thaifah Manshuroh yang karena  saking banyaknya riwayat  sehingga Syaikh Salman Audah dalam buku  Silsilatul Ghuroba’ menyatakan  bahwa hadits tentang Thoifah Manshuroh  telah mencapai derajat Mutawatir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Dari sekian  banyak hadits tersebut,  tidak ada satupun hadits yang tidak menyebut  jihad sebagai salah satu  sifat dan ciri utama Thaifah Manshuroh. Bahkan  dalam hadits di atas  diterangkan bahwa rizki untuk mereka pun  diperoleh karena mereka  berjihad. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Allah  mencukupi kebutuhan mereka,  menghapus gundah gulana dan kecemasan  mereka, serta berbagai macam  problematika kehidupan karena kecintaan  mereka kepada jihad fi  sabilillah. Sehingga jihad adalah ruh dan jasad  mereka, jihad adalah  jiwa dan nyawa mereka. Karena sesungguhnya tanpa  adanya ruh jihad dalam  diri seseorang, sejatinya ia telah mati sebelum  nyawanya dicabut oleh  Sang Khaliq. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Adalah  mustahil jika kita ingin  dimasukkan dalam Thoifah Manshuroh, tetapi  kemudian memilih metode dan  manhaj dakwah yang tidak  “nyerempet-nyerempet” dengan jihad, hanya  karena kita takut disebut  teroris. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Dakwah dan jihad adalah satu  kesatuan yang tidak  bisa dipisahkan. Memisahkan dakwah dari jihad sama  dengan memisahkan  jasad dari ruhnya. Dakwah akan mati dan jihad pun akan  musnah. Tidak  berlebihan rasanya jika kemudian Abu Qotadah menyimpulkan  bahwa Thoifah  Manshuroh adalah Thaifah Ilmu dan Jihad…Thaifah Jihad dan  Ijtihad. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Lalu di  manakah posisi kita saat ini  ? Mujahid kah atau Mujtahid kah? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;Wallahu ‘a’lamu bishshawab.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style=""&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" width="33%" size="1"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="ftn1"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref1" name="_ftn1" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref1" name="_ftn1" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;  Al Jihad wal Ijtihad hal 5 terbitan Darul Bayarik   cetakan pertama tahun 1999M/1419H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="ftn2"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref2" name="_ftn2" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref2" name="_ftn2" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;  Fi Dzilalil Qur’an hal 1735&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="ftn3"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref3" name="_ftn3" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref3" name="_ftn3" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;  Al Jihad wal Ijtihad hal 14  terbitan Darul   Bayarik cetakan pertama tahun 1999M/1419H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="ftn4"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref4" name="_ftn4" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref4" name="_ftn4" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;   &lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;An  Nahl 126&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="" id="ftn5"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref5" name="_ftn5" title="title"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;a style="" href="http://ansharuttauhid.com/publikasi/artikel/157-dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan-thaifah-manshurah.html#_ftnref5" name="_ftn5" title="title"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span linotype="linotype" style="line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span linotype="linotype"&gt;  Fi Dzilalil Qur’an 14/2202&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-8938362500821549512?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8938362500821549512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8938362500821549512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/04/dakwah-dan-jihad-jalan-perjuangan.html' title='Dakwah dan Jihad Jalan Perjuangan Thaifah Manshurah'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-8481672836768553055</id><published>2010-04-25T23:43:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:18:41.389-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam - Tentang Sabar'/><title type='text'>Allah SWT menyebutkan Sabar di dalam Al-Qur’an lebih dari 70 tempat</title><content type='html'>Sabar termasuk akhlak yang paling utama yang banyak mendapat perhatian  Al-Qur’an dalam surat-suratnya. Imam al-Ghazali berkata, “Allah swt  menyebutkan sabar di dalam al-Qur’an lebih dari 70 tempat.”  Ibnul  Qoyyim mengutip perkataan Imam Ahmad: “Sabar di dalam al-Qur’an terdapat  di sekitar 90 tempat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalib al-Makky mengutip sebagian  perkataan sebagian ulama: “Adakah yang lebih utama daripada sabar, Allah  telah menyebutkannya di dalam kitab-Nya lebih dari 90 tempat. Kami  tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah sebanyak ini kecuali  sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar menurut bahasa berarti menahan dan mengekang. Di  antaranya disebutkan pada QS.Al-Kahfi [18]: 28 “Dan tahanlah dirimu  bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja  hari dengan mengharap keridhaanNya, dan janganlah kedua matamu berpaling  dari mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebalikan sabar adalah jaza’u (sedih dan keluh  kesah), sebagaimana di dalam firman Allah QS. Ibrahim [14]: 21, “…sama  saja bagi kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak  mempunyai tempat untuk melarikan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Macam-macam Sabar Dalam al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aspek kesabaran  sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami oleh orang  mengenai kata sabar. Imam al-Ghazali berkata, “Bahwa sabar itu ada dua;  pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan,  berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Yang kedua adalah  al-shabru al-Nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan  tuntutan-tuntutan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bentuk  kesabaran ini (non fisik) beraneka macam;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika berbentuk  sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut iffah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  di dalam musibah, secara singkat disebut sabar, kebalikannya adalah  keluh kesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sabar di dalam kondisi serba berkucukupan  disebut mengendalikan nafsu, kebalikannya adalah kondisi yang disebut  sombong (al-bathr)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sabar di dalam peperangan dan pertempuran  disebut syaja’ah (berani), kebalikannya adalah al-jubnu (pengecut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  sabar di dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu),  kebalikannya adalah tadzammur (emosional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sabar dalam  menyimpan perkataan disebut katum (penyimpan rahasia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sabar  dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan  akhlak keimanan masuk ke dalam sabar, ketika pada suatu hari Rasulullah  saw ditanya tentang iman, beliau menjawab: Iman aadalah sabar. Sebab  kesabaran merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling  penting.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan orang-orang yang  sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan mereka itulah  orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang  bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu kita dapat  memahami mengapa al-Qur’an menjadikan masalah sabar sebagai kebahagiaan  di akhirat, tiket masuk ke surga dan sarana untuk mendapatkan sambutan  para malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al-Insan [72]: 12&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Dan Dia memberi balasan kepada mereka atas  kesabaran mereka dengan surga dan (pakaian) sutera”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  surat Ar-Ra’d [13]:23-24&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“…Dan  para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil  mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka  alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-8481672836768553055?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8481672836768553055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/8481672836768553055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/04/allah-swt-menyebutkan-sabar-di-dalam-al.html' title='Allah SWT menyebutkan Sabar di dalam Al-Qur’an lebih dari 70 tempat'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6477899743650608988</id><published>2010-03-30T18:42:00.000-07:00</published><updated>2010-04-02T18:55:39.806-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nikah'/><title type='text'>Poligami, Bukti  Keadilan Hukum  ALLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agama Islam yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang maha tinggi serta hikmah dan ketentuan hukum-Nya yang maha agung, adalah agama yang sempurna aturan syariatnya dalam menjamin kemaslahatan bagi umat Islam serta membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu” (QS. Al Maaidah:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat/anugerah Allah Ta’ala yang terbesar bagi umat Islam, karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini bagi mereka, sehingga mereka tidak butuh kepada agama selain Islam, juga tidak kepada nabi selain nabi mereka (nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah, Allah Ta’ala menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau kepada (seluruh umat) manusia dan jin, maka tidak sesuatu yang halal kecuali yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan (dengan wahyu dari Allah Ta’ala), tidak ada sesuatu yang haram kecuali yang beliau haramkan, dan tidak ada agama kecuali yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan. Dan segala sesuatu yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan adalah benar dan jujur, tidak ada kedustaan dan kebohongan padanya, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’aam:115). Yaitu: (kalimat) yang benar dalam semua beritanya serta adil dalam segala perintah dan larangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika Allah telah menyempurnakan agama Islam bagi umat ini, maka (ini berarti) nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada mereka telah sempurna. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),  “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu”. Artinya: Terimalah dengan ridha agama (Islam) ini bagi dirimu, karena inilah (satu-satunya) agama yang dicintai dan diridhai-Nya, dan dengannya dia mengutus (kepadamu) rasul-Nya yang paling mulia (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan menurunkan kitab-Nya yang paling agung (al-Qur’an)”[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap Seorang Mukmin terhadap Syariat Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ciri utama seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir adalah merasa ridha dan menerima dengan sepenuh hati semua ketentuan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ، وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidakkah patut bagi laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzaab:36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ذاق طعم الإيمان من رضي بالله ربا وبالإسلام ديناً وبمحمد رسولاً”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan merasakan kelezatan iman (kesempurnaan iman), orang yang ridha pada Allah Ta’ala sebagai Rabbnya dan islam sebagai agamanya serta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya“[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkecuali dalam hal ini, hukum-hukum Islam yang dirasakan tidak sesuai dengan kemauan/keinginan sebagian orang, seperti poligami, yang dengan mengingkari atau membenci hukum Allah Ta’ala tersebut, bisa menyebabkan pelakunya murtad/keluar dari agama Islam[3], na’uudzu billahi min dzaalik. Allah Ta’ala berfirman menceritakan sifat orang-orang kafir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam memahami dan melaksanakan syariat Islam hendaknya kita selalu waspada dan behati-hati dari dua senjata utama godaan setan untuk memalingkan manusia dari ketaatan kepada Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang pertama:&lt;/span&gt; sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam memahami dan menjalankan ketentuan syariat-Nya, terlebih lagi dalam menjalankan ketentuan syariat yang dirasakan cocok dengan kepentingan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang kedua:&lt;/span&gt; sikap meremehkan dan kurang dalam memahami dan melaksanakan ketentuan syariat Allah Ta’ala, yang ini sering terjadi pada sebagian hukum syariat Islam yang dirasakan oleh sebagian orang tidak sesuai dengan kemauan hawa nafsunya[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang ulama salaf ada yang berkata, “Setiap Allah Ta’ala memerintahkan suatu perintah (dalam agama-Nya) maka setan mempunyai dua macam godaan (untuk memalingkan manusia dari perintah tersebut): [1] (yaitu godaan) untuk (bersikap) kurang dan meremehkan (perintah tersebut), dan [2] (godaan) untuk (bersikap) berlebih-lebihan dan melampaui batas (dalam melaksanakannya), dan dia tidak peduli dengan godaan mana saja (dari keduanya) yang berhasil (diterapkannya kepada manusia)”[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hukum Poligami dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum asal poligami dalam Islam berkisar antara ibaahah (mubah/boleh dilakukan dan boleh tidak) atau istihbaab (dianjurkan)[6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna perintah dalam firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat” (QS an-Nisaa’:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Allah dalam ayat ini tidak menunjukkan wajibnya poligami, karena perintah tersebut dipalingkan dengan kelanjutan ayat ini, yaitu firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS an-Nisaa’:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan kelanjutan ayat ini, jelaslah bahwa ayat di atas meskipun berbentuk perintah, akan tetapi maknanya adalah larangan, yaitu larangan menikahi lebih dari satu wanita jika dikhawatirkan tidak dapat berbuat adil[7], atau maknanya, “Janganlah kamu menikahi kecuali wanita yang kamu senangi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti makna yang ditunjukkan dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan katakanlah:”Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS al-Kahfi:29). Maka tentu saja makna ayat ini adalah larangan melakukan perbuatan kafir dan bukan perintah untuk melakukannya[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdulah bin Baz ketika ditanya, “Apakah poligami dalam Islam hukumya mubah (boleh) atau dianjurkan?” Beliau menjawab rahimahullah, “Poligami (hukumnya) disunnahkan (dianjurkan) bagi yang mampu, karena firman Allah Ta’ala (beliau menyabutkan ayat tersebut di atas), dan karena perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi sembilan orang wanita, Allah memberi manfaat (besar) bagi umat ini dengan (keberadaan) para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, dan ini (menikahi sembilan orang wanita) termasuk kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh menikahi lebih dari empat orang wanita[9]. Karena dalam poligami banyak terdapat kemslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum laki-laki maupun permpuan, bahkan bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan poligami akan memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian), memperbanyak (jumlah) keturunan, dan (memudahkan) bagi laki-laki untuk memimpin beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan, serta menjaga mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan. Adapun bagi yang tidak mampu melakukan itu dan khawatir berbuat tidak adil, maka cukuplah dia menikahi seorang wanita (saja), karena Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS an-Nisaa’:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah (senantiasa) memberi taufik-Nya kepada semua kaum muslimin untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat[10].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan ucapan di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “…Seorang laki-laki jika dia mampu dengan harta, badan (tenaga) dan hukumnya (bersikap adil), maka lebih utama (baginya) untuk menikahi (dua) sampai empat (orang wanita) jika dia mampu. Dia mampu dengan badannya, karena dia enerjik, (sehingga) dia mampu menunaikan hak yang khusus bagi istri-istrinya. Dia (juga) mampu dengan hartanya (sehingga) dia bisa memberi nafkah (yang layak) bagi istri-istrinya. Dan dia mampu dengan hukumnya untuk (bersikap) adil di antara mereka. (Kalau dia mampu seperti ini) maka hendaknya dia menikah (dengan lebih dari seorang wanita), semakin banyak wanita (yang dinikahinya) maka itu lebih utama. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Orang yang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya[11]”…[12].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Adapun (hukum) asal (pernikahan) apakah poligami atau tidak, maka aku tidak mendapati ucapan para (ulama) ahli tafsir, yang telah aku baca kitab-kitab tafsir mereka yang membahas masalah ini. Ayat al-Qur’an yang mulia (surat an-Nisaa’:3) menunjukkan bahwa seorang  yang memiliki kesiapan (kesanggupan) untuk menunaikan hak-hak para istri secara sempurna maka dia boleh untuk berpoligami (dengan menikahi dua) sampai empat orang wanita. Dan bagi yang tidak memiliki kesiapan (kesanggupan) cukup dia menikahi seorang wanita, atau memiliki budak. Wallahu a’lam”[13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hikmah dan Manfaat Agung Poligami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena poligami disyariatkan oleh Allah Ta’ala yang mempunyai nama al-Hakim, artinya Zat yang memiliki ketentuan hukum yang maha adil dan hikmah[14] yang maha sempurna, maka hukum Allah Ta’ala yang mulia ini tentu memiliki banyak hikmah dan faidah yang agung, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Terkadang poligami harus dilakukan dalam kondisi tertentu. Misalnya jika istri sudah lanjut usia atau sakit, sehingga kalau suami tidak poligami dikhawatirkan dia tidak bisa menjaga kehormatan dirinya. Atau jika suami dan istri sudah dianugerahi banyak keturunan, sehingga kalau dia harus menceraikan istrinya, dia merasa berat untuk berpisah dengan anak-anaknya, sementara dia sendiri takut terjerumus dalam perbuatan zina jika tidak berpoligami. Maka masalah ini tidak akan bisa terselesaikan kecuali dengan poligami, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Pernikahan merupakan sebab terjalinnya hubungan (kekeluargaan) dan keterikatan di antara sesama manusia, setelah hubungan nasab. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Dia-lah yang menciptakan manusia dari air (mani), lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan karena pernikahan), dan adalah Rabbmu Maha Kuasa” (QS al-Furqaan:54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka poligami (adalah sebab) terjalinnya hubungan dan kedekatan (antara) banyak keluarga, dan ini salah satu sebab poligami yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Poligami merupakan sebab terjaganya (kehormatan) sejumlah besar wanita, dan terpenuhinya kebutuhan (hidup) mereka, yang berupa nafkah (biaya hidup), tempat tinggal, memiliki keturunan dan anak yang banyak, dan ini merupakan tuntutan syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat:&lt;/span&gt; Di antara kaum laki-laki ada yang memiliki nafsu syahwat yang tinggi (dari bawaannya), sehingga tidak cukup baginya hanya memiliki seorang istri, sedangkan dia orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Akan tetapi dia takut terjerumus dalam perzinahan, dan dia ingin menyalurkan kebutuhan (biologis)nya dalam hal yang dihalalkan (agama Islam), maka termasuk agungnya rahmat Allah Ta’ala terhadap manusia adalah dengan dibolehkan-Nya poligami yang sesuai dengan syariat-Nya[16].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelima:&lt;/span&gt; Terkadang setelah menikah ternyata istri mandul, sehingga suami berkeinginan untuk menceraikannya, maka dengan disyariatkannya poligami tentu lebih baik daripada suami menceraikan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keenam:&lt;/span&gt; Terkadang juga seorang suami sering bepergian, sehingga dia butuh untuk menjaga kehormatan dirinya ketika dia sedang bepergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketujuh:&lt;/span&gt; Banyaknya peperangan dan disyariatkannya berjihad di jalan Allah, yang ini menjadikan banyak laki-laki yang terbunuh sedangkan jumlah perempuan semakin banyak, padahal mereka membutuhkan suami untuk melindungi mereka. Maka dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedelapan:&lt;/span&gt; Terkadang seorang lelaki tertarik/kagum terhadap seorang wanita atau sebaliknya, karena kebaikan agama atau akhlaknya, maka pernikahan merupakan cara terbaik untuk menyatukan mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesembilan:&lt;/span&gt; Kadang terjadi masalah besar antara suami-istri, yang menyebabkan terjadinya perceraian, kemudian sang suami menikah lagi dan setelah itu dia ingin kembali kepada istrinya yang pertama, maka dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesepuluh: &lt;/span&gt;Umat Islam sangat membutuhkan lahirnya banyak generasi muda, untuk mengokohkan barisan dan persiapan berjihad melawan orang-orang kafir, ini hanya akan terwujud dengan poligami dan tidak membatasi jumlah keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesebelas:&lt;/span&gt; Termasuk hikmah agung poligami, seorang istri memiliki kesempatan lebih besar untuk menuntut ilmu, membaca al-Qur’an dan mengurus rumahnya dengan baik, ketika suaminya sedang di rumah istrinya yang lain. Kesempatan seperti ini umumnya tidak didapatkan oleh istri yang suaminya tidak berpoligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keduabelas:&lt;/span&gt; Dan termasuk hikmah agung poligami, semakin kuatnya ikatan cinta dan kasih sayang antara suami dengan istri-istrinya. Karena setiap kali tiba waktu giliran salah satu dari istri-istrinya, maka sang suami dalam keadaan sangat rindu pada istrinya tersebut, demikian pula sang istri sangat merindukan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak hikmah dan faedah agung lainnya, yang tentu saja orang yang beriman kepada Allah dan kebenaran agama-Nya tidak ragu sedikitpun terhadap kesempurnaan hikmah-Nya dalam setiap ketentuan yang disyariatkan-Nya. Cukuplah sebagai hikmah yang paling agung dari semua itu adalah menunaikan perintah Allah Ta’ala dan mentaati-Nya dalam semua ketentuan hukum yang disyariatkan-Nya[17].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arti Sikap “Adil” dalam Poligami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala memerintahkan kepada semua manusia untuk selalu bersikap adil dalam semua keadaan, baik yang berhubungan dengan hak-Nya maupun hak-hak sesama manusia, yaitu dengan mengikuti ketentuan syariat Allah Ta’ala dalam semua itu, karena Allah Ta’ala mensyariatkan agamanya di atas keadilan yang sempurna[18]. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS an-Nahl:90).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam hal ini, sikap “adil” dalam poligami, yaitu adil (tidak berat sebelah) dalam mencukupi kebutuhan para istri dalam hal makanan, pakaian, tempat tinggal dan bermalam bersama mereka[19]. Dan ini tidak berarti harus adil dalam segala sesuatu, sampai dalam hal yang sekecil-kecilnya[20], yang ini jelas di luar kemampuan manusia[21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab timbulnya kesalahpahaman dalam masalah ini, di antaranya karena hawa nafsu dan ketidakpahaman terhadap agama, termasuk kerancuan dalam memahami firman Allah Ta’ala[22],&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (QS an-Nisaa’:129).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita lihat bagaimana para ulama Ahlus sunnah memahami firman Allah yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy-Syafi’i berkata, “Sebagian dari para ulama ahli tafsir (menjelaskan makna firman Allah Ta’ala): “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu)…”, (artinya: berlaku adil) dalam perasaan yang ada dalam hati (rasa cinta dan kecenderungan hati), karena Allah Ta’ala mengampuni bagi hamba-hamaba-Nya terhadap apa yang terdapat dalam hati mereka. “…karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai)…” artinya: janganlah kamu memperturutkan keinginan hawa nafsumu dengan melakukan perbuatan (yang menyimpang dari syariat). Dan penafsiran ini sangat sesuai/tepat. Wallahu a’lam”[23].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Bukhari membawakan firman Allah Ta’ala ini dalam bab: al-‘adlu bainan nisaa’ (bersikap adil di antara para istri)[24], dan Imam Ibnu Hajar menjelaskan makna ucapan imam al-Bukhari tersebut, beliau berkata, “Imam al-Bukhari mengisyaratkan dengan membawakan ayat tersebut bahwa (adil) yang dinafikan dalam ayat ini (adil yang tidak mampu dilakukan manusia) adalah adil di antara istri-istrinya dalam semua segi, dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang shahih) menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan adil (dalam poligami) adalah menyamakan semua istri (dalam kebutuhan mereka) dengan (pemberian) yang layak bagi masing-masing dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang suami telah menunaikan bagi masing-masing dari para istrinya (kebutuhan mereka yang berupa) pakaian, nafkah (biaya hidup) dan bermalam dengannya (secara layak), maka dia tidak berdosa dengan apa yang melebihi semua itu, berupa kecenderungan dalam hati, atau memberi hadiah (kepada salah satu dari mereka)…Imam at-Tirmidzi berkata, “Artinya: kecintaan dan kecenderungan (dalam hati)”, demikianlah penafsiran para ulama (ahli tafsir)…Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata ketika menafsirkan ayat di atas, “Yaitu: kecintaan (dalam hati) dan jima’ (hubungan intim)…[25].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Qurthubi berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memberitakan ketidakmampuan (manusia) untuk bersikap adil di antara istri-istrinya, yaitu (menyamakan) dalam kecenderungan hati dalam cinta, berhubungan intim dan ketertarikan dalam hati. (Dalam ayat ini) Allah menerangkan keadaan manusia bahwa mereka secara (asal) penciptaan tidak mampu menguasai kecenderungan hati mereka kepada sebagian dari istri-istrinya melebihi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (dalam doa beliau), “Ya Allah, inilah pembagianku (terhadap istri-istriku) yang aku mampu (lakukan), maka janganlah Engkau mencelaku dalam perkara yang Engkau miliki dan tidak aku miliki”[26]. Kemudian Allah melarang “karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai)”, Imam Mujahid berkata, “(Artinya): janganlah kamu sengaja berbuat buruk (aniaya terhadap istri-istrimu), akan tetapi tetaplah berlaku adil dalam pembagian (giliran) dan memberi nafkah (biaya hidup), karena ini termsuk perkara yang mampu (dilakukan manusia)”[27].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti (ayat di atas): Wahai manusia, kamu sekali-kali tidak akan dapat bersikap adil (menyamakan) di antara para istrimu dalam semua segi, karena meskipun kamu membagi giliran mereka secara lahir semalam-semalam, (akan tetapi) mesti ada perbedaan dalam kecintaan (dalam hati), keinginan syahwat dan hubungan intim, sebagaimana keterangan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Ubaidah as-Salmaani, Hasan al-Bashri, dan Dhahhak bin Muzahim”[28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kecemburuan dan Cara Mengatasinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemburu adalah fitrah dan tabiat yang mesti ada dalam diri manusia, yang pada asalnya tidak tercela, selama tidak melampaui batas. Maka dalam hal ini, wajib bagi seorang muslim, terutama bagi seorang wanita muslimah yang dipoligami, untuk mengendalikan kecemburuannya. Karena kecemburuan yang melampaui batas bisa menjerumuskan seseorang ke dalam pelanggaran syariat Allah, seperti berburuk sangka, dusta, mencela[29], atau bahkan kekafiran, yaitu jika kecemburuan tersebut menyebabkannya membenci ketentuan hukum yang Allah syariatkan. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula perlu diingatkan bagi kaum laki-laki untuk lebih bijaksana dalam menghadapi kecemburuan para wanita, karena hal ini juga terjadi pada diri wanita-wanita terbaik dalam Islam, yaitu para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi semua itu dengan sabar dan bijaksana, serta menyelesaikannya dengan cara yang baik[30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Asal sifat cemburu adalah merupakan watak bawaan bagi wanita, akan tetapi jika kecemburuan tersebut melampuai batas dalam hal ini sehingga melebihi (batas yang wajar), maka itulah yang tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pedoman dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Atik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesunguhnya di antara sifat cemburu ada yang dicintai oleh Allah dan ada yang dibenci-Nya. Adapun kecemburuan yang dicintai-Nya adalah al-ghirah (kecemburuan) terhadap keburukan. Sedangkan kecemburuan yang dibenci-Nya adalah kecemburuan terhadap (perkara) yang bukan keburukan”[31].[32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebab-sebab yang mendorong timbulnya kecemburuan yang tercela (karena melampaui batas) adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lemahnya iman dan lalai dari mengingat Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Godaan setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hati yang berpenyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ketidakadilan suami dalam memperlakukan dan menunaikan hak sebagian dari istri-istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rasa minder dan kurang pada diri seorang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Suami yang menyebutkan kelebihan dan kebaikan seorang istrinya di hadapan istrinya yang lain[33].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adapun cara mengatasi kecemburuan ini adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bertakwa kepada Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengingat dan memperhitungkan pahala yang besar bagi wanita yang bersabar dalam mengendalikan dan mengarahkan kecemburuannya sesuai dengan batasan-batasan yang dibolehkan dalam syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menjauhi pergaulan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bersangka baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bersikap qana’ah (menerima segala ketentuan Allah I dengan lapang dada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Selalu mengingat kematian dan hari akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan kecemburuan tersebut[34].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat Bagi Yang Berpoligami dan Dipoligami[35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Nasehat untuk suami yang berpoligami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bersikap adillah terhadap istri-istrimu dan hendaklah selalu bersikap adil dalam semua masalah, sampai pun dalam masalah yang tidak wajib hukumnya. Janganlah kamu bersikap berat sebelah terhadap salah satu dari istri-istrimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berlaku adillah terhadap semua anakmu dari semua istrimu. Usahakanlah untuk selalu mendekatkan hati mereka, misalnya dengan menganjurkan istri untuk menyusui anak dari istri yang lain. Pahamkanlah kepada mereka bahwa mereka semua adalah saudara. Jangan biarkan ada peluang bagi setan untuk merusak hubungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sering-seringlah memuji dan menyebutkan kelebihan semua istri, dan tanamkanlah kepada mereka keyakinan bahwa tidak ada kecintaan dan kasih sayang yang (abadi) kecuali dengan mentaati Allah Ta’ala dan mencari keridhaan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Janganlah menceritakan ucapan salah seorang dari mereka kepada yang lain. Janganlah menceritakan sesuatu yang bersifat rahasia, karena rahasia itu akan cepat tersebar dan disampaikannya kepada istri yang lain, atau dia akan membanggakan diri bahwa dia mengetahui rahasia suami yang tidak diketahui istri-istri yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Janganlah kamu memuji salah seorang dari mereka, baik dalam hal kecantikan, kepandaian memasak, atau akhlak, di hadapan istri yang lain. Karena ini semua akan merusak suasana dan menambah permusuhan serta kebencian di antara mereka, kecuali jika ada pertimbangan maslahat/kebaikan yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Janganlah kamu mendengarkan ucapan salah seorang dari mereka tentang istri yang lain, dan tegurlah/laranglah perbuatan tersebut, supaya mereka tidak terbiasa saling menejelek-jelekkan satu sama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Nasehat untuk istri pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, dan ketahuilah bahwa sikap menentang dan tidak menerima akan membahayakan bagi agama dan kehidupanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Benahilah semua kekuranganmu yang diingatkan oleh suamimu. Karena boleh jadi itu merupakan sebab dia berpoligami. Kalau kekurangan-kekurangan tersebut berhasil kamu benahi maka bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas petunjuk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berikanlah perhatian besar kepada suamimu dan sering-seringlah memujinya, baik di hadapan atau di belakangnya, terutama di hadapan keluargamu atau teman-temanmu, karena ini termasuk hal yang bisa memperbaiki hati dan lisanmu, serta menyebabkan keridhaan suami padamu. Dengan itu kamu akan menjadi teladan yang baik bagi para wanita yang menentang dan mengingkari syariat poligami, atau mereka yang merasa disakiti ketika suaminya berpoligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Janganlah kamu mendengarkan ucapan orang jahil yang punya niat buruk dan ingin menyulut permusuhan antara kamu dengan suamimu, atau dengan madumu. Janganlah kamu mudah menyimpulkan sesuatu yang kamu dengar sebelum kamu meneliti kebenaran berita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Janganlah kamu menanamkan kebencian dan permusuhan di hati anak-anakmu kepada istri-istri suamimu dan anak-anak mereka, karena mereka adalah saudara dan sandaran anak-anakmu. Ingatlah bahwa tipu daya yang buruk hanya akan menimpa pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangalah kamu merubah sikap dan perlakuanmu terhadap suamimu. Janganlah biarkan dirimu menjadi bahan permainan setan, serta mintalah pertolongan dan berdolah kepada Allah Ta’ala agar Dia menguatkan keimanan dan kecintaan dalam hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Nasehat untuk istri yang baru dinikahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ketahuilah bahwa kerelaanmu dinikahi oleh seorang yang telah beristri adalah kebaikan yang besar dan menunjukkan kuatnya iman dan takwa dalam hatimu, insya Allah. Pahamilah ini semua dan harapkanlah ganjaran pahala dari Allah atas semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gunakanlah waktu luangmu ketika suamimu berada di rumah istrinya yang lain dengan membaca al-Qur’an, mendengarkan ceramah-ceramah agama yang bermanfaat, dan membaca buku-buku yang berfaedah, atau gunakanlah untuk membersihkan rumah dan merawat diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jadilah engkau sebagai da’i (penyeru) manusia ke jalan Allah Ta’ala dalam hukum-Nya yang mulia ini. Fahamkanlah mereka tentang hikmah-Nya yang agung dalam syariat poligami ini. Janganlah engkau menjadi penghalang bagi para wanita untuk menerima syariat poligami ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Janganlah bersikap enggan untuk membantu/mengasuh istri-istri suami dan anak-anak mereka jika mereka membutuhkan pertolonganmu. Karena perbuatan baikmu kepada mereka bernilai pahala yang agung di sisi Allah dan menjadikan suami ridha kepadamu, serta akan menumbuhkan kasih sayang di antara kamu dan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Janganlah kamu membeberkan kekurangan dan keburukan istri suami yang lain. Jangan pernah menceritakan kepada orang lain bahwa suami berpoligami karena tidak menyukai istrinya yang pertama, karena ini semua termasuk perangkap setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangan kamu berusaha menyulut permusuhan antara suami dengan istrinya yang lain, agar dia semakin sayang padamu. Karena ini adalah perbuatan namiimah (mengadu domba) yang merupakan dosa besar. Berusahalah untuk selalu mengalah kepadanya, karena ini akan mendatangkan kebaikan yang besar bagi dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah keterangan tentang poligami yang menunjukkan sempurnanya keadilan dan hikmah dari hukum-hukum Allah Ta’ala. Semoga ini semua menjadikan kita semakin yakin akan keindahan dan kebaikan agama Islam, karena ditetapkan oleh Allah Ta’ala yang Maha Sempurna semua sifat-sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 26 Dzulqa’dah 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;[1] Tafsir Ibnu Katsir (2/19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] HSR Muslim (no. 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Kitab “Fadhlu ta’addudiz zaujaat” (hal. 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] kitab “Ighaatsatul lahfan” (1/116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Ighaatsatul lahfan” (1/116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Maksudnya adil yang sesuai dengan syariat, sebagaimana yang akan kami terangkan, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat keterangan imam Ibnu Jarir dalam tafsir beliau (4/238).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Sebagaimana yang diterangkan dalam bebrapa hadits yang shahih, diantaranya HR at-Tirmidzi (3/435) dan Ibnu Majah (1/628), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Dinukil dalam majalah “al-Balaagh” (edisi no. 1028, tgl 1 Rajab 1410 H/28 Januari 1990 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Atsar yang shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 4787).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Liqaa-il baabil maftuuh (12/83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Fataawal mar’atil muslimah (2/690).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari kesempurnaan ilmu Allah Ta’ala, lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 131).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Lihak keterangan imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaani dalam “Fathul Baari” (9/143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Majmuu’ul fataawa syaikh al-‘Utsaimiin (4/12 – kitabuz zawaaj).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Lihat kitab  “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 31-32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/596) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 447).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Lihat kitab  “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] Sebagaimana persangkaan keliru orang-orang yang tidak memahami pengertian adil yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Sebagaimana penjelasan para ulama yang akan kami nukil setelah ini, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Bahkan kesalahpahaman dalam memahami ayat ini menyebabkan sebagian orang beranggapan bahwa poligami tidak boleh dilakukan, karena orang yang berpoligami tidak mungkin bisa bersikap adil !!? Kita berlindung kepada Allah dari penyimpangan dalam memahami agama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] Kitab “al-Umm” (5/158).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] Dalam kitab “shahihul Bukhari” (5/1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25] Kitab “Fathul Baari” (9/313).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[26] Hadits ini adalah hadits yang lemah, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2134), at-Tirmidzi (no. 1140), an-Nasa’i (no. 3943) dan Ibnu Majah (no. 1971), dinyatakan lemah oleh Abu Zur’ah, Abu Hatim, an-Nasa’i dan syaikh al-Albani dalam “Irwa-ul ghalil” (7/82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[27] Kitab “Tafsiirul Qurthubi” (5/387).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[28] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/747).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[29] Lihat kitab  “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 136).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[30] Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[31] HR an-Nasa’i (no. 2558) dan Ibnu Hibban (no. 295), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[32] Kitab “Fathul Baari” (9/326).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[33] Lihat kitab  “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 140).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[34] Ibid (hal. 141).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[35] Lihat kitab  “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 143-145).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6477899743650608988?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6477899743650608988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6477899743650608988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/poligami-bukti-hukum-keadilan-allah.html' title='Poligami, Bukti  Keadilan Hukum  ALLAH'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6704087983034556214</id><published>2010-03-29T18:26:00.001-07:00</published><updated>2010-06-13T19:00:01.318-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad - Larangan Melarikan Diri dari Barisan Pertahanan'/><title type='text'>Larangan Melarikan Diri dari Barisan Pertahanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Larangan Melarikan Diri dari Barisan Pertahanan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalil dari Alquran :  &lt;/span&gt; (QS. Al Anfal: 15-16), (QS. Al Anfal: 45-46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalil dari Alhadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: "Jauhilah olehmu tujuh perkara yang menghancurkan amal." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulallah, apakah tujuh perkara itu?" Jawab Rasulullah: "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang telah diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta riba, makan harta  anak yatim, dan melarikan diri dari barisan pertahanan ketika peperangan tengah&lt;br /&gt;berkecamuk." (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Imam Ahmad dan Nasai mengetengahkan sebuah riwayat, bahwa Rasulullah saw pernah ditanya tentang masalah dosa besar. Jawab Rasulullah: "Di antara dosa besar adalah menyekutukan Allah, membunuh orang, dan meninggalkan barisan pertahanan ketika peperangan tengah berkecamuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Imam Ahmad mengetengahkan sebuah riwayat dengan sanad yang berlainan, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Barangsiapa bertemu dengan Allah sedang dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan membayar zakat dari harta yang dimiliki sebagai pembersih diri yang semata-mata mencari ridha Allah,  serta senantiasa taat dan patuh kepada perintah Allah, maka sorga tersedia baginya. Dan ada lima perkara yang tidak bisa dikafarati: Menyekutukan Allah, membunuh orang tanpa alasan yang benar, menyakiti orang beriman, melarikan diri dari barisan pertahanan ketika perang sedang berkecamuk, sumpah palsu, dan mengambil milik orang lain dengan cara paksa."&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6704087983034556214?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6704087983034556214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6704087983034556214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/larangan-melarikan-diri-dari-barisan.html' title='Larangan Melarikan Diri dari Barisan Pertahanan'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-5791979643423699435</id><published>2010-03-29T18:05:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T19:12:41.024-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad - Kebahagiaan Berjihad'/><title type='text'>Kebahagiaan Berjihad</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebahagiaan Berjihad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalil dari Alquran :&lt;/span&gt;  &lt;span&gt;(QS. An Nisa: 74-76), (QS. An Nisa: 100), (QS. At Taubah: 111), (QS. Ash Shaf: 4), (QS. Al Baqarah: 190-194), (QS. Al Haj: 39-40), (QS. Al Anfal: 60-61), (QS. Al Anfal: 39-40), (QS. Al Anfal: 45), (QS. An Nisa: 71), (QS. Ash Shaf: 10-12), (QS. Ali Imran: 169-170), (QS. At Taubah: 41), (QS. At Taubah: 38).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalil dari Alhadits :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Sahabat Abi Hurairah ra telah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Perumpamaan  orang yang berperang dijalan Allah, dan hanya Allah sendiri yang mengetahui hakikat orang-orang yang berperang di jalan-Nya,  adalah ibarat orang yang selalu berpuasa dan shalat sunat malam sepanjang hari. Allah menerima tawakal orang-orang  yang berperang di jalan Allah dengan mencabut nyawa mereka dan memasukkannya ke dalam sorga atau mengembalikan  mereka dari peperangan dalam keadaan selamat dengan mendapat pahala serta rampasan perang.” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sahabat Anas bin Malik ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda:"Berkemas untuk berangkat erang di pagi hari atau di sore hari adalah lebih baik bila dibanding dengan dunia seisinya." (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sahabat Abi Hurairah ra telah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw telah bersabda: "Demi dzat yang diriku berada dalam kekuasan-Nya,seandainya bukan karena sebagian dari orang- orang beriman ada yang merasa dirinya suci hingga tidak mengikuti&lt;br /&gt;perintahku untuk berperang; dan aku tidak menemukan apa yang mereka khawatirkan dalam peperangan,niscaya aku tidak akan pemah meninggalkan pasukan perang di jalan Allah.  Demi dzat yang diriku berada dalarn kekuasaan-Nya,aku sangat berharap dapat mengikuti peperangan di jalan Allah, kemudian terbunuh,kemudian dihidupkan kembali,kemudian terbunuh lagi,lalu dihidupkan kembali,dan lalu terbunuh lagi."(HR. Bukhan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sahabat Abi Hurairah ra berkata,bahwa Rasulullah saw telah bersabda:"Demi dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya,tidak ada luka yang diderita seseorang dalam meluhurkan agama Allah, dan hanya Allah yang  mengetahui hakikat orang yang luka dalam meluhurkan agama-Nya,kecuali kelak pada hari kiamat dia datang dengan wajah yang berlumuran darah,sedangkan bau darah itu bagaikan wanginya bau wewangian kasturi."(HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sahabat Abi Musa ra telah berkata: Pada suatu waktu ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw,seraya berkata:"Ya Rasulullah,ada seorang lelaki berperang&lt;br /&gt;karena mencari harta rampasan,ada: seorang lelaki berperang  karena  ingat  kepada Allah, dan ada seorang lelaki berperang karena ingat meraih kedudukan. Manakah diantara mereka yang bisa disebut berperang di jalan Allah?" Jawab Rasulullah: "Barangsiapa berperang dengan tujuan agar agama Allah berjaya, maka dia berada di jalan Allah." HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Imam Muslim dan Imam yang lain mengetengahkan sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah bersabda:"Barangsiapa meninggal, sedangkan dia belum pemah berperang, atau didalam hatinya belum pemah terlintas bayangan ikut berperang,  maka dia meninggal dalam keadaan memiliki sebagian dari sifat nifak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Imam Thabrani mengetengahkan sebuah riwayat dengan sanad hasan, bahwa Nabi saw telah bersabda: "Tidaklah  segolongan kaum yang meninggalkan jihad, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka musibah yang berat."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-5791979643423699435?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5791979643423699435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5791979643423699435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/kebahagiaan-berjihad.html' title='Kebahagiaan Berjihad'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-7668225668298841620</id><published>2010-03-25T23:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T23:45:54.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unduh-Ebook Tarbiyah'/><title type='text'>Download E-book Materi Tarbiyah – Panduan Kurikulum Da’i dan Murabbi</title><content type='html'>Alhamdulillah  e-book Materi tarbiyah bisa disebarluaskan. Materi yang disusun oleh Tim dari iLiy Press ; Junaidi Irsyadurahiim, Yaumi Kusuma Dewi, Purwanto Abd Al-Ghaffar ini memiliki format .chm. Materi tarbiyah dilengkapi pula dengan Alquran 30 juz, juga klasifikasi tema di dalam Alquran plus kumpulan hadits yang diklasifikasikan berdasarkan banyak tema, sehingga pengguna dapat mencari jawaban dengan cepat atas berbagai persoalan yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini materi yang ada di e-book ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6xXO5pSJNI/AAAAAAAAAcc/XylhPvjhfxE/s1600/image-157.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 224px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6xXO5pSJNI/AAAAAAAAAcc/XylhPvjhfxE/s400/image-157.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452829162342589650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber Oleh: akhdian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-7668225668298841620?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7668225668298841620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7668225668298841620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/download-e-book-materi-tarbiyah-panduan.html' title='Download E-book Materi Tarbiyah – Panduan Kurikulum Da’i dan Murabbi'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6xXO5pSJNI/AAAAAAAAAcc/XylhPvjhfxE/s72-c/image-157.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-7814431309247978698</id><published>2010-03-23T19:07:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T00:23:07.181-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unduh-Software Islamic'/><title type='text'>Software Islamic</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-quran &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9131049/Al-quran.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9131049/Al-quran.rar.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al-Quran_in_Word&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://www.ziddu.com/download/9167245/Quran_in_Word.rar.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AlQuran Digital&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9131051/AlQuranDigital.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9131051/AlQuranDigital.rar.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Quran Terjemah Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9131259/Al-QuranTerjemahBahasaIndonesia.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9131259/Al-QuranTerjemahBahasaIndonesia.rar.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Quran to World&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9131260/Al-QurantoWorld.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9131260/Al-QurantoWorld.rar.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AlQuran in Java Script&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9131261/AlQuraninJavaScript.zip.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9131261/AlQuraninJavaScript.zip.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;haditsweb3.0.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://www.ziddu.com/download/9166836/haditsweb3.0.zip.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lain-lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adzan Pack 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9131050/adzanpack_2009.zip.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9131050/adzanpack_2009.zip.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hijri-Gregorian Calendar Converter  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9166835/Hijri-GregorianCalendarConverter.zip.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9166835/Hijri-GregorianCalendarConverter.zip.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penghitung Zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9167111/hitungzakat.zip.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9167111/hitungzakat.zip.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kamus Mufid V1.0&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9167112/kamus_mufid_1.0.zip.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9167112/kamus_mufid_1.0.zip.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pray Alert Personal Edition&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9167246/PrayAlertPersonalEdition.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9167246/PrayAlertPersonalEdition.rar.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Perhatian:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;Seluruh software yang tersedia  bukan mewakili opini pemilik blog.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;Seluruh Hak Cipta software  adalah sepenuhnya kepada pemilik software, peran pemilik blog adalah  hanya ikut menyebarkan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;Jika ada yang tidak berkenan  dengan dimuatnya software di blog ini (pemegang hak cipta), maka pemilik  blog akan menghapusnya dari blog ini. Keberatan silakan kirim e-mail ke  : &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;mn.luthfi@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-7814431309247978698?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7814431309247978698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7814431309247978698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/software-islamic.html' title='Software Islamic'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-650500357081922102</id><published>2010-03-17T19:10:00.000-07:00</published><updated>2010-03-17T19:11:24.299-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unduh-Audio Pintu-Pintu Rejeki'/><title type='text'>PINTU-PINTU REJEKI</title><content type='html'>&lt;a href=" http://www.ziddu.com/download/6138536/ArifinBadri-TawakkaldanIkhtiardalamMencariRezeki.mp3.html"&gt;Tawakkal dan Ikhtiar dalam Mencari Rezeki &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138538/ArmenHalimNaro-SuksesSesungguhnya.mp3.html"&gt;Sukses Sesungguhnya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6139533/DoaHisnulMuslim-64doaagarbisamelunasiutang.mp3.html"&gt;64 doa agar bisa melunasi utang - Doa Hisnul Muslim&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138543/ArifinBadri-IkhlasdanMencariDunia.mp3.html"&gt;Ikhlas dan Mencari Dunia &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138544/ArmenHalimNaro-KehidupanDuniaatauAkhirat1.mp3.html"&gt;Kehidupan Dunia atau Akhirat 1 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138537/ArmenHalimNaro-KehidupanDuniaatauAkhirat2.mp3.html"&gt;Kehidupan Dunia atau Akhirat 2 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138542/ArmenHalimNaro-MemahamiDariManaDatangnyaRezeki2.mp3.html"&gt;Memahami Dari Mana Datangnya Rezeki 1 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138540/ArmenHalimNaro-MemahamiDariManaDatangnyaRezeki1.mp3.html"&gt;Memahami Dari Mana Datangnya Rezeki 2 &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138545/ArmenHalimNaro-SuksesdanSyafaat.mp3.html"&gt;Sukses dan Syafaat &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6138539/ArmenHalimNaro-SyarahDoaIstikharah.mp3.html"&gt;Syarah Doa Istikharah &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6139534/ZainalAbidinSyamsudin-MencariKunciRezekiYangHilang.mp3.html"&gt;Mencari Kunci Rezeki Yang Hilang &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-650500357081922102?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/650500357081922102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/650500357081922102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/pintu-pintu-rejeki.html' title='PINTU-PINTU REJEKI'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-2399475903538822715</id><published>2010-03-16T19:11:00.000-07:00</published><updated>2010-03-17T18:36:55.583-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unduh-Ebook Jihad'/><title type='text'>KUMPULAN EBOOK JIHAD</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6A_NbGDxtI/AAAAAAAAAbg/lXgk7Mq-qQ8/s1600-h/IMAM+SAMUDERA.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 100px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6A_NbGDxtI/AAAAAAAAAbg/lXgk7Mq-qQ8/s400/IMAM+SAMUDERA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449425048962320082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Imam Samudera - Aku Melawan Teroris:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                      &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8916234/7947911-Imam-Samudra-Aku-Melawan-Teroris.pdf.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8916234/7947911-Imam-Samudra-Aku-Melawan-Teroris.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6A_NkqecxI/AAAAAAAAAbo/I5p3TkqqLYs/s1600-h/BALADA.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 100px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6A_NkqecxI/AAAAAAAAAbo/I5p3TkqqLYs/s400/BALADA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449425051530982162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Balada Jamaah Jihad:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008049/BaladaJamaahJihad.pdf.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008049/BaladaJamaahJihad.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6GBYy5z_AI/AAAAAAAAAb4/8w9xFovmlpI/s1600-h/MELAWAN+PENGUASA.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 133px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6GBYy5z_AI/AAAAAAAAAb4/8w9xFovmlpI/s200/MELAWAN+PENGUASA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449779287076109314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melawan Penguasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8916363/MelawanPenguasa.rar.html" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://www.ziddu.com/downl&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;oad/8916363/MelawanPenguas&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;a.rar.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;an__nihayah__wal__khulasoh__azzam  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008169/an__nihayah__wal__khulasoh__azzam.pdf.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008169/an__nihayah__wal__khulasoh__azzam.pdf.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh_Yusuf_AlUyairi__Hukum_Membunuh_Tawanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008170/Syaikh_Yusuf_AlUyairi__Hukum_Membunuh_Tawanan.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008170/Syaikh_Yusuf_AlUyairi__Hukum_Membunuh_Tawanan.pdf.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewan Syariah Daulah Islam-Proklamasi Daulah  Islam Irak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008171/DewanSyariahDaulahIslam-ProklamasiDaulahIslamIrak.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008171/DewanSyariahDaulahIslam-ProklamasiDaulahIslamIrak.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiada Khilafah Tanpa Tauhid Jihad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008172/buBashirAt-Tarthusi-TiadaKhilafahTanpaTauhidJihad.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008172/buBashirAt-Tarthusi-TiadaKhilafahTanpaTauhidJihad.pdf.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rambu-Rambu Dalam Perjuangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008173/ImamUsamahbinLadin-Rambu-RambuDalamPerjuangan.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008173/ImamUsamahbinLadin-Rambu-RambuDalamPerjuangan.pdf.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;                                           &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh Abd.Qodir bin Abd.Aziz-Kedudukan Tauhid Jihad:  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008264/SyaikhAbd.QodirbinAbd.Aziz-KedudukanTauhidJihad.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008264/SyaikhAbd.QodirbinAbd.Aziz-KedudukanTauhidJihad.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh Abu Mushab Az-Zarqowi-Bergabunglah Bersama Kami:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008265/SyaikhAbuMushabAz-Zarqowi-BergabunglahBersamaKami.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008265/SyaikhAbuMushabAz-Zarqowi-BergabunglahBersamaKami.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh Abu Mushab Al-Zarqowi-Inilah Jalan ParaRosul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/SyaikhAbuMushabAl-Zarqowi-InilahJalanParaRosul"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008266/SyaikhAbuMushabAl-Zarqowi-InilahJalanParaRosul.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh Jabir bin Abd.Qoyyum-Cara Tepat Mati Syahid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008267/SyaikhJabirbinAbd.Qoyyum-CaraTepatMatiSyahid.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008267/SyaikhJabirbinAbd.Qoyyum-CaraTepatMatiSyahid.pdf.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh_Yusuf_AlUyairy__Idhoat_Ala_Darbil_Jihad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008268/Syaikh_Yusuf_AlUyairy__Idhoat_Ala_Darbil_Jihad.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008268/Syaikh_Yusuf_AlUyairy__Idhoat_Ala_Darbil_Jihad.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh_Yusuf_AlUyairi__Yang__Tegar_Di__Jalan__Jihad &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9008355/yaikh_Yusuf_AlUyairi__Yang__Tegar_Di__Jalan__Jihad.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9008355/yaikh_Yusuf_AlUyairi__Yang__Tegar_Di__Jalan__Jihad.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-2399475903538822715?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2399475903538822715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2399475903538822715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/blog-post.html' title='KUMPULAN EBOOK JIHAD'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_B3TWAzjoWUU/S6A_NbGDxtI/AAAAAAAAAbg/lXgk7Mq-qQ8/s72-c/IMAM+SAMUDERA.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6671078374419650914</id><published>2010-03-02T19:00:00.000-08:00</published><updated>2010-03-17T20:42:33.885-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unduh-Audio Kajian Muslimah'/><title type='text'>KAJIAN ISLAM - WANITA MUSLIMAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Aku Wanita Paling Bahagia&lt;/span&gt;, klik di nomor  1  2  3&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8807376/AbuUmarBasyier-AkuWanitaPalingBahagia2.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8807376/AbuUmarBasyier-AkuWanitaPalingBahagia2.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8807378/AbuUmarBasyier-AkuWanitaPalingBahagia3.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8807378/AbuUmarBasyier-AkuWanitaPalingBahagia3.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                          &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8796898/AbuUmarBasyier-AkuWanitaPalingBahagia1.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8796898/AbuUmarBasyier-AkuWanitaPalingBahagia1.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.  Hijab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                      &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8820628/YazidJawas-AlHijab2b1.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8820628/YazidJawas-AlHijab2b1.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8820629/YazidJawas-AlHijab1a1.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8820629/YazidJawas-AlHijab1a1.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8820630/YazidJawas-AlHijab1b1.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8820630/YazidJawas-AlHijab1b1.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8820631/YazidJawas-AlHijab2a1.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8820631/YazidJawas-AlHijab2a1.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.  Beberapa adab dalam pergaulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                       &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8820843/YazidJawas-BeberapaAdabdalamPergaulan.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8820843/YazidJawas-BeberapaAdabdalamPergaulan.mp3.html &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Emansipasi Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                        &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8821198/MuhammadSuaibAl-Faiz-06Wanita1.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8821198/MuhammadSuaibAl-Faiz-06Wanita1.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.  Jilbab Wanita Muslimah, oleh Ustadz Armen Halim Naro, Rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                         &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8821577/ArmenHalimNaro-02JilbabWanitaMuslimah02.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8821577/ArmenHalimNaro-02JilbabWanitaMuslimah02.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8821578/ArmenHalimNaro-03JilbabWanitaMuslimah03.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8821578/ArmenHalimNaro-03JilbabWanitaMuslimah03.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8821579/ArmenHalimNaro-01JilbabWanitaMuslimah01.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8821579/ArmenHalimNaro-01JilbabWanitaMuslimah01.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.  Kewajiban Menjaga Lisan, oleh Ustadz Yazid Jawas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874332/YazidJawas-JagalahLisan.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874332/YazidJawas-JagalahLisan.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.  Khalwat, oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874386/AbuAbdilMuhsinFirandaAndirja-01Khalwat.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874386/AbuAbdilMuhsinFirandaAndirja-01Khalwat.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.  Kiat Menjaga Kemuliaan bagi Muslimah, oleh Ustadz Dzulkarnaen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874908/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah01.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874908/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah01.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                          &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874900/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah04.mp3.html" class="normal12blue"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874905/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah02.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874905/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah02.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874901/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah09.mp3.html" class="normal12blue"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874902/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah03.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874902/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah03.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874900/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah04.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874900/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah04.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874903/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah05.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874903/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah05.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874906/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah06.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874906/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah06.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874904/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah07.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874904/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah07.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874905/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah02.mp3.html" class="normal12blue"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874907/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah08.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874907/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah08.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874908/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah01.mp3.html" class="normal12blue"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8874901/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah09.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8874901/Dzulkarnaen-KiatMenjagaKemuliaanbagiMuslimah09.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.  Muslimah di Rumah, oleh Ustadz Aunur Rafiq Ghufran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                           &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8875049/AunurRafiqGhufran-muslimah-01.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8875049/AunurRafiqGhufran-muslimah-01.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8916729/AunurRafiqGhufran-muslimah-02.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8916729/AunurRafiqGhufran-muslimah-02.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                  &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8916730/AunurRafiqGhufran-muslimah-03.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8916730/AunurRafiqGhufran-muslimah-03.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8917064/AunurRafiqGhufran-muslimah-04.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8917064/AunurRafiqGhufran-muslimah-04.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                  &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8917065/AunurRafiqGhufran-muslimah-05.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8917065/AunurRafiqGhufran-muslimah-05.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8928763/AunurRafiqGhufran-muslimah-06.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8928763/AunurRafiqGhufran-muslimah-06.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                              &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8928762/AunurRafiqGhufran-muslimah-07.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8928762/AunurRafiqGhufran-muslimah-07.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8929013/AunurRafiqGhufran-muslimah-08.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8929013/AunurRafiqGhufran-muslimah-08.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8929014/AunurRafiqGhufran-muslimah-09.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8929014/AunurRafiqGhufran-muslimah-09.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8929689/AunurRafiqGhufran-muslimah-11.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8929689/AunurRafiqGhufran-muslimah-11.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8929690/AunurRafiqGhufran-muslimah-10.mp3.html" class="normal12blue"&gt;http://www.ziddu.com/download/8929690/AunurRafiqGhufran-muslimah-10.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8929689/AunurRafiqGhufran-muslimah-11.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8929689/AunurRafiqGhufran-muslimah-11.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8960024/AunurRafiqGhufran-muslimah-12.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8960024/AunurRafiqGhufran-muslimah-12.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8960025/AunurRafiqGhufran-muslimah-13.mp3.html" class="fontfamilyverdana normal12bluebold"&gt;http://www.ziddu.com/download/8960025/AunurRafiqGhufran-muslimah-13.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Rahasia Menjadi Wanita Teladan, oleh Ustadz Zainal Abidin Syamsudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9027640/ZainalAbidinSyamsudin-RahasiaMenjadiWanitaTeladan.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9027640/ZainalAbidinSyamsudin-RahasiaMenjadiWanitaTeladan.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 Saudariku Engkau Lebih Cantik dengan Berjilbab, oleh Ustadz Jauhar, Lc&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9028092/Jauhar-SaudarikuEngkaulebihcantikdenganberjilbab1.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9028092/Jauhar-SaudarikuEngkaulebihcantikdenganberjilbab1.mp3.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9028093/Jauhar-SaudarikuEngkaulebihcantikdenganberjilbab2.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9028093/Jauhar-SaudarikuEngkaulebihcantikdenganberjilbab2.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;12 Wanita Muslimah, oleh Ustadz Armen Halim Naro, Rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9028441/ArmenHalimNaro-WanitaMuslimaha.Laki-lakiPemimpin.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9028441/ArmenHalimNaro-WanitaMuslimaha.Laki-lakiPemimpin.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9028442/ArmenHalimNaro-WanitaMuslimahb.Laki-lakiPemimpin.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9028442/ArmenHalimNaro-WanitaMuslimahb.Laki-lakiPemimpin.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9028443/ArmenHalimNaro-WanitaMuslimahb.BagaimanaMendidik.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9028443/ArmenHalimNaro-WanitaMuslimahb.BagaimanaMendidik.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;13 Wanita, Ilmu dan Rumah Tangga, oleh Ustadz Abu Zubeir Al-Hawaary&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="   http://www.ziddu.com/download/9029022/AbuZubeiral-Hawaary-b.WanitaIlmudanRumahTangga.mp3.html"&gt;  &lt;br /&gt;http://www.ziddu.com/download/9029022/AbuZubeiral-Hawaary-b.WanitaIlmudanRumahTangga.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://http://www.ziddu.com/download/9029023/AbuZubeiral-Hawaary-a.WanitaIlmudanRumahTangga.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9029023/AbuZubeiral-Hawaary-a.WanitaIlmudanRumahTangga.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;14 Wasiat Untuk Wanita, oleh Ustadz Armen Halim Naro, Rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9029478/ArmenHalimNaro-WasiatutkWanita1.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9029478/ArmenHalimNaro-WasiatutkWanita1.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9029476/ArmenHalimNaro-WasiatutkWanita2.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9029476/ArmenHalimNaro-WasiatutkWanita2.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9029477/ArmenHalimNaro-WasiatutkWanita3.mp3.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/9029477/ArmenHalimNaro-WasiatutkWanita3.mp3.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6671078374419650914?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6671078374419650914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6671078374419650914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/03/kajian-islam-wanita-muslimah.html' title='KAJIAN ISLAM - WANITA MUSLIMAH'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6063527608899808294</id><published>2010-02-17T22:35:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T22:36:49.035-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Islam'/><title type='text'>Shalahuddin Al-Ayyubi</title><content type='html'>SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui "Siratun Nabawiyah". Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis Barat berkata, "Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap cara dan jalan ditempuh", kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu orang. Setelah mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah yang tandus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta menggeletar" demikian tulis pengarang Perancis Michaud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui" kata Marbaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill "terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis: "Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk "Kutub Khanah" (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. "Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga," kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167 Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud �memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai ringgi.�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai berikut: "Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi, kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli sejarah Perancis Michaud: "Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan." Berlawanan dengan syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Sultan yang berhati mulia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman. Jerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara-menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat. mengulangl lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu itu yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri. Raymond d' Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa �di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan keganasan. �Semua tawanan� kata Michaud, �yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat.�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula: �Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Rakyat yang ditaklukkan oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih. Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan.�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan diberikannya pula kemudian alat pengangkutan. Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: �Tuan saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan negeri ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup kami. Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami. Bilamana Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup.�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem dalam tangan tentara Salib satu abad sebe1umnya. Para komandan pasukan tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada tentara Salib yang telah dikalahkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat perlindungan oleh kota-kota yang dikuasai kaum Nasrani. �Banyak kaum Nasrani yang meninggalkan Jerusalem,� kata Mill, pergi menuju Antioch, tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan perlindungan kepada mcreka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana dengan baik. Michaud mcmberikan keterangan yang panjang lebar tentang sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari pengungsi ini, kata Michaud. �Seorang wanita karena putus asa melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya,� kata Michaud. Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan meninggalkan korban yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000 emas kepada pimpinan pasukan Salib. Karena kelambatan dalam suatu penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lionheart menyuruh membunuh kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati Sultan Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum Muslimin yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk sepanjang 150 mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan pukulan-pukulan yang berat terhadap tentara Salib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan damai yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak terbatas serta menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan terhadap orang yang demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi dibuatlah perjanjian perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah suci dengan ransel dengan barang-barangnya kembali menuju Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu" tulis Michaud "di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya tidak lebih dari seratus ribu orang. Dapatlah dipahami mengapa Eropa dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan. Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam pertempuran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi serta masjid-masjid di seluruh daerah yang diperintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Maret tahun 1193. "Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin" demikian tulis seorang penulis Islam. Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran. Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam serta dengan penuh kebajikan. "Di Eropa" tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melapangkan kuburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari:&lt;br /&gt;1. Shalahuddin al-Ayyubi, oleh Kwaja Jamil Ahmad (Lihat: Suara Masjid No. 91, Jumadil Akhir-Rajab 1402 H/April 1982 M)&lt;br /&gt;2. The Preaching of Islam, oleh Thomas W. Arnold.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;- "Shalahuddin", kadang ditulis dengan ejaan: Saladin (biasanya oleh Barat), Sholahuddin, atau Salahuddin.&lt;br /&gt;- Saat ini, sineas Barat sedang membuat film berjudul "Kingdom of Heaven". Film tersebut, terlepas benar atau tidaknya isi cerita, berkaitan dengan tokoh Shalahuddin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.hudzaifah.org/Article228.phtml&lt;br /&gt;Terkait : http://wiki.myquran.org/index.php/Salahuddin_Al_Ayyubi&lt;br /&gt;http://www.seruan-global.com/tarikh-khazanah/shalahuddin-al-ayyubi-pahlawan-islam-dari-seratus-medan-pertempuran-1137-1193-m-.html (baca lebih sedikit)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6063527608899808294?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6063527608899808294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6063527608899808294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/02/shalahuddin-al-ayyubi.html' title='Shalahuddin Al-Ayyubi'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-3376215086535328557</id><published>2010-02-16T17:11:00.000-08:00</published><updated>2010-04-26T00:22:19.487-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad - 20 Muwashofat Sang Pejuang'/><title type='text'>20 Muwashofat Sang Pejuang</title><content type='html'>Benarkah engkau seorang pejuang? Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai jundullah, sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid, namun niat ternoda oleh selain-Nya. Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sindir di dalam Al Qur’an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al Ankaabut: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Pejuang Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri, apakah kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di jalan-Nya atau jangan-jangan, baru sebatas khayalan dan angan-angan kosong belaka. Inginkan syurga, tetapi tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita mengira akan masuk surga dengan pegorbanan yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan hukum ekonomi kapitalis, “Mendapatkan output yang sebesar-besarnya, semaksimal mungkin, dengan input yang seminimal mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai., sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara yang besar. Dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan,sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan, gemuruh di dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang. Tetapi sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada dan semangat itu ikut surut seiring dengan berakhirnya lantunan nasyid. Tidak keluar dalam amaliyah yang nyata. Demi Allah., keimanan bukanlah dilihat dari yang paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan bukan pula dari yang paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat Israel menyerang Palestina. Bukan pula dari yang paling banyak simbol-simbol keagamaannya. Karena itu semua hanya sesaat. Sesungguhnya keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi Rabbi. Yang selalu bermujahadah mengamalkan Al Qur’an. Teguh pendirian. Tak kenal henti. Hingga terminal akhir, syurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berda’wah, sudah menganggap diri telah melakukan totalitas perjuangan? Padahal para nabi tidaklah menjadikan da’wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“….Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dalam surat Al mudatsir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ayat itu turun, sang nabi akhir zaman selalu siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk menegakkan Al Haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pejuang, tetapi makanannya adalah sebaik-baik makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian. Dan dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton sinetron-sinetron cinta dan acara gosip, mendengar lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap mendapatkan syurga? Sangatlah jauh. bagaikan pungguk merindukan rembulan. Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Mush’ab bin Umair dan para sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup. Mereka mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela menikmati dunia yang melalaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang akan dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah lagi terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya syurga dan neraka. Ada amanah da’wah yang besar di pundaknya, lantas bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak bercanda? Imam Syahid Hasan Al Banna memasukkan “keseriusan” atau tidak banyak bergurau sebagai bahagian dari 10 wasiatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringnya suasana ruhiyah di lingkungan kita, bisa jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah- jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir. Bahkan sungguh aneh, dapat tertawa dan tidak menyimak ketika Al Qur’an dibacakan di dalam pembukaan ta’lim. Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur’an itu baru sampai di tenggorokan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan tiba suatu masa dalam ummat ketika orang membaca Al Qur’an, namun hanya sebatas tenggorokannya saja (tidak masuk ke dalam hatinya).” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah air mata keimanan? Ya Rabbi., ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kederisasi generasi sebaiknya tidak melulu tentang pergerakan dan mengabaikan aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa dihembuskan dimana saja karena ia adalah motor penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Muwashofat Sang Pejuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus dimiliki pejuang, yang disarikan dari Al Qur’an dan hadits, yaitu :&lt;br /&gt;1. Aqidahnya bersih (saliimul ‘aqiidah)&lt;br /&gt;2. Akhlaknya solid (Matiinul khuluqi)&lt;br /&gt;3. Ibadahnya benar (Shohiihul I’baadah)&lt;br /&gt;4. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)&lt;br /&gt;5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)&lt;br /&gt;6. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)&lt;br /&gt;7. Mampu berusaha mencari nafkah (Qaadiirun ‘alal kasbi)&lt;br /&gt;8. Efisien dalam memanfaatkan waktu (Hariisun ‘alal waqti)&lt;br /&gt;9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoirihi)&lt;br /&gt;10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun ‘anisy syubuhat)&lt;br /&gt;11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul lisaan)&lt;br /&gt;12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun filhaqqi)&lt;br /&gt;13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)&lt;br /&gt;14. Lemah lembut dan suka memaafkan (Latiifun wahubbul ‘afwi)&lt;br /&gt;15. Benar, jujur dan tegas (Al Haq, Al-amanah-wasyja’ah)&lt;br /&gt;16. Selalu yakin dalam tindakan (Mutayaqqinun fil’amal)&lt;br /&gt;17. Rendah hati (Tawadhu’)&lt;br /&gt;18. Berpikir positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’)&lt;br /&gt;19. Senantiasa siap menolong (Mutanaashirun lighoirihi)&lt;br /&gt;20. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir (Asysyidda’u ‘alal kuffar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pejuang, hendaknya bukanlah angan-angan kita belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria (muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita terkena hadits ini, “Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya.” (Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah ruginya bila kita menganggap diri sebagai pejuang, padahal dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama kita memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya bukan hanya angan semata, agar cinta kita tak bertepuk sebelah tangan. Karena pembuktian cinta haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita mencintai-Nya dan Dia pun mencintai kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-3376215086535328557?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/3376215086535328557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/3376215086535328557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/02/20-muwashofat-sang-pejuang.html' title='20 Muwashofat Sang Pejuang'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-5802547349129817307</id><published>2010-01-26T18:03:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T19:33:12.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seri Tauhid - Tinjauan Kekafiran Demokrasi'/><title type='text'>Tinjauan Kekafiran Demokrasi</title><content type='html'>Demokrasi diambil dari bahasa Latin, demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti hukum atau kekuasaan. Jadi demokrasi adalah hukum dan kekuasaan rakyat, dan dibahasakan dalam Undang Undang Dasar RI dengan “Kedaulatan berada di tangan rakyat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi memiliki beberapa ajaran, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·      Sumber hukum bukan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, akan tetapi rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Hukum yang dipakai bukanlah hukum Allah, akan tetapi hukum buatan&lt;br /&gt;   * Memberikan kebebasan berkeyakinan dan mengeluarkan fikiran dan pendapat&lt;br /&gt;   * Kebenaran adalah suara terbanyak&lt;br /&gt;   * Tuhannya banyak dan beraneka ragam&lt;br /&gt;   * Persamaan hak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran-ajaran demokrasi atau dien (agama) demokrasi ini semuanya kontradiktif dengan dien kaum muslimin, Al Islam. Sebagian manusia merasa aneh saat kami menyebut demokrasi sebagai dien (agama) padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja (dien al malik)…” (QS. Yusuf [12]: 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala namakan sebagai dien (agama/jalan hidup yang ditempuh), sedangkan demokrasi itu memilliki undang-undang selain Islam. Jadi dien (agama) kafir itu bukan hanya Nashrani, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, Shinto, dan Majusi saja…, akan tetapi Demokrasi adalah dien, Nasionalisme adalah dien, Kapitalisme adalah dien, Sekulerisme adalah dien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah dien kaum muslimin, sedangkan Demokrasi adalah dien kaum musyrikin, baik kaum musyrikin yang mengaku Islam atau yang mengaku bukan Islam. Untuk benar-benar mengetahui kekufuran dien Demokrasi ini, maka mari kita kupas ajaran-ajarannya itu dengan membandingkannya dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Sumber hukum bukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan tetapi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan rakyat adalah yang berdaulat dan yang berkuasa, maka sumber hukumnya pun adalah rakyat yang diwakili oleh wakil-wakil mereka di Parlemen (MPR/DPR). Dan bila anda membuka Konstitusi (Undang Undang Dasar) semua negara yang bersistem Demokrasi, maka pasti mendapatkan bahwa kekuasaan Legislatif (tasyri’iyyah/pembuatan hukum) ada di tangan majelis rakyat, ada juga yang ‘bebas’ seperti di negara-negara barat, dan ada yang terbatas seperti di negara-negara Arab dan negara timur yang mana Raja, Amir, dan Presiden sangat menentukan, dan tidak lupa juga bahwa demokrasi atau aspirasi rakyat ini tidak semuanya digulirkan, kecuali bila sesuai dengan thaghut Latta mereka yaitu Undang Undang Dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sumber/kekuasaan/wewenang hukum itu di dalam dien Al Islam ada di Tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah…” (QS. Yusuf [12]: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…” (QS. Al An’am [6]: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia-lah yang menciptakan dan yang memilih apa yang Dia kehendaki serta bahwa manusia tidak punya hak untuk memilih setelah Allah menentukan, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Dia-lah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak diibadati melainkan Dia, bagiNya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagiNya-lah segala penentuan dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Qashash [28]: 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dia Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Al Qashash [28]: 87-88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat lainnya yang menjelaskan bahwa hak menentukan hukum dan putusan serta penetapan hanyalah milik Allah dan hak khusus rububiyyah serta uluhiyyah-Nya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah-lah yang memutuskan dan hanya kepada-Nyalah putusan itu (disandarkan)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah dienullah yang dianut oleh kaum muslimin, sedangkan yang tadi adalah dien Demokrasi yang dianut oleh kaum musyrikin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran [3]: 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Apakah sama antara dua dien ini wahai manusia…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Dan apa yang anda pilih, Islam ataukah Demokrasi…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja… bila yang menjadi sumber hukum itu adalah manusia yang sangat penuh dengan kekurangan dan keterbatasan, apa jadinya hukum yang diundang-undangkan itu? Bulan ini dibuat dan diibadati, namun beberapa bulan berikutnya dihapuskan (baca: dimakan) atau direvisi, karena sudah tidak relevan lagi, tidak ada bedanya dengan tuhan (berhala) dari adonan roti yang mereka (kafir Arab dahulu) buat dan mereka ibadati, namun ketika lapar mereka santap habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bila yang menjadi sumber hukum itu hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia-lah Dzat Yang Maha Mengetahui segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al Mulk [67]: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Hukum yang dipakai bukan hukum Allah tapi hukum buatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi telah dijelaskan bahwa sumber hukum agama Demokrasi adalah rakyat, maka sudah pasti hukum yang dipakai adalah bukan hukum Allah, tapi hukum rakyat (wakilnya) atau hukum yang disetujui oleh mereka, juga dikarenakan dien Demokrasi ini adalah menyatukan semua pemeluk dien yang beraneka ragam dan mengakuinya serta menampung semua aspirasinya, sedangkan untuk kesatuan mereka ini dibutuhkan hukum yang mengikat semua dan disepakati bersama, padahal para pemeluk dien selain Al Islam tidak akan rela dengan hukum Islam sehingga disepakatilah hukum yang menyatukan mereka, dan itu bukan hukum Allah, tapi hukum wali-wali syaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini adalah kerusakan yang besar, kekafiran yang nyata serta kemurtadan yang nampak jelas bagi pemeluk Islam yang ridha dengannya atau mendukungnya apalagi menerapkan atau melindunginya. Padahal Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maidah [5]: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekutu dengan hukum buatan itu syirik akbar, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS. Al An’am [6]: 121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ayat ini Al Hakim dan yang lainnya meriwatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas: Bahwa orang-orang membantah kaum muslimin tentang sembelihan dan pengharaman bangkai, mereka berkata: “Kalian makan apa yang kalian bunuh dan tidak makan dari apa yang Allah bunuh” yaitu bangkai, maka Allah berfirman “Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini: “Dimana kamu berpaling dari perintah Allah dan aturan-Nya kepada yang lainnya, terus kamu mendahulukan terhadap aturan Allah yang lainnya, maka inilah syirik itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Memakai hukum selain hukum Allah adalah syirik akbar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saja orang yang menuruti atau meridhai satu hukum yang menyelisihi aturan Allah, telah Dia Subhanahu Wa Ta’ala vonis musyrik, maka apa gerangan dengan Demokrasi yang seluruhnya adalah bukan hukum Allah. Kalau memang ada satu macam atau beberapa macam hukum yang ada dalam Demokrasi itu serupa dengan ajaran Islam, tetap saja itu tidak disebut hukum Allah dan tidak merubah kekafiran penganut dien Demokrasi. Andai ada orang Nashrani yang jujur dan amanah, apakah itu bisa menyebabkan dia itu disebut muslim karena jujur dan amanah itu ajaran Islam? Sama sekali tidak, karena jujur dan amanahnya itu bukan atas dorongan tauhid, tapi kepentingan lain, maka begitu juga dengan Demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu para ulama tetap ijma atas kafirnya orang yang menerapkan kitab Undang-undang hukum Tartar (Yasiq/Ilyasa) yang dibuat oleh Jengis Khan, padahal sebagiannya diambil dari syari’at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Siapa yang meninggalkan syari’at paten yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada yang lainnya berupa hukum-hukum (Allah) yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang berhukum kepada Ilyasa dan lebih mengedepankannya atas hukum Allah? Siapa yang melakukannya maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin”. [Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang Yasiq/Ilyasa: “Ia adalah kitab undang-undang hukum yang dia (Raja Tartar, Jengis Khan) kutip dari berbagai sumber ; dari Yahudi, Nashrani, Millah Islamiyyah, dan yang lainnya, serta di dalamnya banyak hukum yang dia ambil dari sekedar pandangannya dan keinginannya, lalu (kitab) itu  bagi keturunannya menjadi aturan yang diikuti yang lebih mereka kedepankan dari pada al hukmu bi Kitabillah wa sunnati Rasulillah shalallahu ‘alaihi wasallam. Siapa yang melakukan itu, maka wajib diperangi hingga kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, selainnya tidak boleh dijadikan acuan hukum dalam hal sedikit atau banyak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dikarenakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS. Al Maidah [5]: 49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat itu, Allah mengatakan “menurut apa yang diturunkan Allah”, dan tidak mengatakan “menurut seperti apa yang diturunkan Allah”. Dalam ajaran Demokrasi hukum yang berlaku adalah hukum jahiliyyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki…” (QS. Al Maidah [5]: 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran tauhid, orang tidak dikatakan muslim, kecuali dengan kufur kepada thaghut yang di antaranya berbentuk undang-undang buatan manusia, sedangkan Demokrasi mengajak orang-orang untuk beriman kepada thaghut, padahal Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu…” (QS. An Nisa [4]: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah realita para demokrat serta para pendukungnya justeru adalah sebagaimana yang Allah Subhaanahu Wa Ta’ala firmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”. (QS. An Nisa [4]: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang serupa dengan ajaran Islam dalam hukum mereka itu, tidak lebih dari apa yang tidak bertentangan dengan selera dan kepentingan mereka, dan itu setelah proses tarik menarik dan diskusi panjang antara mengiakan dengan tidak, tak ubahnya dengan orang-orang yang Allah firmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zhalim”. (QS. An Nur [24]: 48-50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Apakah anda masih meragukan bahwa Demokrasi itu dien kufriy…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Islam atau Ad Dimoqrathiyyah…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”. (QS. Ali Imran [3]: 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Memberikan kebebasan berkeyakinan dan mengeluarkan fikiran dan pendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi adalah dien yang melindungi semua agama, mengakui serta menjamin kebebasannya. Orang Nashrani bila mau masuk Islam maka Demokrasi mempersilahkan dan mengakuinya, dan begitu juga orang Islam jika ingin masuk Nashrani atau agama lainnya, maka dien Demokrasi tidak mempersalahkannya apalagi memberikan sanksi terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu berarti dien Demokrasi telah menghalalkan pintu-pintu kemurtadan serta menggugurkan hukum-hukum yang berkaitan denganya, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai seorang muslim karena ghirahnya sangat tinggi lalu dia membunuh orang murtad, maka tentulah dia mendapat hukuman. Begitu juga dien demokrasi memberikan kebebasan untuk mengeluarkan fikiran dan pendapat, walaupun fikiran dan pendapat itu adalah kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Demokrasi membuka pintu kekufuran dari berbagai sisi. Dari sinilah rahasia kenapa sanksi-sanksi yang bersifat keagamaan ditiadakan dan tidak diberlakukan, karena itu bertentangan dengan kebebasan berkeyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat seorang bapak meninggal dunia dan si anak telah murtad, maka hukum demokrasi masih menetapkan warisan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat si suami murtad, sedangkan isteri masih muslimah…, namun dien Demokrasi tidak mengharuskan pisah (fasakh) di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah dan Rasul-Nya dibiarkan dihina siang dan malam, dan ajaran Islam dicemoohkan dan dilecehkan dengan dalih kebebasan mengeluarkan fikiran dan pendapat. Memang Demokrasi itu memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi semua faham dan aliran kecuali Tauhid, karena seandainya ada muwahhid yang mencela dan menghina atau berupaya membunuh thaghut mereka, tentulah dia dikenakan pasal hukuman, padahal itu ajaran Tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kebebasan yang dimaksud oleh dien Demokrasi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Kebebasan kufur, syirik, ilhad, zandaqah, dan riddah… bukan kebebasan Tauhid…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Kebenaran adalah suara terbanyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah bahwa dien Demokrasi memiliki ajaran bahwa al haq itu bersama suara rakyat atau mayoritasnya. Adapun yang diinginkan oleh mayoritas, maka itu adalah kebenaran yang harus diterima dan diamalkan meskipun jelas-jelas bertentangan dengan Tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu setiap partai politik yang ingin menguasai Parlemen dan Pemerintahan pasti dia mencari dukungan sebanyak-banyaknya dari rakyat, kemudian setelah itu mereka bisa menerapkan putusan apa saja meskipun melanggar aturan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam, asal tidak melenceng dari Tuhan mereka tertinggi yang padahal mereka sendiri yang membuatnya, yaitu Undang Undang Dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kebenaran itu hanyalah bersumber dari Allah, baik mayoritas menyukainya atau tidak. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”. (QS. Ali Imran [3]: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman-Nya Subhaanahu Wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”. (QS. Al Baqarah [2]: 147)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan kebenaran adalah datang dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala lewat lisan Rasul-Nya, maka bila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu putusan atau hukum, tidak boleh manusia mempertimbangkan antara menerima atau tidak serta tidak ada pilihan lain kecuali menerima dan tunduk kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al Ahzab [33]: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya Subhaanahu Wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka…” (QS. Al Qashash [28]: 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli tafsir menyatakan bahwa bila Allah telah menentukan sesuatu, maka manusia tidak dapat memilih yang lain lagi dan harus mentaati dan menerima apa yang telah ditetapkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun agama Demokrasi mengatakan lain, rakyat bebas memilih apa yang mereka inginkan dan mereka memiliki pilihan. Tapi bila rakyat (wakil-wakil mereka tentunya) atau mayoritasnya menentukan sesuatu, maka tidak ada pilihan lagi kecuali mengikutinya, karena Tuhan yang berhak menetapkan ketentuan dalam ajaran Demokrasi adalah para wakil rakyat itu, bukannya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dien Demokrasi memiliki tolak ukur kebenaran itu berdasarkan pada suara aghlabiyyah (mayoritas), sehingga apapun yang disuarakan oleh mereka, maka itulah kebenaran yang mesti diikuti, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menghati-hatikan dari mengikuti keinginan mayoritas manusia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am [6]: 116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dikarenakan mayoritas (manusia) musyrik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah”. (QS. Yusuf [12]: 106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritasnya tidak beriman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya”. (QS. Yusuf [12]: 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritasnya benci akan kebenaran…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu”. (QS. Al Mukminun [23]: 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritasnya tidak mengetahui kebenaran…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Al Jaatsiyah [45]: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritasnya tidak memahami kebenaran…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)”. (QS. Al Ankabut [29]: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas mereka itu kaum yang tidak beriman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (QS. Al Mukmin/Ghafir [40]: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas mereka itu tidak bersyukur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”. (QS. Al Mukmin/Ghafir [40]: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sifat-sifat orang yang dijadikan Tuhan (arbab) dalam agama Demokrasi ; musyrik, kafir, sesat, bodoh, kurang akal, benci terhadap kebenaran, tidak mau bersyukur lagi menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ridha dan beribadah kepada tuhan-tuhan itu, maka ia lebih sesat dan lebih bodoh dari kerbau piaraannya…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi…” (QS. Al A’raf [7]: 179)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enyahlah kalian dan apa yang kalian ibadati selain Allah. Maka apakah kamu tidak berakal…??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Tuhannya banyak dan beraneka ragam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dijelaskan di awal pembahasan ini bahwa hukum adalah hak khusus Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan ia adalah ibadah, bila ia disandarkan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka itu adalah syirik, dan yang menerima penyandarannya itu adalah Tuhan (arbab) selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah diketahui bahwa rakyat (wakil-wakilnya) adalah pemegang kewenangan hukum, itu dalam dien Demokrasi, sedangkan wakil-wakil rakyat itu jumlahnya sangat banyak, berarti tuhan-tuhan mereka itu beraneka ragam. Ada tuhan yang katanya mengaku Islam, ada yang Nashrani, ada yang dari Budha, Hindu, Dukun, Paranormal, Tentara, Polisi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Tauhid mengajarkan bahwa sumber yang berwenang menentukan hukum hanyalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf [12]: 39)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Qur’an, para pembuat hukum itu diberi beberapa nama oleh Allah:  Arbaab, thaghut, syuraka, auliaa-usy syaithan (wali-wali syaitan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Arbaab (Tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah [9]: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah menamakan orang-orang alim dan para rahib Yahudi dan Nashrani sebagai ARBAAB, saat ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di hadapan ‘Adiy Ibnu Hatim ~saat itu asalnya Nashrani kemudian masuk Islam~, maka dia langsung mengatakan: “Kami tidak pernah sujud dan shalat kepada mereka…”, maka Rasulullah menjelaskan makna “mereka menjadikan para rahib dan alim itu sebagai Arbab”: “Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan kemudian kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”,maka ‘Adiy menjawab: “Ya, benar”. Dan Rasulullah berkata: “Itulah bentuk ibadah kepada mereka”. [Atsar ini dihasankan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: ”Bab: Orang yang mentaati ulama dan penguasa dalam mengharamkan apa yang Allah haramkan atau (dalam) menghalalkan apa yang Allah haramkan”, maka ia telah menjadikan mereka sebagai Arbaab selain Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut…” (QS. An Nisa [4]: 60)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata tentang beberapa tokoh thaghut: “Penguasa yang zhalim yang merubah ketentuan-ketentuan Allah”, terus beliau tuturkan ayat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid rahimahullah berkata: “Thaghut adalah syaitan berwujud manusia yang mana orang-orang berhakim kepadanya sedang dia adalah pemegang kendali mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan kaki Terjemahan Mushhaf Departemen “Agama” RI: “Termasuk thaghut juga adalah; orang yang menerapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu”. Ketahuilah… sesungguhnya selain aturan Allah adalah curang lagi bersumber dari hawa nafsu…!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka mempunyai syurakaa (sembahan-sembahan) selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka dien (aturan) yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syuura [42]: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda harus ingat dalam memahami ayat ini dan yang lainnya bahwa hukum/aturan adalah dien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tentang penamaan para pembuat hukum selain Allah sebagai wali-wali syaitan, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang upaya kaum musyrikin mendebat kaum muslimin supaya setuju dengan aturan yang menyelisihi aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu membisikkan kepada wali-wali mereka agar membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, maka sesungguhnya kamu adalah benar-benar musyrik”. (QS. Al An’am [6]: 121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan syaitan kepada mereka adalah ucapan yang mereka lontarkan kepada kaum muslimin “Kalian makan apa yang kalian bunuh (maksudnya sembelihan) dan tidak makan apa yang dibunuh Allah (maksudnya bangkai)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi para pembuat hukum dan undang-undang itu adalah wali-wali syaitan, dan sedangkan undang-undang dan hukumnya itu adalah syari’at syaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti qawanin wadl’iyyah (undang-undang) yang disyari’atkan oleh syaitan lewat lisan wali-walinya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Demokrasi adalah ajaran syaitan, sedangkan para penganutnya adalah para penyembah syaitan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Persamaan Hak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ajaran Demokrasi, semua rakyat dengan berbagai macam agama dan keyakinannya adalah sama, tidak ada perbedaan antara muslim dengan kafir, juga antara orang yang taat dengan yang fasiq. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala membedakan di antara mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu…” (QS. Al Maidah [5]: 100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kafir adalah yang buruk sedangkan orang muslim adalah yang baik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah…” (QS. Al Hasyr [59]: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasiq?” (QS. As Sajdah [32]: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ayat-ayat lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan risalah ini kami bermaksud untuk menggugah anda agar mengetahui bahwa Demokrasi itu adalah agama kafir lagi syirik, sedang para pengusungnya serta para penganutnya adalah kaum musyrikin walau mereka menyatakan bahwa dirinya muslim, shalat, zakat, shaum, haji dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Muhammad, keluarga, dan para shahabat. Wal hamdu lillaahi rabbil ‘aalamin….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-6-tinjauan-kekafiran-demokrasi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-5802547349129817307?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5802547349129817307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5802547349129817307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2010/01/tinjauan-kekafiran-demokrasi.html' title='Tinjauan Kekafiran Demokrasi'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-5411301752129734587</id><published>2009-12-02T03:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T03:43:03.238-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Muallaf'/><title type='text'>Vicente Mota Alfaro</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tiga belas tahun yang lalu Vicente Mota Alfaro adalah salah seorang pemeluk Kristen yang taat yang secara rutin mendatangi kelas Minggu dan membaca Injil setiap harinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hari ini, dia tidak hanya seorang Muallaf, namun dia adalah Imam Masjid dari Pusat Kebudayaan Islam Valensia (CCIV).&lt;br /&gt;Selain merupakan Muallaf pertama yang dipersilakan mengimami setiap kali sholat berjamaah, dia juga merupakan anggota Dewan Kepengurusan CCIV sejak 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin kelompok Muslim Valensia menetapkan Alfaro sebagai Imam besar, dan berterima kasih atas kerja kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia pantas kami pilih karena kehebatan pengetahuan agamanya”, kata El-Taher Edda Sekretaris Umum Liga Islam bagian Dialog dan Perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia meyakini Alfaro telah menyebarkan pesan yang nyata mengenai Muallaf yang bergabung dalam kekuatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa media setempat tidak lama lalu melaporkan adanya peningkatan jumlah Muallaf di Spanyol, tanpa adanya pertentangan dari pihak manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan Muslim Spanyol berjumlah 1.5 juta dari 40 juta penduduk keseluruhan. Islam merupakan agama terbesar kedua setelah Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masyarakat bertanya kepada Alfaro bagaimana dia dapat menjadi seorang Muallaf, dia akan memberikan jawaban yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah telah menjadikan Islam sebagai agama dan hidupku”, katanya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Alfaro berusia 20 tahun dan masih berkuliah ketika dia memutuskan untuk menjadi Muallaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya membaca Al-Quran, saya menemukan kebenaran tentang Nabi Isa dan saya putuskan menjadi Muallaf”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya dia adalah seorang pemeluk Kristen yang taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulunya saya rutin pergi ke Gereja tiap Minggu dan membaca Injil setiap harinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada saat itu saya tidak tahu sama sekali mengenai Islam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mempunyai seorang tetangga Muslim Algeria yang memperkenalkannya pada Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika berbincang-bincang dia mengatakan bahwa seluruh umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, dan semuanya merupakan anak dari Nabi Ibrahim”, kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya terkejut mengetahui bahwa dalam Islam juga mengenal Adam, Hawa, dan Ibrahim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan tersebut rupanya membuat Alfaro muda semakin ingin mengetahui tentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selanjutnya, saya meminjam salinan Al-Quran dari perpustakaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membawanya pulang dan membaca salinan Al-Quran tersebut dengan teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun titik balik bagi Alfaro datang ketika dia membaca kisah tentang Yesus (Nabi Isa) dan kejadian penyaliban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelumnya yang saya ketahui adalah Yesus merupakan anak Tuhan yang diutus ke dunia untuk menebus dosa umat manusia, dan sebetulnya hal tersebut cukup mengganggu saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan saya temukan jawabannya dalam Al-Quran. Yesus tidak pernah disiksa ataupun disalib”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim meyakini Nabi Isa sebagai salah satu Rasul yang diberi penghormatan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, Nabi Isa tidak mengalami penyaliban, namun diangkat ke surga dan akan diturunkan kembali pada akhir zaman untuk memerangi Dajjal Al-Masih dan akan membawa kemenangan dan kejayaan bagi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kisah tersebut merubah keyakinan Alfaro untuk menjadi seorang Muallaf bernama Mansour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan cepat saya menyadari bahwa Al-Quran adalah Kitab Tuhan yang sesungguhnya, dan saya tidak pernah menyesal menjadi seorang Muallaf”. (Hanin Mazaya/SM)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-5411301752129734587?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5411301752129734587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5411301752129734587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/12/vicente-mota-alfaro.html' title='Vicente Mota Alfaro'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-7917752745894093904</id><published>2009-12-02T03:40:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T03:43:32.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Muallaf'/><title type='text'>Yvonne Ridley, Mualaf yang berbicara tentang Khilafah, Syariat &amp; Jihad</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yvonne Ridley, wartawati-feminis Inggris, yang menjadi mualaf setelah ditawan Taliban, dan kini menjadi pembela Islam di Inggris. Berikut ini adalah ceramah Yvonne Ridley beberapa tahun lalu di Global Peace &amp; Unity Conference, London, tepatnya pada tanggal 30 November 2006. Mudah-mudahan bisa jadi informasi bagi saudara-saudara yang belum mengetahui sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya ingin mempersembahkan pidato saya di Global Peace and Unity Conference ini kepada Imam Anwar Al-Awlaki-seorang ulama terkemuka dan dihormati di komunitas Muslim berbahasa Inggris – yang ditahan di Yaman dua bulan yang lalu. Namun, saya juga harus berterima kasih kepada saudara Fahad Ansari dari Islamic Human Rights Commussion, penulis artikel “God Save The Deen”, yang menginsoirasi saya menulis ceramah ini. Sebagian besar isi ceramah ini terinspirasi oleh tulisannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keislaman saya masih amat belia, karena saya baru menjadi muslimah pada 2003 – dan meskipun masih banyak yang harus saya pelajari, saya dapat merasakan frustasi yang dirasakan umat muslim pada saat ini. Saya tahu serangan 11 September berdampak luar biasa besar pada dunia, tapi itu bukan suatu awal … itu adalah kelanjutan dari warisan imperalisme AS dan ketakutannya terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 tahun yang lalu, para pemuda Muslim dari berbagai belahan dunia membanjiri Bosnia untuk membantu saudara-saudara merekan berjuang mempertahankan diri menghadapi Serbia yang melancarkan genosida, sementara dunia hanya berdiam diri menontonnya. Jihad menyatukan Muslim dari segala kebangsaan, status, dan kultur. Semua disatukan, bahkan mereka yang tidak bisa berangkat untuk berperang berusaha mengulurkan bantuan dalam berbagai bentuk lain seperti penggalangan dana, penyelenggaraan acara penyadaran masyarakat, dan demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, umat Muslim berhasil mematahkan usaha genosida.Dunia Barat baru melakukan intervensi setelah tampak jelas bahwa Muslim Bosnia akan meraih kemenangan.Mereka tidak bisa menerima berdirinya sebuah negera Islam di jantung Eropa, sehingga mereka pu mengitervensi. Ini buka semata-mata kesimpulan saya, tapi mantan Presiden Bill Clinton pun mengakuinya dalam autobiografinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakuan terhadap Islam telah berkembang selama 10 tahun belakangan, sehingga darah saydara-saudara kami kini mengalir bagaikan sugau-sungai yang melintasi Chechnya, Kashmir, Palestina, Afganista, Irak, dan baru-baru ini kita semua menyaksikan apa yang terjadi di Lebanon. Saya pernah mendatangi banyak dari ladang-ladang pembantaian ini dan izinkan saya mengatakan kepada Anda bahwa tubu-tubuh rusah, meldak berkeping-keping dari saudara-saudara Muslim kami sama persis dengan tubuh-tubuh yang tersebar pada hari ini sangat jelas: darah Muslim adalah komoditas murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, puluhan ribu Muslim tak bersalah masih disiksa di tempat-tempat terpencil seperti Teluk Guantanamo, Bandara Bagram di Afganistan, Abu Gharib, Diego Garcia, dan penjara-penjara rahasia di berbagai penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di penjara-penjara bawah tanah di Suriah, Yordania, Maroko, Tunisia, Argeria, Mesir … saudara-saudara kami disiksa atas prakarsa dan tuntutan pemerintah AS. Dam saua uakin pemerintah Inggris pun terlibat dalam hal ini … Para pejabatintelejen Inggris tidak lama lagi akan dipermalikan karena keterlibatan mereke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sampai sekarang, masih ada 9 warga negara Inggris yang ditahan di Guantanamo – orang-orang Amerika tidak menginginkan mereka, tapi pemerintah Inggris juga tidak mau menerima mereka. Meskipun Departemen Luar Negeri memberikan berbagai dalih, sebenarnya mereka hanya perlu menelepon untuk meminta pembebasan saudara kami itu. Dan jangan pikir hanya laki-laki yang disekap dan disiksa – Moazzam bisa mendengan jeritan seorang perempuan di sel penyiksaan di Afganistan tempat dia ditahan oleh Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuilah Moazzam Begg di stan Cage Prisoners hari ini dan tanyakan kepadanya, apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu. Karena kita bisa membantu. Hampir tak ada tahanan yang dibebaskan berkat proses pengadilan, melalui tekanan politik … yaitu ketika pemerintah turut campur tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang hadir hari ini bisa membuat perubahan. Jangan hanya duduk di sini dan memndam kegeramam – beraksilah. Tekanlah para politisi Anda dan ingatkan mereka bahwa Andalah tuan-tuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surah Al-Áshr, Allah menyatakan bahwa seluruh umat manusia, termasuk Muslim, berada dalam kerugian; kecuali mereka yang BERIMAN, MELAKUKAN AMAL KEBAIKAN, dan SALING MENGINGATKAN TENTANG KEBENARAN DAN KESABARAN. Hanya dengan memenuhi 4 kriteria ini, kita akan dapat berjumpa dengan Tuhan. Namun, jika kita membenamkan kepala kita di pasir dan berpura-pura tidak ada peninjasan di dunia, dan penderitaan saudara-saudara kita itu tak berarti apa pun bagi kita, maka mungkin kita tidak akan bisa berjumpa dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Ken McDonald, jaksa di Inggris, merasa jijik dengan tindakan-tindakan pemerintah – ia menyerang dengandengan sengit apa yang disebut “pengadilan-pengadilan rahasia“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengadilan-pengadilan itu mengadili tersangka terorisme yang tidak diizinkan melihat bukti-bukti yang memberatkan mereka. Itu sungguh suatu penghinaan terhadap keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara eksklusif denga Islam Channel News, dia berkomentar: “Kita harus menegaskan bahwa prinsip-prinsip ini tidak bisa ditawar-tawar. Dalam tekanan politik apa pun, dalam iklim apa pun, prinsip-prinsip ini adalah hakikat dari keadilan: persidangan yang terbuka dan dilakukan di hadapan pengadilan yang independen dan netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak menginginkan pengadilan-pengadilan rahasia, kita tidak menginginkan hakim yang dipilih secara rahasia, kita tidak menginginkan keadilan rahasia. Pengadilan yang berimbang; fairness di antara penuntut dan pembela tidak bisa ditawar-tawar; hak mendapat keterangan lengakap tentang kasus yang dituduhkan Negara terhadap Anda tidak bisa ditawar-tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembela berhak mengetahui tuduhan yang dihadapinya, dan mereka berhak mendapatkan bahan-bahan yang dimiliki Negara, termasuk yang merugikan tuduhan Negara atau menguntungkan tertuduh. Hak naik banding tidak bisa ditawar-tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan asas praduga tak bersalah, standar pembuktian kejahatan – yang melampaui keraguan-keraguan yang masuk akal – dengan tanggung jawab pembuktian terletak di pundak Negara, tak satu pun dari prinsip-prinsip ini bisa ditawar-tawar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja ia benar – tapi Tony Blair berkata bahwa Muslim harus berhenti memiliki mentalitas korban.Namun, kalau kepala kejaksaan saja mengeluh, tentu kami punya alas an kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan, apa tanggapan anak-anak muda Muslim atas semua ini? Mereka membaca kisa-kisah kepahlawanan Saladin Al-Ayyubi, Khalid bin Walid, Tariq bin Ziad, dan menyimak kisah-kisah keberanian dan keperwiraan Nabi Muhammad saw, yang amat kami cintai. Tahukan Anda, 5 tahun lalu, saya sama sekali tidak tahu siapa Nabi saw itu. Namun, sekarang saya bersedia mengorbankan tetes darah terakhir saya untuk membela nama, kehormatan dan kenangan tentang beliau. Bahkan setelah wafat, beliau menunjukkan dirinya mampu menyatukan Ummah dalam protes terhadap karikatur jahat dari Denmark itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan-pahlawan modern kami mencakup Malcolm X dan Syyid Qutb, yang tulisan keduanya membantu saya mendefinisikan diri sebagai Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjadi semacam role model yang diikuti anak-anak muda kami. Namun, mereka malah menerima informasi-informasi yang simpang siur dan membingungkan. Blair mencoba melarang Milestones (Buki karangan Syyid Qutb) – ia diberi tau bahwa Usamah bin Ladin membaca buku itu … Well, Usamah juga membaca Shakespeare. Apakah kita juga harus melarang Tweifth Nightm Hamlet, dan karya-krya klasiknya yang lain? Satu menit, anak-anak muda kami diberi tahu untuk hanya takut kepada Alla SWT, tapi menit berikutnya, mereka diberi tahu untuk “melunakkan“ Islam mereka dan menunjukkan kepala dengan patuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa 11 September, diluncurkan kampanye gencar untuk mengubah Islam menjadi sesuatu yang lebih sesuai dengan menyuarakan Barat. Tujuannya adalah menciptakan sebuat Islam yang sekuler dan kultural yang rukun dengan dunia karena ia tunduk kepada penindas-penindasnya, bukannya kepada Allah; sebuah Islam tanpa jihad, syariah dan khilafah – hal-hal yang diperintahkan Allah kepada kami untuk menjalankannya, demi tegaknya din Allah di muka Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan upaya-upaya ini tampak di mana pun saya mengarahkan pandangan. Hijab direnggut dari kepala saudari-saudari kami di Tunisia, Prancis, dan Turki. Saudari-saudari kami di Belanda dan Jerman juga menjadi sasaran. Dan di Inggris, ada Jack Straw, mantan Menteri Luar Negeri Inggris uang mempermasalahkan Jilbab – dia mungkin tidak suka nikab, tapi saya berharap ia memakainya, ditambah sebuah berangus yang besar. Saya tidak membutuhkan laki-laki kulit putih setengah baya untuk memberi tau saya atau saudari-saudari saya bagaimana kami harus berpakaian. Nikab, seperti jilbab, seperti hijab menjadi simbol penolakan terhadap gaya hidup Barat yang negatif seperti penggunaan obat-obatan terlarang, mabuk-mabukkan, dan seks bebas. Sikap tersebut adalah pernyataan kepada Barat bahwa kami tidak mau menjadi seperti dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim yang memilih menjadi lebih kebarat-baratan ketimbang orang Barat sendiri membuat saya tertawa – tidak sadarkah mereka bahwa tampak konyol di mata dunia? Mereka bersembunyi di balik deskripsi-deskripsi semacam moderat – lagi-lagi, pesan apakah yang ingin disampakan kepada anak-anak muda kami? Jika kita meminta mereka untuk menjadi moderat, tidakkah itu menyiratkan bahwa ada sesuatu yang salah denga Islam yang perlu dilunakkan, dijinakkan?&lt;br /&gt;Apa itu moderat dan apa itu ekstremis? Saya tidak tahu. Saya hanya seorang Muslim. Saya tidak mengikuti ulama atau aliran mana pun … saya hanya mengikuti Nabi saw. Dan Sunnahnya. Apakah itu membuat saya menjadi seorang ekstremis? Saya tidak yakin Tony Blair memahami dirinya sendiri – saya menulis surat kepadanya tiga bulan yang lalu dan sampai sekarang saya masih menunggu balasannya. Menjadi Muslim itu agak mirip dengan mengandung. Pernakah mendengar ada orang yang mengandung dengan moderat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah diserang selama 1.400 tahun dan kami sekarang sudah belajar untuk hanya bergantung kepada Allah. Namun, masih ada Muslim yang mencium tangan yang menampar mereka. Saya khawatir bahwa kita tak lagi bisa memercayai seseorang hanya karena mengenakan bisana islami. Ada pemimpin-pemimpin Muslim yang mengklaim bahwa mereka membimbing dan melindungi kami, tapi tidak semuanya memikirkan kepentingan kami. Generasi muda kami harus sangat hati-hati sejak peristiwa 11 September dan Bom London 7 Juli. Kmi harus memberi tahu generasi muda kami bahwa apa yang terjadi di Palestina, kashmir, Chechnya, Irak dan Afganistanadalah perlawanan yang dibenarkan terhadap pendudukan militer yang brutal, sedangkan kejahatan-kejahatan seperti 11 September dan Bom London adalah terorisme. Menyamakan keduanya berarti mengkhianati saudara-saudara kami yang tak punya pilihan selai melawan atau terhapus dari muka planet ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamba-hamba baru Dunia Barat menghujat partai-partai Islam dan pemerintah-pemerintah yang menerapkan syari’ah. Saya menyebut mereka “Penggembira“. Mereka diterbangkan pemerintah dari AS, Kanada, Yaman, dan Mauritania untuk menyebarkan Islam yang jinak. Hasil akhirnya adalah penjinakan din Allah, sebuah Islam yang lemah dan pasif, mau menerima status quo yang menindas dan menghinakan Muslim; sebuah Islam yang mendorong Muslim mengutuk aksi saudara-saudara mereka yang denga gagah berani melawan pendudukan dan penindasan dengan segala yang mereka punya. Bahkan mendoakan mereka pun sekarang menjadi kejahatan – berapa lama lagi sebelum kami diberi tahu untuk tidak mendoakan mujahidin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu panglima perang terbesar yang pernah dikenal dunia, Saladin Al-Ayyyubi, pembebas Al-Quds, pernah ditanya mengapa dia tak pernah tersenyum. Dia menjawab, bagaimana mungkin dia tersenyum padahal dia tahu Masjid Al-Aqsa masih diduduki? Saya bayangkan bagaimana tanggapannya terhadap situasi dunia sekarang? Saat ini para pemimpin Arab menari perut tanpa malu di hadapan Amerika sambil menyerahkan Irak di atas sebuah piring. Pemimpin-pemimpin Arab itu berpaling sementara Palestina yang jelita tak henti-hentinya diperkosa dan “putrid jelita” Arab lainnya, lebanon … kemanakah Dunia Arab ketika ia diserang dengan amat brutal?&lt;br /&gt;Dan genderang perang kembali ditabuh. Bukan janya seluruh dunia menyaksikan, melainkan anak-anak kami, generasi muda kami, masa depan kami. Kita harus mendidik dan menginspirasi mereka dengan kisah-kisah Nabi dan para Sahabat. Selama Ummah memunculkan tokoh-tokoh seperti Khalid bin Walid, Saladin Al-Ayyubi, Sayyid Qutb, dan Malcolm X, kami tidak akan kalah. Semakin kami ditindas oleh para tiran, semakin sengit kami melawan. Inilah sifat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah Islam yang perlu diikuti anak-anak muda kami, dengan bimbingan dan ispirasi. Kmi harus mengganti pemimpin-pemimpin yang mengebiri diri mereka sendiri dalam upaya menyedihkan untuk menjadi lebih Barat ketimbang bangsa Barat sendiri. Banyak anak muda Muslim sekarang menyadari bahwa tak peduli seberapa keras mereka mengompromikan din mereka untuk melebur ke dalam masyarakat yang lebih luas, ketika keadaan menjadi runyam, mereka akan diperlakukan dengan penuh kecurigaan. Semakin kami disuruh melupakan syari’ah, khilafah dan jihad, semakin Muslim akan membayar dengan darah untuk menegakkan nilai-nilai itu. Jihad yang kita saksikan di Palestina, Irak, Afghamistan, Kashmir, dan Chechnya adalah sesuatu yang mulai, sebuah perang yang dibenarkan melawan kezaliman dan tirani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi para jihadis sama sekalitidak menimbulkan ancaman terhadap Barat atau gaya hidup orang Barat. Perlawanan mereka bukan hanya dibenarkan tetapi bahkan didukung oleh hukum international. Ekstremis religius yang sungguh-sungguh menumbulkan ancaman terbesar meradikalisasi anak-anak muda kita adalah Kristen Fundamentalis di Gedung Putih dan Downing Street. Bush dan Blair telah menjadi agen perekrutan terbaik Al-Qaidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak anak muda Muslim menyadari bahwa bukan terorisme atau ekstremisme yang menjadi target, tetapi Islam sendirilah yang menjadi target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Ummah-lah yang harus memimpin dan menginspirasi generasi muda Muslim, seperti Nabi memimpin dan menginspirasi jutaan manusia dan akan terus demikian adannya. Dan pelajaran pertama yang harus kami sampaikan kepada generasi muda kami adalah takut kepada Allah SWT. (Althaf/s3nn4multiply)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.arrahmah.com"&gt;http://www.arrahmah.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-7917752745894093904?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7917752745894093904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7917752745894093904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/12/yvonne-ridley-mualaf-yang-berbicara.html' title='Yvonne Ridley, Mualaf yang berbicara tentang Khilafah, Syariat &amp; Jihad'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6530329756947644952</id><published>2009-12-02T03:36:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T03:44:01.078-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Muallaf'/><title type='text'>Laura Pistorious, Dari Pub Cocktail Ke Islam</title><content type='html'>Laura Pistorious adalah seorang wanita kulit putih Afrika Selatan yang dulunya mengelola sebuah pub koktail di kota pantai Camps Bay di Cape Town.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya terbiasa mengkonsumsi obat terlarang dan saat itu saya merasa sedang berada dalam kenikmatan hidup yang paling tinggi," kata Laura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, kebahagiaan didefinisikan dengan mengenakan pakaian dari desainer ternama, mengonsumsi obat-obatan terlarang dan berpesta sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada saat yang sama, Laura selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar dan merasa ada sesuatu yang terbakar di dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dibesarkan di keluarga Katolik yang kuat, dia bahkan berhenti percaya pada Tuhan karena gaya hidup yang tinggi dan ketergantungan obatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya telah mencapai suatu titik di mana saya tidak lagi percaya pada Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Laura mendadak berubah setelah ia bertemu dengan seorang temannya yang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah mendengarkan teman saya malam itu, saya banyak menangis dan berdoa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laura berkata setelah ia memanjatkan doa, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi obat yang telah membuatnya kecanduan selama empat tahun dan mulai mempelajari Islam lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saat itu, ia belum berpikir untuk menjadi seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada bulan September 2007, sebelum memulai puasa bulan suci Ramadhan, Laura mengucapkan syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allhamdulillah saya memeluk Islam melalui teman dan hidup saya telah benar-benar berubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Lebih Menyenangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjadi seorang muslimah, Laura berhenti bekerja di pub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah menjadi muslim, saya menemukan lebih banyak hal tentang Islam. Saya merasa perlu berhenti kerja, meskipun saat itu saya tidak memiliki pekerjaan lain," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi saya mengimani Allah Yang Maha Berkehendak atas segala hal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laura mengatakan bahwa orang tuanya yang beragama Katolik, terutama ayahnya, sangat terbuka dan tidak menghalangi pilihannya untuk memeluk agama Islam serta sering mengajaknya berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak saya masuk Islam dan berhenti dari pekerjaan saya sebagai manajer di pub, saya mulai pulang lebih awal dan itulah yang membuat orang tua saya senang," kata gadis yang mengenakan khimar dengan rapi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berharap suatu hari mereka juga akan memeluk agama Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian, Laura mendapat pekerjaan yang lebih baik, tetapi ia segera mengatakan pada atasannya yang Kristen, bahwa ia hanya akan menerima pekerjaan tersebut jika diizinkan meluangkan waktu untuk mendirikan shalat. Dan atasannya itu pun menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika anda melakukan hal-hal yang baik untuk alasan yang tepat, insyaAllah, Allah akan memberkahi anda," kata Laura dengan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang saya pun memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan Alhamdulillah saya menjalani hidup yang lebih sehat sebagai salah satu berkah dari keislaman saya." (althaf/iol/arrahmah.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.arrahmah.com"&gt;http://www.arrahmah.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6530329756947644952?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6530329756947644952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6530329756947644952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/12/laura-pistorious-dari-pub-cocktail-ke.html' title='Laura Pistorious, Dari Pub Cocktail Ke Islam'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-1576343311414789207</id><published>2009-12-01T23:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T23:58:42.941-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mujahidah'/><title type='text'>Siti Khadijah Radiyallahu Anha: First Lady of Islam</title><content type='html'>Berikut kami paparkan kisah seorang wanita yang tangguh, pendamping Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love and Jihad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah mendengar baik wanita Arab maupun Non-Arab yang lebih cerdas selain Khadijah. Beliau adalah wanita yang cantik jelita dan juga kaya raya. Ketika suaminya meninggal dunia, banyak lelaki yang terpandang melamarnya, namun dengan bijak ia tolak lamaran para lelaki itu karena ia ingin menanti seorang lelaki yang memiliki idealisme yang benar yang bisa menuntunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Allah pilihkan baginya, Muhammad bin ‘Abdullah, seorang yatim piatu yang miskin, namun banyak dikenal orang sebagai pemuda yang dapat dipercaya, “Al-Amin”.&lt;br /&gt;Muhammad diberikan kepercayaan untuk menjalankan bisnis yang dimiliki oleh Khadijah. Beliau berdagang hingga ke Syiria dan Palestina dengan diiringi oleh pengiringnya, yang bernama Maysarah, yang sangat takjub dengan akhlaq mulia, kedermawanan serta keagungan pribadi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Muhammad kembali dari perjalanan untuk berdagang dengan membawa laba yang banyak, Maysarah melaporkan pada majikannya, yakni Khadijah, tentang apa yang dia lihat dari diri Muhammad. Setelah itu, Khadijah menemui beliau dan mendengarkannya saat beliau sedang menghitung keselurhan keuntungan. Beliau adalah lelaki yang rupawan dan pandangan matanya memancarkan kecerdasan. Khadijah merasa Muhammad adalah orang yang memiliki akhlak yang sangat luhur yang tidak dimiliki oleh semua orang Quraisy, meskipun suku Quraisy terkenal dengan kebaikan akhlaqnya. Khadijah sangat mengaguminya dan berharap bahwa suatu saat nanti, Muhammad akan berada di status sosial yang tinggi. Dan pada saat itu, Khadijah merasa bahwa Muhammad adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suaminya, maka Khadijah meminta pertolongan dari seseorang yang sangat ia percayai untuk mengutarakan apa yang ia rasakan kepada Muhammad SAW dan mengajukan dirinya untuk diperistri oleh Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah dapat melihat dari diri Muhammad SAW kebaikkan akhlaq dan masa depan yang cemerlang sehingga beliau bisa menjadi pemimpin yang baik dan hebat. Oleh karena itulah Khadijah ingin menjalani masa depannya dengan pemuda dari Quraisy ini. Mimpinya ini menjadi kenyataan. Khadijah selalu mendampinginya dengan penuh kasih sayang, kelembutan, kebahagiaan, dan ketenangan serta terus memberikan dukungan kepada Muhammad untuk beribadah dan mendekatkan dirinya kepada Allah. Muhammad hidup dengan bahagia dan tenang bersama Khadijah selama lima belas tahun hingga beliau menerima wahyu dari Allah, Pemilik Alam Semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Abdullah mendapatkan wahyu yang pertama di Gua Hira, tempat beliau mengasingkan diri dan berkontemplasi dengan khusyu mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pencipta. Tempat berkontemplasi itu berada sangat jauh dari pemukiman penduduk. Tiba-tiba, Muhammad mendengar seseorang mengatakan, “Bacalah!” Beliau sangat terkejut dan berkata-kata dengan badan yang gemetar, “Saya tidak bisa membaca.” Lalu perintah itu datang lagi, “Bacalah! Bacalah dengan Nama Tuhan (pemilik) mu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad SAW sangat ketakutan, beliau berlari menuju rumahnya dengan tubuh yang masih gemetar. Lalu Khadijah datang menyambutnya. Muhammad bergegas ke tempat tidurnya sambil mengatakan, “ Selimuti aku, selimuti aku!” Beliau mengatakan tentang apa yang baru saja terjadi dan beliau sangat khawatir, takut sesuatu akan menimpanya, melukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah menyelimutinya dengan lembut dan mempercayai apa yang beliau ucapkan, lalu berkata dengan penuh keyakinan, “Allah akan melindungi kita, wahai abul Qasim. Bergembiralah dengan kejadian ini. Saya yakin dan berharap bahwa Allah, yang jiwa Khadijah ini berada dalam genggamanNya, akan menjadikan engkau sebagai utusanNya dan memimpin bangsa ini. Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau adalah orang yang menjalin hubungan baik dengan tetangga dan kerabat, selalu menolong orang yang miskin dan papa, engkau menjamu tamu dengan cara yang sangat baik, dan membantu orang yang terkena musibah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah sangat yakin bahwa Muhammad akan menjadi Rasul yang saat itu sedang banyak dibicarakan orang. Khadijah mengetahui hal ini dari sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal, dan Khadijah sangat mendamba segera datangnya Rasul itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datanglah momen tersebut. Setelah Muhammad tertidur, Khadijah bergegas pergi ke rumah sepupunya itu, orang yang memiliki pemahaman yang sangat mendalam akan kitab-kitab. Khadijah menceritakan kepada Waraqah segala yang sudah diucapkan oleh Muhammad. Waraqah mendengarkan dengan penuh perhatian dan ia mengatakan, “Maha Suci Allah! Maha Suci Allah! Allah, yang jiwa Waraqah berada di tanganNya, jika apa yang kau katakan itu benar, wahai Khadijah, maka malaikat yang datang kepada suamimu adalah malaikat yang sama seperti yang juga datang kepada Musa dan Isa. Maka beliau akan menjadi pemimpin untuk Ummah ini. Katakanlah padanya untuk meyakini hal ini, dan bertabahlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah diliputi rasa bahagia. Sebelumnya, dia adalah seorang istri dari lelaki yang jujur dan berakhlaq mulia dari kalangan bangsa Quraisy. Namun saat ini ia adalah istri dari seorang nabi. Kemuliaan yang tiada terkira!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bergegas pulang ke rumah dan duduk di samping suaminya yang tercinta. Khadijah memandangi beliau dengan penuh kekaguman dan bertekad untuk selalu setia mendampinginya untuk menyebarkan pesan yang mulia ini, menyebarkan kabar gembira dan memberi peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad tidak tidur lama, karena misi baru ini idak mengizinkannya untuk tidur. Sebagaimana dinyatakan dalam wahyu berikutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)” (Q.S. Al-Mudatsir: 1-2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada waktu untuk tidur; ini adalah saatnya bekerja. Khadijah mengatakan kepada Muhammad SAW apa yang diungkapkan oleh Waraqah, lalu mereka berdua pergi menemui Waraqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Waraqah melihat Muhammad, dia berkata, “ Dengan nama Allah, Tuhan Yang jiwa Waraqah berada dalam genggamanNya, engkau akan menjadi nabi bagi bangsa ini. Engkau akan dituduh sebagai seorang pendusta, engkau akan dilukai, dan dimusuhi, dan jika pada saat itu aku masih hidup, maka aku akan mendampingimu demi Allah, dan Allah Maha Tahu akan semua itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad terperanjat dan menanyakan, “Akankah mereka mengusir aku dari kampung halamanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waraqah berkata, “Ya. Dan para pengikutmu pun akan diperlakukan dengan penuh kekejaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Khadijah mendengar bahwa sang Nabi akan didustakan dan bahkan diusir dari kampung halamannya sendiri oleh bangsanya sendiri, maka Khadijah tersadar bahwa muai saat itu, ia akan mendampingi suaminya yang dicintainya itu untuk berjuang di jalan Allah: Jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan Khadijah tehadap suaminya semakin bertambah. Dan hal tersebut membuatnya bertekad untuk menjadi pendamping Muhammad selamanya, dan ia pun mendeklarasikan keyakinannya tersebut. Telah diketahui bahwa diantara laki-laki dan wanita, yang tua maupun yang muda, Khadijah adalah orang pertama yang menjadi pengikut Rasul. Menjadi seorang Muslim yang pertama adalah sebuah keagungan bagi semua wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan da’wah pun berlangsung sesuai dengan rencana Allah. Kehendak Allah saat itu adalah sang Nabi dan juga para pengikutnya diperlakukan dengan sangat buruk oleh bangsanya sendiri. Meskipun para pengikut yang beriman itu menderita secara fisik dan mengalami kekurangan keuangan, namun para politheis (penyembah berhala/musyrikin) tidak pernah mampu untuk melemahkan mereka. Mereka semua, baik laki-laki maupun wanita, tetap bersabar dan bertahan demi membela dien Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah adalah pemberi dukungan yang terbaik bagi suami dan semua pengikutnya. Dia membantu suaminya dengan mengorbanan uangnya, dengan kepeduliannya, dan kesabarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar tekanan yang diberikan oleh Bangsa Quraisy, maka mereka justru semakin kuat. Semakin banyak orang yang menjadi muslim, para petinggi Quraisy mulai kehilangan status dan kepemimpinan mereka. Mereka menulis perjanjian dan melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim, Bani Abdul Muthalib, dan kepada para pengikut Muhammad dan agamanya. Orang-orang Quraysh memutuskan untuk tidak memiliki perjanjian bisnis dengan mereka bahkan berjanji untuk tidak menikahkan putra-putri mereka dengan orang-orang yang diboikot tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Muslim, dan juga orang-orang dari kalangan Banu Hasyim dan Banu Abdul Muthalib diisolasi sehingga tidak bisa berhubungan dengan orang lain diluar kalangan mereka. Bahkan seringkali mereka tidak menemukan apa pun untuk dimakan. Selama tiga tahun, makanan mereka adalah dedaunan. Saat terjadinya pemboikotan ini, Khadijah mendampingi suaminya dengan sangat sabar dan kuat dan tidak pernah berkeluh kesah meskipun ia banyak mengalami kehilangan harta dan benda dan ia sebetulnya terbiasa dengan kehidupan mewah serta dilayani oleh para pembantu yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun keyakinannya yang kuat membuat Khadijah bisa tetap bertahan, namun pada akhirnya ia kelelahan dan fisiknya melemah. Tidak lama setelah ia meninggalkan tempat yang selama ini ditinggalinya, Khadijah kemudian berpulang ke Rahmatullah. Dalam kondisi terakhirnya itu, ia masih dalam keadaan berkomitmen dan setia baik pada suaminya maupun pada da’wah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah s.a.w sangat bersedih hati ketika Khadijah, sang istri yang sangat dicintainya meninggal. Oleh karenanya, tahun saat istrinya meninggal itu disebut dengan “Tahun Duka Cita” hal ini dilakukan dalam rangka memberikan penghormatan yang sangat tinggi untuk Khadijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah contoh yang nyata, dimana seorang wanita bisa benar-benar membuktikan komitmennya dan meraih kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita seperti apakah ia? Pejuang dan pendukung seperti apakah ia? Semoga Allah memberikan kasih sayangnya kepada Khadijah dan wanita-wanita yang lain yang mengikuti jalannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan Sang Rasul SAW. Beliau selalu mengenang Khadijah hingga akhir hayatnya. Hingga A’isyah (semoga Allah meridhainya) mengatakan, “Saya tidak pernah merasakan kecemburuan kepada istri-istri Rasul yang lain seperti saya cemburu kepada Khadijah. Hal ini dikarenakan Rasul sangat sering sekali menyebut namanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul SAW juga mengatakan, “Allah telah memberkahiku dengan memberikan cinta Khadijah padaku.” Beliau pun menambahkan, “Aku mencintai segala hal yang ia cintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau mendengar suara Halah yang merupakan saudara Khadijah, beliau biasa mengetakan, ”Ya Allah, itu adalah Halah!” Beliau mengatakan hal itu karena suara Halah binti Khuwaylid sangat mirip dengan suara Khadijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemburuan A’isyah pernah sampai kepada puncaknya hingga ia mengatakan sesuatu yang amat kasar, ”Mengapa engkau selalu megenang seorang wanita tua orang Quraysh yang sudah tidak bergigi dan hanya terlihat gusi-gusinya yang merah dan ia telah meninggal dunia? Sementara Allah sudah menggantikannya dengan wanita yang jauh lebih baik darinya untuk menggantikannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Rasul SAW berubah mendengar perkataan A’isyah, kemudian berkata, “Tidak, demi Allah, Allah tidak pernah memberiku seseorang yang lebih baik darinya. Khadijah mempercayaiku saat semua orang mendustakan aku. Dia mendukung perjuanganku dengan hartanya ketika semua orang menentangku, dan hanya darinyalah aku memiliki keturunan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal itu, A’isyah terdiam dan menyesali semua perkataannya yang sangat buruk tentang Khadijah. (Hadits Nomor 1575).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah selalu menjadi wanita terbaik dalam segala situasi. Bukankah dia adalah wanita yang sangat layak mendapatkan rasa cinta yang besar dan juga penghormatan yang tinggi? Bukankah wanita yang telah mengorbankan seluruh hartanya di jalan Allah ini layak mendapatkan cinta yang begitu besar, terutama dia adalah orang yang pertama yang menyatakan ke-Islamannya? Inilah alasan mengapa Rasul begitu mencintainya dan kita semua pun harus mencintai Khadijah, yang semoga Allah meridhainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;http://www.almanhaj.or.id &lt;br /&gt;http://www.arrahmah.com/index.php/forum/viewthread/861/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-1576343311414789207?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/1576343311414789207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/1576343311414789207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/12/siti-khadijah-radiyallahu-anha-first.html' title='Siti Khadijah Radiyallahu Anha: First Lady of Islam'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-3762169181598321137</id><published>2009-12-01T23:55:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T23:56:11.410-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mujahidah'/><title type='text'>Al-Khansa, Ibu Para Syuhada</title><content type='html'>Pada masa Jahiliyah tersebutlah seorang penyair wanita ulung bernama al-Khansa. Syair-syairnya begitu memikat. Simaklah syiar ratapan terbaik yang pernah diciptakannya, sesaat setelah kematian saudaranya yang bernama Shakr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khansa bernama Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid. Cahaya Islam yang ditebarkan Rasulullah di Jazirah Arab telah mengetuk pintu kesadarannya. Bersama beberapa orang dari kaumnya, sang penyair menghadap Rasulullah SAW. Ia menyatakan keislamannya dan bertekad membangun aqidah tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang penyair pun menjadi seorang Muslimah yang baik. Ia pun menjadi salah seorang Muslimah teladan sekaligus figur cemerlang dalam keberanian dan kemuliaan diri. Al-Khansa menjadi teladan mulia bagi para ibu Muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Rasulullah SAW memintanya bersyair. Pemimpin terbaik sepanjang zaman itu mengagumi bait-bait syair al-Khansa’. Ketika al-Khansa sedang bersyair, Rasulullah SAW berkata, “Aduhai, wahai Khansa, hariku terasa indah dengan syairmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, mereka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, serta orang yang paling pandai berkuda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, “Siapakah mereka itu. Sebutkanlah namanya.” Adi menjawab, “Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW berkata, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah SAW, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thalib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan dan pendidikan di bawah naungannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Al-Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah seorang ibu yang tegar. Al-Khansa telah berhasil mendidik keempat anaknya. Kelak keempat anak lelakinya gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah al-Khansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat anaknya itu ingin turut berperang melawan tentara Persia. Mereka saling berdebat menentukan siapa yang harus tinggal di rumah mendampingi sang bunda. Perdebatan itu akhirnya sampai di telinga al-Khansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab RA, al-Khansa akhirnya berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di medan peperangan, sesaat dua para pasukan siap berperang, al-Khansa mengumpulkan keempat putranya. Ia memberikan petuah, bimbingan serta mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan buah hatinya tetap istiqamah berperang di jalan Allah dan mengharapkan syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh ketegaran al-Khansa bertutur,’’ “Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan dan tanpa paksaan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada Illah selain Dia.’’ Ia lalu melepas anak-anaknya dengan penuh haru dan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, berita syahidnya empat bersaudara itu sampai di telinganya. Kesabaran dan keikhlasan tak membuatnya sedih ketika mendengar kabar itu. “Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab paham betul keutamaan al-Khansa dan putra-putranya. Khalifah Umar senantiasa memberikan bantuan yang menjadi jatah keempat anaknya kepada al-Khansa, hingga ibu para syuhada itu wafat. Al-Khansa meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan RA, pada tahun ke-24 Hijriyah.(rpb) &lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.suaramedia.com &lt;br /&gt;http://www.arrahmah.com/index.php/forum/viewthread/2744/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-3762169181598321137?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/3762169181598321137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/3762169181598321137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/12/al-khansa-ibu-para-syuhada.html' title='Al-Khansa, Ibu Para Syuhada'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-812163524616401766</id><published>2009-11-30T17:31:00.000-08:00</published><updated>2010-03-17T18:24:02.839-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unduh-Audio Kajian Islam'/><title type='text'>Download Audio Kajian Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6178782/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam01.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 01&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6178947/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam02.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 02&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6179195/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam03.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 03&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6179196/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam04.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 04&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6179566/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam05.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 05&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6179567/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam06.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 06&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6180047/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam07.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 07&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6194514/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam08.mp3.html"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 08&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6194429/ZainalAbidinSyamsudin-MeraihKembaliKejayaanIslam09.mp3.html%20"&gt;Meraih Kembali Kejayaan Islam 09&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-812163524616401766?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/812163524616401766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/812163524616401766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/download-audio-kajian-islam.html' title='Download Audio Kajian Islam'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6723249284517593937</id><published>2009-11-30T17:10:00.001-08:00</published><updated>2009-12-01T18:49:16.584-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mujahidah'/><title type='text'>Irene Handono: Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim</title><content type='html'>Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ''Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,'' kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ''Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,'' ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka'bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film tentang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ''Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber - sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro - peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me - wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing - ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung - annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ''Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ''Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,'' ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala (RioL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://kristolog.blogspot.com/2009/05/irene-handono-menyaksikan-film-dirinya.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6723249284517593937?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6723249284517593937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6723249284517593937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/irene-handono-menyaksikan-film-dirinya.html' title='Irene Handono: Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-4910401295481202717</id><published>2009-11-30T16:58:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T19:17:58.153-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kristologi - Wawancara Hj.Irene Handono'/><title type='text'>Hj. Irene Handono : 16 hal Utama Strategi Pemurtadan</title><content type='html'>Sekilas kisah pemateri Ustadzah Irene Handono ( Mantan Biarawati Gereja ) Beliau dahulunya ada seorang biarawati yang lama belajar dalam kependidikan khusus pastur akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika beliau mendapatkan materi Islamologi, yang bertujuan 'mengenalkan Islam' agar dapat memusuhinya. Ketika belajar Islamologi ini, ada beberapa hal yang dapat ia bantah kepada pengajarnya antarara lain bahwa Islam adalah agama orang-orang miskin, dan terbelakang, dengan mengambil sampel negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau membantah dengan argumen-argumen cerdas sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Mexico adalah Negara miskin, dimana hampir seluruh mayoritas penduduknya adalah Kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Mesir, disana kebanyakan majikan beragama Islam dan justeru yang menjadi pembantu kebanyakan yang beragama Kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Irlandia, terdapat konflik horizontal antara Khudustan dan Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Italia, negara sumber mafioso yang justeru mayoritasnya beragama Kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia meminta izin kepada pengajarnya untuk mempelajari Islam lebih detail dari sumbernya, dan akhirnya disetujui. Awal pembelajarannya adalah membuka surah Al Ikhlas, dan disanalah nanti akhirnya beliau mendapatkan hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Catatan Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Meski Internal Kristen (Protestan dan Katolik), dan dengan Yahudi terdapat konflik yang cukup panjang, tapi menghadapi Islam, mereka bersatu padu, atas nama Kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam bible dikatakan : "Carilah domba tersesat, dan kabarkanlah injil ke seluruh dunia." Ayat inilah yang menjadi inspirasi kaum Kristen militan dalam mengkristenisasi umat lain, sebagai karcis mereka memasuki surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kristen ketika berjumlah sedikit senantiasa menyampaikan ajarannya dengan lemah lembut, namun ketika jumlah mereka sudah banyak dan mayoritas mereka beralih kepada jalan kekerasan. Contoh terdekat adalah kasus Ambon, Idul Fitri Berdarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kristen mulai naik daun di era pemerintahan Gus Dur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kristenisasi ditopang oleh beberapa faktor, diantaranya :&lt;br /&gt;- Perintah Agama&lt;br /&gt;- Perintah Politik, dengan peluncuran beberapa program :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Program YERICHO, Target Pulau Jawa terkuasai dalam 2004, bahkan termasuk didalamnya Sukabumi dan Madura&lt;br /&gt;5.2. Program ANDALAS, Target Padang dan Sumatera&lt;br /&gt;5.3. Program PACARISASI dan HAMILISASI Dengan target anak-anak para tokoh, pemimpin masjid dan ta'lim&lt;br /&gt;5.4. Program YOSEPH 2004, dimana target presiden adalah Kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Agama Islam tidak mungkin punah kecuali Kiamat, tapi Islam di sebuah Negara amat mungkin untuk punah, sebagaimana yang telah terjadi di Spanyol dan Rusia, dan boleh jadi di Indonesia kelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pola Kristenisasi yang dilakukan, berdasarkan kehidupan masyarakat, sbb. :&lt;br /&gt;- Masyarakat menengah ke atas mengubah pola fikir Masyarakat bawah dengan kebutuhan sandang pangan contoh kecil : tayangan Sisilia, Dorce Maria, yang berkisah tentang biarawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. DR. Suradi, seorang dokter yang tinggal di Jalan Proklamasi, membuka rumahnya untuk berobat gratis dan obat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Tilawatil Injil, adalah sejenis bacaan mirip murottal Al Qur'an, nada imam Madinah, yang merupakan salah satu teknik pengkaburan ajaran Islam di masyarakat selain melalui brosur/selebaran, dan Khitanan Masal yang diselenggarakan pihak Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Metoda Tangkap Ayam adalah metoda yang digunakan oleh para misionaris, dimana dengan umpan sandang pangan (contoh : beras), mengajak para kaum miskin dan fakir untuk memeluk ajaran mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Target mereka adalah : 40 juta pemeluk di tahun 2002 dan 60 juta pemeluk di tahun 2004. Dengan jumlah sebanyak itu dan mereka bersatu atas nama Kristen, maka bukan tidak mungkin jika suara mereka bulat dalam memilih Presiden beragama Kristen dari kalangan mereka, maka demikianlah akhir bangsa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. JUMS, adalah sebuah organisasi militant Kristen yang telah mengaku sebagai penginjil tulen, yang berniat membangun 1000 buah sekolah gratis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Katolik Jawa, adalah sebutan bagi pemeluk Kristen Katolik di Pulau Jawa, dimana diketahui bersama bahwa Gereja Katolik adalah sebagai think tank, atau konseptor dari gerakan Kristenisasi. Katolik dikenal berperangai halus, namun memiliki pedang bermata tiga, yakni pendidikan, kesehatan, dan perekonomian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. SYJ adalah gelar bagi pendeta yang militant, singkatan dari Serikat Yesus Jesuit. Sebagai contoh adalah Romo Sandi (Sandiawan SYJ) yang mau tinggal di perkampungan kumuh di salah satu simpul di Jakarta yang dekat dengan kaum ibu, dan hidup dengan cara masyarakat sekitar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Sekolah Kanisius memang bertarif 12,5 juta rupiah bagi calon murid baru dari Katolik, tapi jangan lupa bahwa mereka mengenakan tarif GRATIS bagi calon murid baru dari Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Saat ini sudah mulai dimasyarakatkan 'Idil Maulid Isa a.s. hampir mirip dengan Maulid Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadzah Irena Handono&lt;br /&gt;alhikmah.com&lt;br /&gt;Penanggung Jawab Isi : Divisi Kajian&lt;br /&gt;Musholla Al Barokah Gedung Cyber&lt;br /&gt;Ringkasan materi Kajian Pemantapan Aqidah&lt;br /&gt;http://albarokah.lamalif.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-4910401295481202717?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4910401295481202717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4910401295481202717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/hj-irene-handono-16-hal-utama-strategi.html' title='Hj. Irene Handono : 16 hal Utama Strategi Pemurtadan'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-9204054205605783697</id><published>2009-11-30T16:48:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T19:08:50.456-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad - Berdo Pada Allah Agar Memberikan Mati Syahid'/><title type='text'>Berdoa pada Allah agar memberikan mati syahid</title><content type='html'>Menurut Syaikh al-Awlaki, jihad pada hari ini adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu. Oleh sebab itu, setiap Muslim yang ingin mematuhi perintah Allah, adalah kewajiban kita untuk menemukan cara-cara untuk berjihad dan mendukung jihad. setelah meluruskan Niat yang kedua adalah Berdoa pada Allah agar memberikan mati syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda,“Siapa saja diantara kamu yang berdoa pada Allah agar diberi mati syahid, Allah akan memberikan pahala mati syahid bahkan jika orang itu wafat di atas tempat tidurnya,” (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah senang dengan hambanya yang berdoa agar mati dalam keadaan syahid, karena itu menunjukkan bahwa kita rela mengorbankan hidup kita untuk Allah swt. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai doa itu hanya manis di dbibir saja. Seseorang yang benar-benar mengucapkan syahadat akan memenuhi panggilan jihad kapanpun ia mendengar panggilan itu dan benar-benar akan mencari kematian di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan risalah diatas adakah do’a doa para mujahidin yang bisa saya pakai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin do’anya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ya Allah, hidupkanlah para mujahid dan para pencari syahid (khususnya keluarga besar Forum Arrahmah) dalam keadaan mulia, dan matikanlah para mujahid dan para pencari syahid (khususnya keluarga besar Forum Arrahmah) dalam keadaan syahid! Amien…&lt;/span&gt;Silahkan dikoreksi atau ditambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memohon mati syahid kepada ALLAH secara jujur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya Allah, anugerahkan kepadaku mati syahid di jalan-Mu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (1791), Malik dalam Al Muwatha’ (989) dari Zaid bin Aslam dari ayahnya bahwa Umar bin Khattab RA berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya Allah, anugerahkan kepadaku mati syahid di jalan-Mu. Dan jadikan kematianku di negeri Rasul-Mu SAW.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, diriwayatkan pula oleh Al Bukhari dari Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Hafshah yang mendengar ayahnya, Umar. (lihat Taghkiqut Ta’liq : III/135). Adapun Malik meriwayatkannya dari Umar langsung, tanpa perantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi juga berdo’a agar umatnya mendapat anugerah mati syahid. Doa tersebut diriwayatkan oleh Ahmad (III/437, 438), Al Hakim (2462), dan ia menshahihkannya dari Abu Burdah bin Qais, saudara Abu Musa Al Asy’ari RA. Rasulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya Allah, jadikanlah kepunahan (kematian) umatku lantaran terbunuh di jalan-Mu dengan tikaman (mati berjihad) dan tha’un.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isnadnya dishahihkan oleh Al Mundiziri, para perawinya di tsiqahkan oleh Al Haitsami. Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari (X/182) berkomentar, “Para ulama mengatakan, Nabi menghendaki umatnya meraih bentuk mati syahid yang paling tinggi, yaitu terbunuh di jalan Allah melalui tangan-tangan musuh mereka, baik musuh dari jenis manusia maupun jin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya (1909) dari Sahl bin Hunaif RA bahwa Nabi bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan benar, niscaya Allah akan menghantarkan dirinya kepada kedudukan para syuhada, meski ia mati di atas tempat tidurnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : “Wirid mujahid, Handbook Mujahid di segala cuaca.” Wa’il Ad Dasuqy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan mengapa musuh-musuh Allah sukses mengalahkan sekelompok umat Islam dan mengambilalih tanah mereka, itu karena sekelompok umat Islam itu kehilangan cinta menjadi seorang yang gugur syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda,“Bangsa-bangsa akan menyerang kalian seperti sekelompok manusia yang sedang makan dalam satu piring.” Kemudian sahabat berkata, “Apakah itu karena jumlah kita yang sedikit?”. Rasulullah menjawab,“Bukan, jumlah kalian banyak. Tapi kalian seperti buih di laut, dan Allah akan menyingkirkan rasa takut dari dalam dada musuh-musuhmu terhadapmu dan Allah akan menempatkan dalam hatimu ‘wahan’. Sahabat bertanya lagi, “Apa itu wahan, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Wahan adalah rasa cinta pad dunia dan takut mati” (HR Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya mati syahid, kata Syaikh Awlaki, harus dipupuk kembali karena musuh-musuh Allah tidak takut dengan apapun, kecuali takut dengan kecintaan kita pada mati syahid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-9204054205605783697?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/9204054205605783697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/9204054205605783697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/berdoa-pada-allah-agar-memberikan-mati.html' title='Berdoa pada Allah agar memberikan mati syahid'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-7991139430086445413</id><published>2009-11-27T19:31:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T18:56:03.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasional - Papua - Kristen'/><title type='text'>Masa Depan Islam di Wondama di Ujung Tanduk</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Warga Muslim di dua Manokwari dan Wondama mengaku termarginalkan. Sejak mayoritas Kristen mendesak Manokwari sebagai kota Injil, keadaan mereka serasa di ujung tanduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayatullah.com--Dua kabupaten, Wanokwari dan Wondama, di Papua Barat terus menggeliat.  Kedua kota yang terletak di Papua Barat ini seolah terus menunjukkan eksistensinya sebagai kota “Kristen”. Seperti diketahui, sejak lama, mayoritas Kristen di sana mendesak agar Manokwari dijuluki kota Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hingga kini, rencana itu masih terus digodok di DPRD setempat.  Walau belum tentu goal di tingkat pusat, melihat komposisi anggota di dewan rencana ini sebagai sesuatu yang memungkinkan.  Sebagaimana diketahui, dari 27 anggota dewan, hanya dua yang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa aktivis Muslim mengaku sudah mulai merasa kesulitan. Seorang aktivis Muslim, Said Ahmad, di Papua Barat mengaku, ia sering diingatkan tentang pemasangan simbol-simbol Islam. Tahun 2009, ketika ia akan mendirikan sebuah pesantren di Wondama, masyarakat Kristen melarang. Padahal, pendiriannya akan diresmikan oleh Bupati. Namun, atas desakan masyarakat Kristen, pendirian itu akhirnya gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maklum, muslim di sana hanya berjumlah sekitar 10 persen saja,” ujarnya kepada www.hidayatullah.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini membuat kalangan Muslim tak bisa leluasa berdakwah. Menurutnya, kini, dakwah di Wondama hanya bisa dilakukan dengan hal-hal biasa. Misalnya halaqah atau ceramah di rumah. Ia juga mengaku khawatir, jika rencana Manokwari sebagai Kota Injil yang telah direncanakan lama itu akhirnya akan goal di parlemen.  [ans/www.hidayatullah.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-7991139430086445413?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7991139430086445413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/7991139430086445413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/masa-depan-islam-di-wondama-di-ujung.html' title='Masa Depan Islam di Wondama di Ujung Tanduk'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-630841781628611413</id><published>2009-11-27T18:51:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T19:20:53.292-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kristologi - Radikalisme Injil'/><title type='text'>Siapa Sebenarnya Yang Mengajarkan Kekerasan dan Radikalisme?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah seluruh agama yang mau melihat dan mempelajari Islam dari sumbernya maka sungguh pasti akan mendapatkan bahwa Islam adalah agama yang menyebar kasih sayang dan agama yang mengajarkan keteraturan serta kedisiplinan. Apa yang dimaksud dengan sumbernya? sumber agama Islam adalah AlQur’an dan Sunnah Yang Mulia Nabi Besar Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan para pemeluk islampun apabila kita perhatikan, maka kita akan dapati mereka adalah cermin AlQur’an dan Sunnah, mereka adalah manusia-manusia yang mengenal kasih dan sayang, manusia-manusia yang mengenal keteraturan dan kedisiplinan, mereka adalah orang yang terbaik dari segala suku bangsa dan agama. Kami kaum muslim tidak meminum minuman keras yang dampak akibatnya sangat berbahaya bagi suatu masyarakat. Mengapa? karena agama kami melarang kami untuk mengkomsumsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kaum muslim tidak berzina. Mengapa? karena agama kami yang dibawa oleh Yang Mulia Baginda Besar Nabi Muhammad melarang kami, bahkan melarang kami untuk mendekati segala yang menjurus kepada perzinaan. Kami adalah orang santun, orang yang sopan, orang yang sangat toleran, dan tidak pernah mengenal kekerasan, serta tidak pernah memaksakan agama kepada yang lain. Ketika kami menjadi mayoritas suatu masyarakat, kenyataan menyatakan bahwa minoritas terayomi dan terlindungi. Anda dapat membuktikan di seluruh negara yang mayoritasnya umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh tidak sebaliknya, belum tentu ketika kami menjadi minoritas suatu masyarakat kami akan terayomi oleh mayoritas. Lihat Spanyol, Italia, Roma, Vatican, Thailand, Cina, Amerika, Singapura dsb. Betapa banyak tekanan-tekanan yang dilancarkan oleh pemerintah negara-negara tersebut terhadap umat Islam yang minoritas di negara mereka. Anda dapat buktikan hal ini jika anda melihat keadaan dan sejarah pada masa lalu hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan selama berabad-abad islam berjaya di bumi indonesia, agama kristen dll tetap berkembang. Mengapa? karena kami tidak pernah memaksakan kehendak dan agama. Bahkan di berbagai penjuru negeri yang dahulu dipimpin oleh pemerintahan Islam, sejak saat itu sampai sekarang masih banyak di dalamnya orang-orang non muslim. Mengapa? sebab kami tidak pernah memaksakan kehendak dan kami tidak bersifat radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda akan membantah perkataan ini karena anda melihat bahwa teror bom dan kekerasan yang terjadi belakang ini di Indonesia tidak lain karena orang-orang islam. Kami katakan bahwa sebaiknya anda tidak menghukum dan menghujat Islam dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita semua menyaksikan bahwa sebagian besar mereka yang dituduh sebagai pelaku, sampai saat ini tidak ada bukti yang akurat. Dan beberapa yang memang terbukti bersalah, tidak lain hanyalah sekelompok oknum yang tidak memahami Islam yang dari sumbernya. Walaupun demikian, lantas apakah betul menilai kebobrokan suatu masyarakat karena keberadaan 0,1% orang yang bobrok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin setiap orang yang terpelajar akan berpendapat sama dengan saya. Sebab kalau memang penilaian yang demikian dapat dijadikan titik ukur, maka saya katakan bahwa betapa banyak teroris kelas kakap internasional di Italia, Meksiko, Amerika, bahkan di Roma dan Inggris adalah orang yang beragama Kristen? Tanyakan kepada seluruh dunia dan tanyakan kepada orang-orang Yahudi, Siapa Hitler? Apakah ia seorang Muslim? Hindu? Budha? Ataukah ia seorang Kristiani? betul, ia adalah seorng Kristiani yang pidatonya dapat meluluhkan gunung yang keras. Dan semua mengetahui bahwa Hitler di dalam pidatonya sering kali menyebut tentang Yesus, pengabdiannya untuk Yesus, dsb. Dia adalah seorang Kristiani yang berpegang teguh kepada keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lihat, berapa puluh juta yang telah dibunuh oleh Hitler? Apakah oleh karenanya kita akan menilai seluruh orang Kristen adalah teroris? Tentu tidak. Dan saya yakin anda akan setuju dengan hal itu. Akan tetapi nilailah mereka dari sumber agama mereka. Apakah agama mereka mengajar kekerasan? apakah agama mereka mengajar sikap radikal? apakah agama mereka mengajar sikap terorisme? dan saya menyerukan kepada seluruh kaum kristiani apabila anda mengatakan bahwa Islam agama yang mengajarkan kekerasan, radikal, memaksakan, maka buktikan dari sumbernya, yaitu dari AlQur’an dan Sunnah. 1400 tahun seruan yang sama telah diserukan oleh kaum Muslim kepada umat Kristiani. Dan sampai saat ini kami masih tetap menunggu jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan yang sama apabila kaum Kristiani menujukannya kepada kaum Muslim, yaitu membuktikan apakah agama Kristen adalah agama yang mengajarkan kekerasan? maka kami akan menjawab dari sumber Kristen sendiri. Dan kami katakan bahwa agama Kristen memang mengajarkan kekerasan di dalam agamanya bahkan mengajarkan pemaksaan di dalam memeluk agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana kami dapat menyatakan hal ini? Tentu saja dari Bible umat Kristiani. Dari awal kitab Perjanjian Lama yaitu kitab Kejadian sampai akhir dari Perjanjian Lama, anda akan mendapati dua hal yang banyak dibahas oleh Perjanjian Lama dan bahkan merupakan kebanggaan yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peperangan&lt;br /&gt;2. Seks bebas yang fulgar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang peperangan, anda akan dapati para pahlawan-pahlawan Tuhan, yang diabadikan oleh Tuhan nama mereka dalam Kitab SuciNya, adalah orang-orang yang sangat luar biasa dalam peperangan, mengatur strategi, memimpin dsb. Sehingga mereka dipuji, dimuliakan, dan diabadikan oleh Tuhan nama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya meneruskan, saya bertanya kepada setiap manusia yang berakal, khususnya “Anak-anak Tuhan” yaitu orang kristiani. Mengapa nama mereka diabadikan oleh Tuhan? Sejarah mereka diabadikan oleh TUHAN? Apakah hanya untuk sekedar dongeng? Omong kosong? Komik? Atau dibalik itu terdapat suatu pelajaran dari Tuhan yang sangat-sangat berharga? Di balik setiap huruf dan kata terdapat pelajaran dari Tuhan yang sangat-sangat berharga? Saya mengatakan bahwa di balik apa yang dinyatakan Tuhan dalam Kitab SuciNya dari sejarah mereka para orang-orang pilihan, terdapat suatu pelajaran dari Tuhan yang amat sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di balik setiap huruf dan kata terdapat pelajaran dari Tuhan yang sangat berharga. Dan saya yakin setiap orang berakal akan sependapat dengan saya dalam hal ini, walau saya tidak tahu dogma apa yang telah ditanam di hati umat Kristiani akan hal ini. Kemudian apakah pelajaran tersebut hanya sebatas untuk diketahui dan selesai, tidak lebih dari itu? Atau pelajaran yang dapat dijadikan pedoman hidup? Pelajaran yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari? Tentu saja adalah pelajaran yang untuk dijadikan pedoman hidup dan untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita akan kembali membahas tentang para pahlawan perang yang dimuliakan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama Tuhan menceritakan tentang peperangan yang dipimpin oleh para pahlawanNya. Tetapi anda dan setiap orang yang berakal dan mau berfikir, akan mendapati kekejaman-kekejaman yang sangat-sangat tidak manusiawi yang dilakukan oleh para pahlawan Tuhan. Kekejaman yang tidak pernah dilakukan oleh pemimpin kejam manapun, bahkan Hitler teroris besar Kristen pun tidak sampai melakukan apa yang dilakukan oleh para pahlawan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan mengutip 3 kejadian kejam yang dilakukan oleh Tuhan dan oleh para pahlawan pilihan tuhan yang diabadikan Tuhan dalam Kitab Sucinya. Dan saya mampu memberikan 20 cuplikan yang sangat kejam yang dilakukan oleh Tuhan dan para pahlawan Tuhan yang di puji oleh tuhan, Insya Allah dalam tulisan yang lebih luas dari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kitab 1 Samuel pasal 15 ayat 1 s/d ayat 3&lt;br /&gt;Berkatalah Samuel kepada Saul: “Aku telah diutus oleh Tuhan untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman Tuhan. Beginilah firman Tuhan alam semesta: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan jangan ada belas kasihan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai. (1Samuel 15:1-3)&lt;br /&gt;Lihatlah kekejaman yang diajarkan Tuhan Umat Kristiani, Tuhan Trinitas yang Yesus termasuk salah satu dari ketiga oknumnya. Sangat tidak mengenal kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin laki-laki dan perempuan bersalah, tapi apa kesalahan dari kanak-kanak dan anak-anak yang menyusui? Bahkan binatangpun tidak mendapatkan bagian dari kasih sayang Tuhan umat Kristiani. Bahkan yang aneh Saul lebih mengenal kasih daripada Tuhan umat Kristiani. Dalam pasal yang sama dari 1Samuel dijelaskan pada ayat 9 bahwa Saul tidak membunuh hewan dan lembu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Saul masih lebih mengenal kasih dan HAB (Hak Asasi Binatang) dari pada Tuhan Trinitas. Oleh karena Tuhan menyesal menjadikan Saul sebagai raja karena tidak mejalankan perintah Tuhan sabagaimana dalam ayat 10 dinyatakan penyesalan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kitab Hosea pasal 14 ayat 1&lt;br /&gt;“Samaria harus dihukum karena memberontak melawan Aku. Rakyatnya akan tewas dalam pertempuran; anak-anak bayinya akan digilas, dan wanita-wanita hamil dibelah perutnya.” Diseluruh Alkitab kita mendapati Tuhan menghancurkan mereka yang tidak percaya kepadaNya dan tidak mengikuti perintahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita mendapatkan gambaran yang sangat fantastis tentang bayi-bayi yang digilas dan perempuan hamil yang dibelah perutnya. Mungkin seorang ayah dan ibu yang membangkang pantas mendapat hukuman. Tapi alangkah kejamnya Tuhan Trinitas umat Kristiani yang sampai harus menggilas bayi-bayi yang tidak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Yesus membawa kasih? Dan bukankah menurut pendapat umat kristiani bahwa Yesus adalah salah satu dari oknum Trinitas? sungguh Hitler atau Jenkiskhan lebih mengenal kasih dari Tuhan Trinitas dan dari agama umat Kristiani. Bahkan sebejat apapun seorang wanita apakah harus kita belah perut mereka ketika hamil? Katakan mereka wanita-wanita sundal, akan tetapi bukankah menurut Kitab Suci anda Yesus seorang keturunan sundal. Bukan saya yang menyatakan, akan tetapi alkitab sendiri menyatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Kitab Matius pasal 1 ayat 3 tentang silsilah Yesus dinyatakan bahwa Yesus adalah keturunan Peres. Ayat tersebut berbunyi: “Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram”. Kemudian dalam Kitab Kejadian pasal 38 ayat 1 s/d 30, anda dapat membaca dan membuktikan bahwa Zerah dan Peres dilahirkan oleh ibu mereka yang bernama Tamar karena hasil dari persundalan (pelacuran) antara Tamar dengan mertuanya sendiri yaitu Yehuda. Anda dan seluruh umat Kristiani dan seluruh dunia berhak untuk membuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau memang anda dan agama yang anda anut adalah agama yang benar, mengapa anda tidak memberitakan kabar gembira dan kebenaran itu kepada dunia? Khususnya kepada para pelacur? Dan mengapa perut Tamar yang sedang hamil karena pembangkangan dan pelacuran tidak dibelah? dan mengapa Peres yang menjadi anak haram dan moyang dari pada Yesus keturunan sundal tidak digilas? bahkan dimuliakan untuk menjadi moyang dari pada Tuhan Yesus salah satu dari tiga oknum Trinitas. Sungguh ini adalah lelucon yang sangat menjijikkan ketika kita dapati Tuhan Trinitas yang mencipta alam semesta adalah keturunan pelacur. Dan alangkah kejam dan hinanya agama kristen yang mengajarkan kekejaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kitab Lukas pasal 19 ayat 11 s/d ayat 27&lt;br /&gt;Anda dapat membaca ayat-ayat tersebut yang merupakan perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus. Dalam ayat 27, Yesus mengungkapkan suatu ungkapan yang sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh umat Kristiani tentang pribadi Yesus yang diutus untuk menebar kasih. Ayat tersebut berbunyi: “Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di depan mataku”. Ungkapan demikian secara jelas mengajarkan kekerasan dan pembunuhan. Bukankah Yesus mengajarkan kasih dan cinta? Tetapi mengapa ungkapannya berbeda dengan apa yang selama ini disampaikan oleh orang Kristen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda akan mengatakan bahwa Yesus tidak mengatakan demikian. Yang disampaikan oleh Yesus adalah suatu perumpamaan. Saya katakan apa yang diungkapkan oleh Yesus adalah apa yang terpendam dalam benaknya. Pepatah Arab mengatakan “Ma fika yadzhar ‘ala fika” artinya “Apa yang terpendam dibenakmu terlihat dalam ucapanmu”. Sebagai contoh lukisan yang indah apabila dilihat oleh seorang seniman maka sudah barang tentu sang seniman akan berbicara tentang lukisan dan keindahannya. Berbeda dengan seorang tukang kayu, seorang tukang kayu tidak akan pernah berbicara tentang lukisannya, tetapi ia pasti akan melihat dan berbicara tentang bingkai kayunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula seorang penata ruangan ketika melihat lukisan itu, ia tidak akan berbicara tentang lukisan atau bingkai kayunya, tetapi ia akan berbicara tentang posisinya dan penempatannya. Dan apa yang diungkapkan Yesus tidak lain adalah apa yang terpendam dibenaknya. Dan Yesus adalah raja yang tidak pernah diterima oleh bangsanya sebagaimana yang diungkapkan dalam Injil Yohanes pasal 1, dan sebagaimana yang Kahlil Gibran katakan dalam judul bukunya “Raja yang terpenjara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti tidak akan pernah setuju dengan hal ini. Tetapi apakah pantas bagi seorang Yesus penebar kasih, yang selalu berusaha mengasihi segalanya bahkan berusaha agar debu yang di hadapannya mendapatkan bagian dari kasihnya, memberikan perumpamaan yang menggambarkan suatu kekerasan dan kekejaman? Bahkan ia pun pernah menyatakan secara jelas dan pasti bahwa ia datang dengan membawa perpecahan, perselisihan, kekerasan, pedang, sikap radikal dan terorisme. Di dalam Kitab Matius pasal 10 ayat 34,35,36 Yesus berkata:&lt;br /&gt;“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya. Dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya”. Lihatlah apabila ajaran Yesus dengan orang-orang yang satu atap adalah demikian, yaitu perselisihan, permusuhan, pertentangan bahkan pedang. Maka bagaimana dengan orang-orang yang beda atap? Tetangga? Berbeda kampung? Berbeda negara serta berbeda bangsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini ajaran kasih atau ajaran terorisme dan kekerasan? Apakah ini agama cinta atau agama pedang dan kejahatan? Inikah agama yang mengaku mengenal toleran atau agama yang memaksakan? Mungkin apabila umat Kristiani sekarang ini memiliki kemampuan dan kebebasan untuk berbuat kejam, Maka kami yakin mereka akan membunuh semua orang yang tidak mengakui Yesus sebagai raja dan tuhan sebagaimana yang diungkapkan yesus dalam perumpamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sungguh sejarah telah mencatat ribuan manusia yang mati disiksa, dianiaya, wanita-wanita yang diperkosa bahkan anak-anak yang ditindas, bahkan ribuan manusia yang dibakar hidup-hidup oleh pendeta dan penguasa Kristen, padahal mereka tidak memiliki dosa melainkan hanya dosa menggunakan akal sehat mereka ketika tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan. Silahkan anda dan seluruh umat Kristiani dan seluruh manusia di dunia ini melihat sejarah. Dan saya yakin setiap yang berakal akan setuju dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuanpun setuju dengan pendapat ini. Dan sampai saat ini mereka masih dendam dengan apa yang dilakukan oleh umat Kristiani terhadap tokoh-tokoh ilmuan besar. Tanyakan kepada dunia kemana Galileo? Apakah ia mati karena acungan pedang orang Islam atau karena orang-orang Kristen yang tidak pernah mau menggunakan akal yang dianugrahkan Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyerukan kepada seluruh dunia agar mau berfikir, bukan hanya menelan mentah-mentah dogma-dogma yang hanya bisa dicerna oleh orang gila. Kita manusia yang berakal bukan binatang atau orang gila. Yang membedakan kita dengan binatang dan orang gila adalah akal yang kita gunakan untuk berfikir. Sekali lagi saya menyerukan kepada seluruh dunia untuk mengkaji agama Kristen dengan akal sehat, dan hendaknya selalu berani menyatakan kebenaran. Ini yang dapat saya sampaikan dan insya Allah pembahasan tentang Trinitas dan Penyaliban yang anda permasalahkan akan saya bicarakan dalam tulisan saya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semoga kebenaran tetap tinggi.. Semoga kedamaian selalu menyertai mereka yang mengikuti petunjuk Allah alam semesta. Dan semoga Allah membalas kebaikan, jasa, didikan, ajaran, serta kasih dan pengorbanan Baginda Besar Yang Mulia, Manusia Pilihan, yang mengajarkan kedamaian dan kecintaan, mengajarkan cara menghormati para utusan Allah, manusia yang mengajarkan akhlak dan budi pekerti, Raja Damai dan Penghibur serta Nabi Yang dijanjikan, kunci dari kerajaan Allah yang dinanti-nanti, Baginda Besar Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam.. Dan semoga Allah selalu membimbing kita kepada seluruh kebenaran, Amin Ya Rabbal Alamin. (Habib Ahmad bin Novel/hotarticle.org)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://forum-swaramuslim.net/more.php?id=43721_0_25_0_M&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-630841781628611413?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/630841781628611413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/630841781628611413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/siapa-sebenarnya-yang-mengajarkan.html' title='Siapa Sebenarnya Yang Mengajarkan Kekerasan dan Radikalisme?'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-5285899611523353984</id><published>2009-11-25T17:45:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T19:09:34.529-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad - Jangan Nodai Keagungan Jihad'/><title type='text'>Jangan Nodai Keagungan Jihad</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Written by Shodiq Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad, sebagai bagian dari ajaran syariah Islam memang kerap kali mendapatkan serangan dan tuduhan dari musuh-musuh Islam. Seringkali jihad diidentikkan dengan aksi-aksi terorisme. Akibatnya, Islam digambarkan menjadi sebuah agama yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman. Untuk itulah perlu dilakukan upaya pelurusan terhadap makna jihad. Ini dimaksudkan agar keagungan ajaran jihad tidak ternodai dan supaya umat Islam, termasuk para ulamanya tidak terjebak pada stigma-stigma negatif yang dilancarkan oleh musuh-musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana shalat, zakat, haji dan ibadah lainnya, jihad adalah bagian dari ajaran Islam. Jihad bahkan termasuk di antara kewajiban dalam Islam yang sangat agung, yang menjadi 'mercusuar' Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhîth, kata ja-ha-da.) Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An-Naysaburi, Tafsîr an-Naysâbûrî, XI/126).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam pengertian syar‘î (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut dengan jihad. (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, Hâsyiyah Ibn Abidin, III/336).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. (Lihat Muhammad Husain Haikal, Al-Jihâd wa al-Qitâl. I/12). Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa' 4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4). Bahkan jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang pelakunya akan meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat. (Lihat, misalnya: QS an-Nisaa’ [4]: 95; QS an-Nisa’ [4]: 95; QS at-Taubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS al-Hujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah mencela dan mengancam orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]: 38-39; QS al-Anfal [8]: 15-16; QS at-Taubah [9]: 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, kapan dan dimana jihad dalam pengertian perang itu dilakukan? Pertama: manakala kaum Muslimin atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina yang dijajah Israel. Inilah yang disebut dengan jihad defensif (difâ‘î). Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim (lihat QS. Al Baqarah [2]: 190).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: manakala ada sekelompok komunitas Muslim yang diperangi oleh orang-orang atau negara kafir. Kaum Muslim wajib menolong mereka. Sebab, kaum Muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Karena itu, serangan atas sebagian kaum Muslim pada hakikatnya merupakan serangan terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu pula, upaya membela kaum Muslim di Afganistan, Irak atau Palestina, misalnya, merupakan kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia (lihat QS al-Anfal [8]: 72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Daulah Islam (Khilafah) dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah adalah seruan pemikiran, non fisik. Manakala dihalangi secara fisik, wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan rintangan-rintangan fisik yang ada di hadapannya di bawah pimpinan khalifah. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (hujûmî). Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi tegaknya kalimat-kalimat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jihad ofensif itulah Islam tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam penyebaran dakwah Islam oleh negara (Daulah Islam) (lihat QS al-Baqarah [2]: 193).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keagungan Jihad Tak Boleh Dinodai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana paparan di atas, jihad adalah amal yang agung. Imam an-Nawawi, dalam Riyâdh ash-Shâlihîn, membuat bab khusus tentang jihad. Beliau antara lain mengutip sabda Nabi saw., sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Hurairah: Rasulullah saw. pernah ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Jawab Nabi, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau diitanya lagi, "Kemudian apa?" Jawab Nabi, "Perang di jalan Allah." Beliau ditanya lagi, "Kemudian apa?" Jawab Nabi, "Haji mabrur." (HR al-Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa dalam hadis tersebut (atau yang serupa) perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) adalah amal yang paling utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 5/149).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sudah selayaknya kaum Muslim menjaga keagungan jihad ini dari siapapun yang berusaha menodai dan merendahkannya, baik karena ketadaktahuannya, ataupun karena kedengkiannya (seperti yang dilakukan Barat kafir penjajah) terhadap aktivitas jihad. Sebab, di samping makna jihad telah diterapkan dengan kurang tepat, keagungan jihad juga telah sengaja direndahkan oleh Barat kafir imperialis. Barat, misalnya, telah lama menyebut Islam sebagai agama 'barbarian' hanya karena mengajarkan jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Bush bahkan menyebut Islam sebagai agama radikal dan fasis, sementara mantan PM Inggris Blair menjuluki Islam sebagai 'ideologi Iblis'; juga antara lain karena faktor jihad. Colin Powell saat menjadi menteri luar negeri AS juga pernah mengatakan, "Jika mereka hanya mengirim generasi muda ke madrasah, sekolah itu tidak melakukan apa-apa, tetapi mengindoktrinasi mereka dalam aspek-aspek buruk. Mengajarkan kebencian tidak akan membawa perdamaian bagi kita semua di kawasan ini.” (Media Indonesia, 23/1/2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Semua itu tidak lain sebagai bentuk propaganda mereka agar kaum Muslim menjauhi aktivitas jihad. Sebab, bagaimanapun Barat menyadari bahwa jihad adalah ancaman tersebar bagi keberlangsungan mereka atas Dunia Islam. Karena itu, Barat bahkan berusaha agar jihad dihilangkan dari ajaran Islam. Hal itu antara lain diwujudkan dengan upaya Barat untuk memaksakan kurikulum pendidikan sekuler ke madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, atau lembaga-lembaga pendidikan Islam karena selama ini lembaga-lembaga tersebut dianggap mengajarkan kekerasan dan memproduksi 'para teroris'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, kaum muslimin harus mewaspadai setiap upaya dari Barat kafir penjajah yang berusaha memanipulasi bahkan menghapuskan ajaran dan hukum jihad dari Islam demi kepentingan politik mereka. Oleh karena itu wajib bagi para ulama untuk tetap dan terus mengajarkan ajaran jihad serta menyerukannya kepada umat untuk mempersiapkannya. Wallahu A’lam Bi Shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.suara-islam.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-5285899611523353984?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5285899611523353984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/5285899611523353984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/jangan-nodai-keagungan-jihad.html' title='Jangan Nodai Keagungan Jihad'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-6217201782041674569</id><published>2009-11-25T17:44:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T18:56:35.417-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasional - Papua - Kristen'/><title type='text'>Manokwari Godok Raperda Berbasis Injil</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pemerintah dan DPRD Kab Manokwari, Provinsi Irian Jaya Barat, sedang memfinalisasi rancangan peraturan daerah (raperda) pembinaan mental dan spiritual berbasis Injil. Raperda yang dimunculkan kali pertama pada 7 Maret 2007 itu dinilai merugikan pengembangan agama lain di daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julukan Manokwari sebagai Kota Injil, kata Wakil Ketua DPRD Manokwari, Amos H May, baru sebatas wacana. Usulan raperda itu hanyalah pokok pikiran yang diusung unsur gereja dan sejumlah pakar. ''Bentuknya baru berupa pokok pikiran, bukan raperda karena tidak diusulkan eksekutif dan legislatif,'' ujar Amos saat dihubungi, Kamis (22/3). Namun, dia mengakui jika usul tersebut sudah masuk ke eksekutif. Walau, ada sejumlah pasal yang bertentangan dengan peraturan di atasnya, terutama terkait cara peribadatan. ''Hal bertentangan ini perlu dikaji, sehingga jika diberlakukan tidak menimbulkan konflik SARA,'' kata Amos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjanjikan, peraturan yang dibuat tidak akan menimbulkan perpecahan karena pada dasarnya setiap orang menginginkan kotanya baik. Sebagai awalan, minuman keras dan prostitusi akan dilarang. ''Peraturan ini untuk mewanti-wanti masyarakat supaya mengubah perilakunya.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara isi pasal raperda itu adalah melarang pemakaian busana Muslimah di tempat umum, melarang pembangunan masjid di tempat yang sudah ada gereja. Dibolehkan dibangun masjid atau mushala, asalkan disetujui tiga kelompok masyarakat (terdiri atas 150 orang) dan pemerintah setempat terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raperda juga melarang azan, dan membolehkan pemasangan simbol salib di seluruh gedung perkantoran dan tempat umum. ''Kami khawatir, raperda ini memunculkan kekerasan,'' kata Junaidi, warga Manokwari yang juga aktivis GP Anshor, belum lama ini di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan yang memecah kerukunan umat beragama di Ambon dan Poso, bisa terjadi di Manokwari jika Pemda dan DPRD setempat bersikukuh mengesahkan raperda itu. Kondisi demografis di Manokwari mirip dengan Ambon dan Poso. Menurut Junaidi, selisih penduduk non-Muslim dan Muslim di Manokwari tidak terpaut jauh. Sedangkan komposisi anggota DPRD, dari 25 anggota dewan, empat di antaranya Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, situasi masih damai dan tenang. ''Warga juga tak menghendaki raperda yang membuat hidup rukun kami jadi bermusuhan,'' kata Junaidi. Dari perspektif hukum, kata mantan ketua YLBHI, Munarman, raperda itu rancu dan diskriminatif terhadap raperda antimaksiat yang pernah diusulkan di beberapa daerah, tapi ditentang oleh LSM sekular. Bahkan, raperda antimaksiat itu dicap sebagai bentuk radikalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Padahal, raperda itu tak pernah melarang penganut agama selain Islam pergi ke tempat ibadah, atau menggelar ibadahnya,'' jelas Munarman. Raperda sejenis di Manokwari, menurut Ketua Harian KAHMI, Asri Harahap, menjadi bibit munculnya perpecahan. Semestinya, raperda ini tak diterbitkan karena hanya mengistimewakan satu agama saja. ''Butuh kearifan dari pemimpin daerah untuk tidak meletupkan perpecahan di tengah bencana yang bertubi-tubi menimpa bangsa Indonesia. Kami menyesalkannya,'' kata dia. tid/ren/(RioL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal Diskriminatif Reperda Manokwari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Butir 14 Ketentuan Umum: Injil sebagai kabar baik&lt;br /&gt;  * Pasal 25: Pembinaan mental memperhatikan budaya lokal yang menganut agama Kristen&lt;br /&gt;  * Pasal 26: Pemerintah dapat memasang simbol agama di tempat umum dan perkantoran&lt;br /&gt;  * Pasal 30: Melarang pembangunan rumah ibadah agama lain jika sudah ada gereja&lt;br /&gt;  * Pasal 37: Melarang busana yang menonjolkan simbol agama di tempat umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://swaramuslim.com/galery/papua/index.php?page=070323&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-6217201782041674569?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6217201782041674569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/6217201782041674569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/manokwari-godok-raperda-berbasis-injil.html' title='Manokwari Godok Raperda Berbasis Injil'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-4267392660770605723</id><published>2009-11-25T17:43:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T18:57:07.078-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasional - Papua - Kristen'/><title type='text'>Depdagri Didesak Cabut Raperda Kota Injil</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Keinginan Pemkab dan DPRD Manokwari menyusun rancangan peraturan daerah (raperda) pembinaan mental dan spiritual berbasis Injil ditolak berbagai kalangan. Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Siddiq, menilai usulan raperda itu bertentangan dengan aturan perundangan, khususnya UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. ''Di UU itu memang diatur tentang kekhasan daerah, tapi bukan yang berdasarkan agama,'' kata Mahfudz di Jakarta, Jumat (23/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai UU, kekhasan daerah yang disyaratkan hanya berdasarkan pada aspek kultural. Dengan mengangkat aspek agama menjadi landasan kekhasan, berarti melanggar UU. ''Kita akan minta supaya Depdagri menindaklanjuti masalah ini. Raperda tersebut harus dicabut,'' tegas Mahfudz yang juga anggota Komisi II DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Draf usulan raperda Manokwari, dinilai anggota DPR asal Fakfak, Irian Jaya Barat, Ali Mochtar Ngabalin, dapat memancing konflik SARA. ''Pelarangan memakai jilbab, misalnya, bisa membuat orang berkelahi atas nama agama,'' kata Ngabalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perda antimaksiat yang diterapkan sejumlah daerah, hanya mengatur ketertiban masyarakat, seperti pelarangan judi, minuman keras, dan prostitusi. Berbeda jauh dengan usulan raperda Manokwari yang mengatur kehidupan beragama serta membatasi kemerdekaan penganut satu agama. Raperda itu, kata Ketua Dewan Syariah PBNU, KH Ma'ruf Amin, sebenarnya sah-sah saja. Bahkan, dia tak keberatan dengan klausul larangan menggunakan pakaian yang mencerminkan simbol agama dan larangan pendirian tempat ibadah di dekat gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Asal Manokwari menjadi kota khusus yang tertutup, tidak menjadi ibu kota Provinsi Irian Jaya Barat,'' kata Ma'ruf. Namun, menjadikan Manokwari sebagai kota khusus yang tertutup adalah hal mustahil. ''Banyak pelayanan publik bisa terhalang,'' tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt Dr Richard M Daulay, mengatakan, sebuah kota harus terbuka dengan memberikan ruang publik yang luas. Tidak boleh ada perda yang hanya berlaku untuk satu etnis, agama, atau suku tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski, dia memahami keinginan Manokwari, karena merupakan gerbang pertama Injil di tanah Papua. ''Asal tidak menutup ruang publik sebagai ciri masyarakat,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua MUI, Umar Shihab, menyarankan Pemkab Manokwari mengganti istilah 'Kota Injil' yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Karena daerah lain bisa menuntut hal serupa.&lt;br /&gt;(yus/rto/ren/RioL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://swaramuslim.com/galery/papua/index.php?page=070324&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-4267392660770605723?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4267392660770605723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4267392660770605723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/depdagri-didesak-cabut-raperda-kota.html' title='Depdagri Didesak Cabut Raperda Kota Injil'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-4994485676036466654</id><published>2009-11-25T17:41:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T18:57:34.519-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasional - Papua - Kristen'/><title type='text'>Mendagri Harus Sikapi Raperda Injil</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Upaya Pemerintah Kabupaten dan DPRD Manokwari, Provinsi Irian Jaya Barat (Irjabar), menyusun rancangan peraturan daerah (Raperda) Kota Injil terus menuai kritik. Banyak kalangan menilai upaya itu sebagai mengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Besar FISIP Universitas Indonesia (UI), Prof Eko Prasojo, misalnya, menilai upaya itu merupakan bentuk pelaksanaan otonomi daerah (Otda) yang kebablasan. ''Perda seperti itu berpotensi menciptakan daerah yang tersekat-sekat berdasarkan agama, budaya atau suku,'' katanya kepada Republika, Sabtu (24/3). Menurut Eko, dalam semangat Otda, pembentukan sebuah Perda harus memenuhi azas homogenitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, sebuah peraturan tak boleh bertentangan dengan peraturan yang ada di atasnya. Eko juga mengingatkan, sebuah Perda yang disusun pemerintah daerah harus memenuhi asas fleksibilitas. Maksudnya, sebuah Perda tidak boleh menghalangi mobilitas orang lain untuk bisa hidup berdampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku sangat khawatir, bila pembentukan Kota Injil diwujudkan Pemkab Manokwari, maka daerah-daerah lain pun akan mengikuti hal serupa. ''Nanti Bali pun bisa-bisa menuntut hal yang sama, menjadikan daerahnya sebagai Kota Hindu,'' katanya. ''Akibatnya, daerah-daerah akan tersekat-sekat oleh agama, budaya dan suku. Kondisi itu bisa mengancam eksistensi NKRI.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, semangat Otda tak boleh menjadikan sebuah daerah lebih mementingkan perbedaan dari daerah lainnya. Otda seharusnya dijadikan sarana untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. ''Otda bukan berarti daerah bisa bebas tanpa batas,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Otda yang kebablasan itu, kata Eko, dipicu oleh lemahnya pengawasan dari pemerintah pusat. ''Dalam UU Pemerintahan Daerah No 22 Tahun 1999, pengawasan terhadap Perda bersifat preventif, namun dalam UU No 32 tahun 2004 pengawasan terhadap perda jadi bersifat represif,'' ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawasan yang bersifat preventif, menurutnya, memungkinkan pemerintah pusat mengkaji sebuah Perda sebelum diundangkan. Sedangkan pemerintah daerah saat ini bisa menetapkan perda tanpa harus dikaji pemerintah pusat terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Pemkab dan DPRD Manokwari menyusun Raperda Kota Injil itu telah mendapat penolakan dari berbagai kalangan. Fraksi PKS DPR RI malah menilai usulan itu bertentangan dengan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sementara, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) menilai tak boleh ada Perda yang hanya berlaku untuk satu etnis, agama atau suku tertentu. hri (RioL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendagri Harus Sikapi Raperda Injil&lt;br /&gt;JAKARTA -- Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Irgan Chairul Mahfiz, meminta Mendagri segera turun tangan dan memanggil Bupati dan Ketua DPRD Manokwari, Provinsi Irian Jaya Barat (Irjabar), terkait pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Kota Injil. Sebab, raperda tersebut mengandung unsur diskriminasi bagi umat Islam dengan melarang pemakaian jilbab dan mendirikan masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya berharap Mendagri bersikap tanggap dan responsif terhadap setiap persoalan yang meresahkan masyarakat,'' ujar Irgan kepada Republika, Ahad (25/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika raperda itu disahkan menjadi perda, lanjut Irgan, akan memberi dampak beruntun bagi daerah lain untuk melakukan hal yang sama. ''Akibatnya kerukunan hidup antarumat beragama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan terganggu,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, raperda tersebut terlihat sengaja dibuat untuk 'mengunci' ruang gerak umat Islam dalam melaksanakan kewajiban agamanya. Mereka tidak memperhitungkan komunitas Muslim yang ada dan lahir di Manokwari. (RioL)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-4994485676036466654?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4994485676036466654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/4994485676036466654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/raperda-kota-injil-otda-yang-kebablasan.html' title='Mendagri Harus Sikapi Raperda Injil'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-2967525520042705548</id><published>2009-11-25T17:40:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T18:52:04.062-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasional - Papua - Kristen'/><title type='text'>Manokwari Usung Perda Berbasis Injil</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pemkab dan DPRD Manokwari mengusung sebuah rancangan Perda (Peraturan Daerah) yang cukup kontro-versial. Perda terkait pembinaan mental dan spiritual ini berbasis Injil (Kitab Orang Kristen). Namanya juga cukup radikal, yakni Ranperda ‘Kota Injil’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu klausul dalam ranperda tersebut, adalah larangan menggunakan pa-kaian yang mencerminkan simbol agama dan adanya ju-ga pelarangan pendirian tem-pat ibadah lain di dekat ge-reja. Hal ini cukup mendapat respon sejumlah fraksi di DPRD Manokwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, tidak sedikit yang menyatakan penolak-annya. “UU itu memang di-atur tentang kekhasan dae-rah, tapi bukan yang berda-sarkan agama,’’ kata Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Siddiq seperti dilansir repu-blika.co.id, akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, sesuai UU, ke-khasan daerah yang disya-ratkan hanya berdasarkan pada aspek kultural. Dengan mengangkat aspek agama menjadi landasan kekhasan, berarti melanggar UU. ‘’Kita akan minta supaya Depdagri menindaklanjuti masalah ini. Raperda tersebut harus di-cabut,’’ tegas Mahfudz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan juga datang dari Anggota Komisi I, Ali Mochtar Ngabalin. Menurutnya, perda ini dapat memancing konflik SARA. ‘’Pelarangan memakai jilbab misalnya, bisa mem-buat orang berkelahi atas nama agama,’’ kata Ngabalin.&lt;br /&gt;Namun begitu, Ketua Dewan Syariah PBNU, KH Ma’ruf Amin mengatakan, Ranperda ‘Kota Injil’ itu sah-sah saja. Bahkan, dia tak keberatan dengan klausul larangan menggunakan pakaian yang mencerminkan simbol agama dan larangan pendirian tem-pat ibadah di dekat gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Asal Manokwari menjadi kota khusus yang tertutup, tidak menjadi ibukota Propin-si Irian Jaya Barat,’’ kata Ma’ruf. Namun, menjadikan Manokwari sebagai kota khu-sus yang tertutup adalah hal mustahil. ‘’Banyak pelayanan publik bisa terhalang,’’ tam-bahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt Dr Richard M Daulay menga-takan, sebuah kota harus terbuka dengan memberikan ruang publik yang luas. Tidak boleh ada perda yang hanya berlaku untuk satu etnis, agama, atau suku ter-tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, dia memahami keinginan Manokwari, kare-na merupakan gerbang per-tama Injil di tanah Papua. ‘’Asal tidak menutup ruang publik sebagai ciri masyara-kat,’’ katanya. Di sisi lain, Ke-tua MUI Umar Shihab menya-rankan Pemkab Manokwari mengganti istilah ‘Kota Injil’ yang berpotensi menimbul-kan perpecahan. Karena daerah lain bisa menuntut hal serupa.(rpb/hariankomentar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://swaramuslim.com/galery/papua/index.php?page=070326-b&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8903389268167624769-2967525520042705548?l=yasinalbarraq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2967525520042705548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8903389268167624769/posts/default/2967525520042705548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yasinalbarraq.blogspot.com/2009/11/manokwari-usung-perda-berbasis-injil.html' title='Manokwari Usung Perda Berbasis Injil'/><author><name>***</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06669204620863335011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8903389268167624769.post-2675246846451320302</id><published>2009-11-25T17:39:00.000-08:00</published><updated>2010-06-13T18:53:21.867-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasional - Papua - Kristen'/><title type='text'>Usir Misionaris Asing dari Bumi Papua</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tokoh Islam Papua menuding, para misionaris asing penyebab ide rancangan peraturan daerah (raperda) berbasis Injil yang akan melarang jilbab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Islam terkemukan asal Papua, Ustad Fadzlan Rabbani Al-Garamatan (40) meminta pemerintah mengusir para misionaris asing yang kini banyak tersebar di bumi cenderawasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap keras pria bernama lengkap M. Zaaf Fadzlan Rabbani Al-Garamatan ini menyusul dengan gagasan pemerintah dan DPRD Kabupaten Manokwari, Propinsi Irian Jaya Barat yang kini sedang menggodok rancangan peraturan daerah (raperda) pembinaan mental berbasis Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, beberapa saat yang lalu, sebuah harian Nasional Ibu Kota, Jum'at (23 Maret 2007) kemarin mengungkap raperda yang dimunculkan oleh pihak gereja dan sejumlah pakar setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pasal dari raperda yang sempat menjadi sorotan adalah larangan menggunakan pakaian busana yang menonjolkan simbol agama di tempat umum, larangan membangun tempat ibadah jika sudah ada gereja, dibolehkannya pemasangan symbol salib di seluruh gedung perkantoran dan tempat umum, pembinaan mental memperhatikan budaya lokal yang menganut agama Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fadzlan, selain adanya banyak unsure pembohongan sejarah terorganisir, reperda ini dikawatirkan berpotensi menjadikan Papua pecah sebagaimana kasus Poso dan Ambon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Yayasan Al-Fatih Kaafah Nusantara (AFKN) ini, komposisi antara Islam dan Kristen di bumi Papua jumlah tak jauh berbeda. Lagi pula, Islam, memiliki sejarah panjang ratusan tahun, lebih dahulu di banding agama lain. Karenanya, ia menganggap raperda ini sangat bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fadhlan, hubungan Islam dan Kristen sejauh ini tak ada masalah. Bahkan itu sudah terjalin selama ratusan tahun. “Islam adalah agama pertama yang mengantarkan Pendeta Cw Otto GJ. Geissler , misionaris pertama yang masuk Papua pada tahun 1855”, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sudah berada di Irian sejak abad ke-12, di bawah pengaruh beberapa kerajaan. Diantaranya, Syei
